4 Penguasa Kampus

4 Penguasa Kampus
Berhasil


__ADS_3

Akhirnya pak Rudy berunding dengan para warga. Dia sungguh meyakinkan warga semua supaya tidak menikahkan Aaron dan Airin karena jika tidak dia akan dipecat oleh papa Daffa.


"Kalian tau Anderson grup?" tanya pak Rudy


"Tau, tempat kamu bekerja itu kan. Yang selalu kamu banggakan karena perusahaan itu memberikan gaji yang banyak," jawab Pak RT dengan menatap pak RW.


"Ya iya dong pak RT, gajinya besar sekali bekerja di Anderson corp.


Pak Rudy terkekeh, memang betul yang dikatakan Pak RT kalau dia sungguh bangga sekali kerja di Anderson grup. Selain perusahaan yang besar, pemilik Anderson grup juga sangat ramah. Papa Daffa memang berbeda dengan bos pada umumnya, dia lebih mengorangkan karyawannya, karena hal inilah banyak karyawan yang menyukainya.


"Dan kamu tau tidak kalau pak Daffa itu pemiliknya," kata Pak Rudy yang membuat semua membuka mulutnya.


Semua mata tertuju pada papa Daffa, nampak raut wajah tidak enak tapi bagaimana lagi aturan tetap aturan yang harus dilaksanakan. Meskipun anak presiden tapi kalau melanggar norma-norma yang berlaku tetap harus dihukum.


"OMG, ternyata anak yang kita grebek adalah anak seorang konglomerat," sahut warga.


"Iya, apa kalian masih ingin menikahkan mereka?" tanya Pak Rudy


"Masih dong, kita itu menjunjung tinggi norma-norma yang berlaku pak, pendirian kamu tetap teguh yaitu ingin menikahkan mereka," kata warga dengan yakin.


Pak Rudy menatap warganya semua, kalau sampai dia tidak berhasil matilah dia, karena pengangguran akan di depan mata.


"Kalian tau nggak kalau pak Daffa akan memberikan kita kompensasi atas kesalahan anaknya," kata Pak Rudy mulai melancarkan jurus bibir luwesnya.


"Memangnya berapa? kalau seratus dua ratus ogah buat jajan di warung saja habis," jawab warga lain


"Iya, pendirian kamu tetap teguh pak RW. Mereka harus segera dinikahkan titik." Warga tetap bersikeras


"Sembarangan uang kompensasi lebih besar dari UMK kalian," sahut pak Rudy.


Semua warga menatap pak Rudy, otak mereka traveling membayangkan kompensasi yang lebih besar dari gaji mereka bahkan ada diantara mereka gajinya tak sampai UMK.


"Memangnya berapa pak?" tanya warga


"Setiap warga diberi uang kompensasi sebesar lima juta, penawaran langka lo, setelah kita menikahkan mereka bisa saja mereka langsung bercerai karena kembali lagi nikah di bawah tangan itu nggak mengikat, dan kita tidak mendapatkan apa-apa," Pak Rudy mulai menghipnotis warganya supaya menerima uang kompensasi saja lumayan kan dapat uang lima juta.


Warga kini nampak berunding sendiri di luar pak RW,

__ADS_1


"Bagaimana ini, kita memang harus menjunjung nilai norma-norma yang ada, tapi uang kompensasinya menggiurkan," kata Pak RT


"Betul, perut lebih penting," sahut warga lainnya.


"Aku kok jadi galau begini. Kita terima kompensasi atau menikahkan anak pak Daffa," timpal lainnya.


"Begini-begini kita ini kan pengurus komplek kita ini, masalah seperti ini jangan dianggap remeh tapi isi dompet kita lebih penting dari segalanya," kata warga lain yang membuat semua warga melemparkan tatapan mautnya, bisa-bisanya ngomong sok kalau ujung-ujungnya menerima kompensasi.


Akhirnya kini mereka memutuskan untuk menerima kompensasi dan melupakan masalah ini.


Mereka kini bergabung dengan pak RW kembali, mereka mengungkapkan keinginan mereka untuk melupakan masalah ini.


"Jadi begini pak, kami berniat untuk melupakan masalah ini, mungkin memang mereka tidak melakukan hal senonoh, mengingat katanya Aaron menunggui Airin karena sakit dan fobia petir, jadi ini semua akan kami jadikan maklum," kata warga yang membuat pak RW ingin nabok.


"Baiklah sudah deal ya," timpal Pak RW.


Airin sungguh bingung, bagaimana kalau mereka tetap bersikeras, tak hanya Arsen dia akan menyakiti orang tuanya.


Papa Daffa kini memeluk mama Putri sedangkan Aaron memeluk Airin, Aaron mencoba menguatkan Airin.


Tak berselang lama pak Rudy menghadap papa Daffa dan bilang kalau para warga setuju dengan kompensasi yang papa Daffa tawarkan.


"Siap pak bos," timpal Pak Rudy


Pak Rudy seperti setrika yang mondar-mandir kesana kemari penghubung antara warga dan papa Daffa.


"Bubar gerak, lebih baik kita tidur dan membayangkan rejeki nomplok besok, dan jangan lupa Minya service istri masing-masing ya," seloroh pak Rudy.


Setelah warga pulang pak Rudy juga pamit pulang.


Rencananya papa Daffa akan memberikan uangnya besok. Dan kini di rumah Airin hanya ada mama dan papa Aaron serta Aaron.


"Akhirnya kelar masalah," kata papa Daffa yang lalu memeluk mama Putri


Papa Daffa mengecup kening istrinya berkali-kali dan ini membuat Aaron tersenyum.


"Jiwa jomblo aku meronta," kata Aaron lalu melirik Airin.

__ADS_1


"Peluk," seloroh Aaron dengan membuka tangannya dan Airin segera memeluk Aaron, bukan pelukan sayang pada pasangan melainkan pelukan sayang pada sahabat.


Karena besok harus bekerja papa Daffa mengajak istri dan anaknya pulang.


"Kamu nggak apa-apa kan om tinggal sendiri, ini sudah larut sekali bahkan sudah dini hari," kata papa Daffa


"Nggak apa-apa om, terima kasih ya om dan tante. Maaf merepotkan," sahut Airin.


"Iya nggak apa-apa," timpal mama Putri.


Sebenarnya Aaron enggan untuk pulang karena dia sungguh kasian dengan Airin, Kondisi Airin masih sakit dan dia harus sendiri. Kalau ada apa-apa bagaimana?


"Aaron nggak tega pa, ma ninggal Airin," kata Aaron yang mengejutkan mama dan papanya.


Dia sudah dibebaskan dari gerombolan piranha yang hampir saja menyerangnya sekarang malah bikin ulah lagi dengan bermalam di rumah Airin.


"Kamu jangan cari gara-gara Aaron, papa sudah membujuk mereka untuk tidak menikahkan kalian jadi jangan macam macam, jangan melakukan hal yang membuat warga berpikiran kalau kamu ada hubungan dengan Airin.


Dengan berat hati Aaron ikut mama dan papanya pulang, "Maafkan aku karena tidak bisa menemani kamu," kata Aaron


"Nggak apa-apa, lagian bentar lagi udah mau subuh," sahut Airin dengan terkekeh.


"Masih tiga jam lagi," timpal Aaron.


Airin tersenyum dan kini waktunya Aaron pulang, Arini melambaikan tangannya dan masuk ke dalam rumah. Airin merebahkan tubuhnya di tempat tidur dan mencoba memejamkan matanya.


Dia sungguh tak bisa membayangkan bagaimana jika tadi dia menikah dengan Aaron.


Tepat pukul tiga Airin bisa benar-benar tidur setelah selama kurang lebih satu jam otaknya pergi kemana-mana tak jelas membayangkan yang tidak tidak.


Pagi datang dengan cepat, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.


Arsen yang fit pergi ke rumah Airin, semalam dia galau. Dia merasakan kalau Airin sedang tidak baik-baik saja.


Begitu kalau orang memiliki perasaan yang kuat, bisa merasakan apa yang pasangannya rasakan.


Kini Arsen sudah sampai di rumah Airin, dia mengetuk pintu rumah Airin dan beberapa saat kemudian Airin membukakan pintu dia langsung saja memeluk Arsen.

__ADS_1


"Arsen!"


__ADS_2