4 Penguasa Kampus

4 Penguasa Kampus
Datang menjenguk


__ADS_3

Mama dan papa Arsen menggelengkan kepala, sebesar itukah cinta Arsen pada Airin hingga saat sakit dia masih memikirkan Airin?


"Iya iya nggak papa potong, kalau kamu sakit hati baru papa potong," kata papa Sean.


"Arsen nggak sakit hati pa, ini beneran sakit," sahut Arsen.


"Ya sudah sekarang mikir kesembuhan kamu jangan mikir Airin dulu. Biar Airin mama dan papa yang gantiin mikir," ucap mama Arini.


Tok tok tok


Terdengar pelayan mengetuk pintu,


"Masuk," suruh Arini


Pelayan tersebut masuk dengan membawa sarapan untuk Arsen.


"Letakkan saja di meja," titah mama Arini.


"Arsen sarapan dulu ya?" tanya mama Arini


"Nanti saja ma, Arsen minum susu saja," jawab Arsen.


Tak berselang lama A4 lainnya datang, mereka sangat kaget melihat mama dan papa Arsen, berada dalam kamar Arsen.


"Arsen kenapa om?" tanya Arcelo


"Kena omicron cinta," jawab papa Sean asal.


"Oooo gejalanya apa saja om, apa meriangin juga. Merindukan kasih sayang Airin," sahut Arthur dengan tertawa.


"Brengsek, dasar teman laknat kalian," umpat Arsen


"Padahal hanya Arthur lo, kenapa aku dan Arcelo diikutkan," protes Aaron.


"Ya sudah temani dulu teman kalian, om mau berangkat dulu," ujar papa Sean lalu mengajak mama Arini keluar.


Sebelum keluar mama Arini berpesan kalau Arsen harus menghabiskan sarapannya kemudian minum obat karena dokternya akan telat datang.


A4 duduk di ranjang mengelilingi Arsen yang sakit, melihat ketua geng mereka nggak masuk kuliah membuat mereka semua malas datang ke kampus.


"Karena kamu sakit jadi kami akan menjaga kamu Arsen," kata Aaron


"Kalian nggak kuliah?" tanya Arsen


"Nggak, kalau nggak ada kamu kurang lengkap rasanya meski di kampus kamu selalu sama pesek itu," jawab Arthur


Mendengar jawaban dari Arthur membuat Arsen terkekeh.


"Maklum guys lagi Jero-jerone," sahut Arsen


"Seperti lirik lagu saja," timpal Arcelo


"Lagu apa sih?" tanya Aaron.


"Dalan liyane," jawab Arsen.


Mereka berempat akhirnya bercanda gurau, dan itu membuat Arsen melupakan sakit yang sekarang dideritanya.


Tak berselang lama Mama Arini datang dengan dokter dan mama Arini meminta dokter untuk segera memeriksa anaknya.

__ADS_1


"Apa keluhan anda?" tanya dokter


"Meriangin dok," jawab Arthur


Seketika mama Arini melemparkan kepalan tangannya pada Arthur, dokter bertanya serius malah diajak bercanda.


"Mampus," bisik Arcelo


Arthur hanya terkekeh, kemudian dia memalingkan wajah dari mama Arini.


"Sakit kepala dok, panas tapi badan kedinginan," jawab Arsen.


"Apa semalam mandi malam?" tanya Dokter lagi


"Seperti biasa dok, mandi jam 8," jawab Arsen


"Pakai air hangat apa dingin?" tanya Dokter lagi


"Air es dok," jawab Arsen.


Mendengar jawaban Arsen membuat semua membolakan mata


"What?" kata semua orang yang berada di kamar Arsen.


Arsen terkekeh, "Emang cari masalah ni bocah, kamu hutang penjelasan sama mama Arsen," kata mama Arini dengan kesal.


"Ok ma," sahut Arsen


Seusai memeriksa Arsen, dokter menjelaskan kalau Arsen sakit memang karena mandi air es malam malam, tentu itu sangat tidak dianjurkan. Mandi malam saja tidak dianjurkan apalagi mandi malam dengan air es.


Dokter memberikan resep pada mama Arini, dengan diminum teratur pasti cepat sembuh.


Seusai memberikan resep dokter pamit undur diri, mama Arini yang merasa lelah dengan kehamilannya yang besar menyuruh Arcelo untuk meminta sopir supaya menebus obat di apotek.


"Mama kenapa?" tanya Arsen dengan raut wajah yang cemas, lalu Arsen beranjak dari tempat tidurnya dan mendekati mamanya.


"Nggak papa Arsen, cuma punggung mama agak sakit," jawab mama Arini.


"Apa adik bayi mau lahir?" tanya Arsen


"Belum waktunya sayang," jawab mama dengan tertawa.


Arsen yang merasa kasihan dengan mamanya mendekatkan bibirnya di perut Mama Arini.


"Adik, jangan nakal ya. Kasian mama," kata Arsen lalu mencium perut mamanya.


Mama Arini nampak tersenyum, meskipun Arsen suka marah-marah namun hatinya selembut kapas dan dia tipe lelaki penyayang.


Mama Arini lalu memeluk anaknya dia menciumi wajah Arsen.


"Kamu tau nggak, saat kamu beranjak dewasa mama itu takut kalau nanti setelah menikah kamu pergi dari rumah ini," kata Mama dengan mata yang basah.


"Nggak ma, Arsen akan selalu bersama mama dan papa. Kalau pun nanti menikah Arsen akan tetap tinggal dengan mama dan papa serta adik Arsen," ucap Arsen.


"Makasih sayang, i love you more," sahut mama Arini


"Makasih juga ma, i love you more more more and more," timpal Arsen yang membuat mama Arini mencubit hidungnya yang mancung.


A4 yang melihatnya jadi terharu, "Ni tisu," kata Aaron lalu menyodorkan tisu pada Arthur

__ADS_1


"Apaan sih kamu Aaron," sahut Arthur dengan kesal.


Mama Arini pamit untuk kembali ke kamar,


"Mama pamit ke kamar dulu ya," kata mama


"Iya ma, oh ya ma, kalau diajak papa main panjat panjatan jangan mau, kasian dedek bayinya kalau terus-terusan disodok rudal papa, yang ada nanti adiknya ngambek dan yang susah mama kan," pesan Arsen


"Ok bos," sahut mama dengan tertawa lalu keluar kamar Arsen, saat mama keluar Arcelo masuk.


Di sisi lain, Airin nampak cemas. Karena dia tidak melihat batang hidung A4, dia pergi ke kantin khusus namun tidak ada, dia pergi ke rooftop hingga taman belakang namun dia tidak menemukan A4.


Terakhir Airin pergi ke parkiran khusus A4 namun tidak ada mobil mereka.


"Tumben nggak masuk," gumam Airin.


Entah apa yang Airin rasakan, dia merasa resah saat tidak bertemu Arsen.


Airin mencoba menghubungi Arsen namun nomor Arsen berada dalam luar jangkauan.


Kemudian Airin menghubungi Aaron,


"Halo Airin," kata Aaron di seberang panggilan


"Halo Aaron, kenapa A4 nggak masuk?" tanya Airin


"Arsen sakit," jawab Aaron.


Arsen yang tau kalau Airin menghubungi Aaron menjadi cemburu, dia bahkan mengomel tak jelas, tiba-tiba dia bad mood.


"Ya sudah Aaron, terima kasih," sahut Airin lalu memutuskan sambungan teleponnya.


**********


"Pacar apaan, kekasihnya sakit malah menghubungi orang lain," omel Arsen


"Memangnya ponsel kamu mana?" tanya Arcelo


"Iya ya mana," jawab Arsen lalu dia mencari ponselnya dan ternyata ponselnya berada di bawah bantal dengan posisi mati.


"Ponsel aku mati," kata Arsen dengan terkekeh


"Memang minta ditabok," sahut Arthur.


Aaron hanya menggelengkan kepala, dia tidak begitu menanggapi Arsen karena memang Arsen seperti itu.


Waktu terus berputar, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas, A4 pun pamit pada Arsen karena sebenar lagi waktunya untuk bekerja.


"Nanti sepulang kerja kami kesini lagi, Ok!" kata Arthur


"Ok guys," sahut Arsen.


Di kampus Airin sangat menghawatirkan Arsen, dia kemudian pergi ke rumah Arsen.


Airin meminta ijin satpam untuk bertemu Arsen dan satpam langsung membukakan pagar.


Setelah di depan rumah Arsen Airin memencet bel dan pelayan Arsen yang membukakan pintu.


"Maaf saya teman Arsen," kata Airin

__ADS_1


Pelayan tersebut meminta Airin menunggu sebentar lalu dia naik ke atas untuk lapor ke Arsen dan Arsen meminta pelayan untuk membawa masuk ke kamarnya.


"Temanku siapa ya?"


__ADS_2