4 Penguasa Kampus

4 Penguasa Kampus
Ungkapan perasaan


__ADS_3

Beberapa episode terakhir


"Feb,aku nggak bisa berenang," kata Arcelo dengan tubuh dengan sesekali muncul ke permukaan.


Febri memucat, karena dia juga nggak bisa berenang.


Tanpa pikir panjang Febri langsung terjun, dia pun melakukan hal yang sama dengan Arcelo, Febri melambaikan tangannya, Arcelo tertawa melihat Febri, karena dia bisa nge prank Febri.


"Arcelo tolong! aku nggak bisa berenang," kata Febri Arcelo segera menghampiri Febri dan menariknya, dia membawa Febri ke atas,


"Feb, maafkan aku Feb, please bangun!" kata Arcelo


Karena nggak bangun Arcelo memberikan nafas buatan pada Febri, dia membuka kancing baju Febri sehingga dadanya nyaris terekspos.


Arcelo menekan dada Febri dan memberikan nafas buatan berkali-kali,


"Febri please, maafkan aku," kata Arcelo dengan cemas plus khawatir tingkat dewa.


Arcelo memberikan nafas buatan lagi dan akhirnya Febri sadar dengan terbatuk-batuk mengeluarkan air yang tertelan.


"Bodoh! kalau nggak bisa berenang kenapa masuk air?" maki Arcelo


"Aku hanya ingin menolong kamu Arcelo, mana mungkin aku membiarkan kamu tenggelam, sedangkan aku hanya diam melihat kamu," sahut Febri


"Aku hanya pura-pura Feb," timpal Arcelo nggak enak


"Mana aku tau, yang aku tau kamu melambaikan tangan dan meminta pertolonganku," kata Febri


"Kenapa kamu mau mau membahayakan nyawa kamu demi menolong aku Feb?" tanya Arcelo


"Karena aku mencintai kamu Arcelo, aku sungguh mencintai kamu," jawab Febri


Arcelo lalu memeluk Febri, "Maafkan sikap kekanak Kanakan aku Feb, aku tidak memikirkan dampaknya, jika hal buruk terjadi padamu, aku harus mencari kamu kemana." Arcelo sungguh menyesal


"Sudahlah Arcelo yang penting saat ini aku baik-baik saja," kata Febri


"Iya, aku mencintai kamu Feb," sahut Arcelo


"Ulangi lagi Arcelo," pinta Febri


"Aku mencintai kamu Feb," kata Arcelo


Arcelo melepaskan pelukannya, lalu dia berdiri di ujung jembatan dan berteriak


"Febri, I love you,"


Febri ikut berdiri lalu memeluk Arcelo dari belakang


"Terima kasih Arcelo," kata Febri.

__ADS_1


Kini mereka berdua saling berpelukan dan Arcelo juga melabuhkan bibirnya di bibir Febri.


Mereka berciuman dan berpaut cukup lama, mereka berdua benar-benar dimabuk asmara.


"Danau dan para penghuninya menjadi saksi cinta kita Arcelo," kata Febri


"Iya, semoga cinta kita langgeng," sahut Arcelo


"Amin," timpal Febri.


Mereka berdua menghabiskan waktu bersama di danau.


Di sisi lain, Arsen dan Airin berdua di taman samping kampus, mereka menikmati semilir angin di bawah pohon rindang.


"Sayang, maafkan aku ya," kata Arsen


"Minta maaf untuk apa?" tanya Airin


"Atas sikap aku ke kamu," jawab Arsen


"Awalnya aku nggak nyaman dengan sikap kamu yang suka memaksakan kehendak padaku tapi lama-lama aku terbiasa akan hal itu, dan kalau kamu nggak maksa dan marah aku merasa ada yang kurang," sahut Airin


"Benarkah?" tanya Arsen


"Iya, dan aku benar-benar jatuh cinta padamu Arsen," jawab Airin.


"Makasih ya sayang, berjanjilah padaku, kalau kamu nggak akan minta putus lagi seperti kemarin, berjanjilah padaku kalau kamu akan selalu di sisiku. Jika suatu saat kita sudah dewasa dan suatu keadaan membuat kita terpisah, berjanjilah kamu akan selalu menungguku," pinta Arsen


"Pasti sayang, pasti." Arsen berkali-kali mengecup Airin.


Tak jauh dari tempat mereka berdua, Raisa menatap mereka dengan perasaan sakit. Arsen adalah lelaki yang amat dia sayangi dari dulu, bisa dibilang kalau Arsen adalah cinta pertamanya.


"Apa kelebihan Airin, Arsen. Hingga kamu begitu mencintainya," kata Raisa dengan air mata yang jatuh.


Tak jauh dari tempat Raisa, Arthur menatap Raisa dengan rasa sakit juga, menurut Arthur Raisa itu bodoh, kenapa masih saja mencintai Arsen yang jelas-jelas Arsen tidak mencintainya.


Asik melamun sebuah tangan menepuk pundak Arthur, siapa lagi kalau bukan Aaron.


"Kamu mencintainya?" tanya Aaron


Arthur nampak diam, dia malu jika harus berterus terang pada Aaron, secara Arthur dan Arcelo kan terkenal playboy.


"Diam kamu bearti iya Arthur," kata Aaron.


Arthur hanya diam, dia juga tidak bisa menyangkal perasaannya namun dia juga malu untuk mengakuinya.


"Menurut kamu, dapatkah dia merasakan, perasaan yang aku punya Aaron, satu nafas yang tersimpan untuknya?" tanya Arthur


Aaron tersenyum menanggapi pertanyaan Arthur.

__ADS_1


"Kalau kamu nggak mengungkapkannya bagaimana dia bisa tau Arthur," jawab Aaron.


"Aku tak sanggup Aaron, aku terlalu takut untuk mengungkapkannya," sahut Arthur


"Wajar, aku juga begitu. Aku terlalu takut mengungkapkan perasaanku hingga kini aku diselimuti penyesalan," timpal Aaron


"Untuk Airin atau kak Keira?" tanya Arthur


"Kak Keira tidak pernah mencintaiku, dia hanya menganggap aku ini adik, sikap manisnya hanya pelampiasan saja," jawab Aaron.


"Aku kira dia juga mencintai kamu," sahut Arthur


"Kini aku menyesal kenapa dulu aku menyia-nyiakan perasaan Airin padaku, tapi aku senang karena cinta Arsen jauh lebih besar dari cinta aku," timpal Aaron


"Ketika asmara itu datang, dia merenggut nafas di jiwa dan hadirkan cinta yang menyebar ke dalam rasa. Jika tidak diungkap dia bagai toxid yang akan membuat kita merasakan rasa sakit dan sesal," imbuh Aaron.


Arthur nampak diam, dia mencerna kata-kata Aaron. Dia cukup takut jika suatu saat dia menyesal seperti Aaron.


"Menurut kamu, dapatkah aku mengatakannya Aaron, mengatakan perasaanku padanya?" tanya Arthur


"Kenapa kamu malah bertanya padaku Arthur, kalau menurut aku lebih baik kamu ungkapkan saja perasaan kamu sehingga kamu tau jawaban darinya," jawab Aaron.


"Gitu ya Aaron," sahut Arthur


"Iya, Good luck Arthur," timpal Aaron dengan menepuk bahu Arthur lalu pergi.


Arthur kini memberanikan diri mendekati Raisa yang sedari tadi menangis, Arthur menyodorkan tisu untuk Raisa.


"Hapus air mata kamu Raisa," kata Arthur yang membuat Raisa kaget.


Sontak dia mengusap air matanya.


"Aku nggak nangis kenapa kamu menyuruhku untuk menghapus air mataku?" tanya Raisa


"Mata kamu terlihat merah, kamu masih bisa mengelak?" jawab dan tanya Arthur


"Aku nggak ngelak," jawab Raisa


"Gak jago banget berbohong," sahut Arthur dengan terkekeh.


Raisa tampak berdecak kesal, dia kesal sekali dengan Arthur, dari dulu Arthur selalu menggodanya.


"Apa kamu masih belum move on dari Arsen?" tanya Arthur


"Belum, mungkin ini memang jalan takdirku Arthur, mengagumi Arsen tanpa dicintai. Dari dulu aku mencoba berbagai cari supaya dia melirikku namun tetap saja Arsen tidak mencintaiku," jawab Raisa nanar.


Reflek Raisa meletakkan kepalanya di bahu Arthur, dia menangis lagi, betapa sesaknya cinta yang tak terbalaskan.


"Raisa," panggil Arthur

__ADS_1


"Iya," sahut Raisa


"Dapatkah aku memelukmu, menjadikan kamu bintang di surgaku? aku janji akan memberimu warna yang bisa menjadikan kamu indah,"


__ADS_2