
Arsen mengungkung tubuh Airin dan langsung melahap bibir mungilnya.
Mereka berdua saling berpaut dan saling memburu hingga keduanya kehabisan pasokan oksigen.
"Sudah Arsen nanti lagi," kata Airin lalu menjauh dari tubuh Arsen.
Arsen terkekeh mendengar kata-kata Airin, "Janji nanti lagi ya," goda Arsen
"Eh nggak eh iya, duh!" Airin bingung sendiri.
Arsen lalu mengecup pipi Airin lalu keluar kamar. Dia minta ijin untuk mandi karena tubuhnya gerah sekali.
"Tapi kamar mandi aku jelek lo Arsen," kata Airin
" Nggak papa lagian aku sudah menduganya," sahut Arsen.
Airin mengantar Arsen ke depan kamar mandi, meskipun nggak sebagus kamar mandinya, kamar mandi Airin cukup bersih.
Arsen mulai membasahi kepalanya dia juga menggunakan shampo untuk mencuci rambunya.
Namun saat hendak membilas rambutnya terjadi pemadaman listrik.
"Sayang, kenapa airinya mati?" tanya Arsen sambil berteriak.
Airin yang samar-samar mendengar teriakan Arsen datang mendekat.
"Maaf Arsen terjadi pemadaman listrik," jawab Airin.
"Lalu nasib rambut aku gimana? apa tidak ada air lain?" tanya Arsen
"Di timba ada airnya gak?" tanya Airin
Arsen mulai meraba-raba timba yang dimaksud Airin namun timba tersebut kosong.
"Kosong," teriak Arsen.
"Terus gimana dong Arsen?" tanya Airin
"Entah sayang, Aku pinjami handuk kamu," jawab Arsen
"Mana bisa, handuk aku cuma satu," ucap Airin
"Ya itu pinjamkan padaku, kamu pelit sekali dengan aku sayang," teriak Arsen.
Dengan kesal, Airin mengambil handuknya dan memberikannya pada Arsen.
Arsen menggunakan handuk Airin untuk menutup bagian terlarangnya.
Arsen keluar dengan busa dan sabun yang menempel di kepala dan tubuhnya.
"Sayang bantu dong, ini gimana membersihkannya?" tanya Arsen
Airin tidak menggubris pertanyaan Arsen, karena matanya melirik bagian bagian bawah Arsen dengan bantuan cahaya remang-remang dari senter ponselnya.
"Duh, handuk aku. Pasti sudah bersentuhan dengan anunya Arsen," batin Airin dengan sedih.
"Sayang, tolong dong bagaimana nasib aku," kata Arsen lagi.
__ADS_1
"Lalu gimana dong Arsen, apa harus bilas dengan air minum?" tanya Airin.
"Iya iya nggak apa-apa, nanti aku belikan air minum lagi," jawab Arsen.
Airin mengambil satu teko besar air yang ada di dalam kulkas dan beberapa botol minum.
"Arsen, airnya dingin, nggak papa ta kamu mandi dengan air dingin. Air yang di galon habis soalnya," ucap Airin.
"Nggak apa-apa daripada tubuhku lengket semua," sahut Arsen
Arsen mengambil teko besar yang berisi air serta botol-botol lain yang berisi Air.
Meski dingin, Arsen mencoba menahannya.
Seusai mandi, Arsen keluar dengan memakai jasnya kembali meski sudah bau.
Arsen ikut duduk Airin di ruang tamu. Airin mengambil sisa makanan tadi siang. Lumayan bisa untuk makan malam, karena makannya sisa empat kotak.
"Kamu mau makan makanan tadi siang?" tanya Arsen
"Iya, masih bagus lo makananya," jawab Airin
"Nggak nggak kamu bisa sakit perut, biar aku pesankan lagi," sahut Arsen
Airin menarik tangan Arsen, dia nggak mau kalau Arsen memesan makanan lagi.
"Arsen jangan, ini sudah cukup. kalau pesan makanan lagi, makanan ini jadi mubazir," kata Airin
"Iya sayang, tapi kan ini makanan tadi," sahut Arsen
"Baiklah sayang," kata Arsen pasrah.
Satu hal lagi yang membuat Arsen jatuh hati pada Airin. Di saat lainnya selalu menginginkan makanan yang enak dan baru, Airin malah rela makan makanan yang sudah tadi siang.
"Kamu itu persis Mama aku," kata Arsen
"Masa sih Arsen," iya sayang
"Itulah sebabnya papa sangat mencintai Mama, apa yang mama minta selalu papa beri sebisa dan semampu papa, tapi apa sih yang nggak buat papa," ucap Arsen.
Kini mereka berdua memakan makanan tadi, dan ternyata rasanya masih enak cuma nggak hangat saja.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam namun listrik masih belum menyala dan ini membuat Airin dilema.
Kalau Arsen pulang dia takut, tapi kalau Arsen masih di rumahnya dia juga takut kalau tetangganya melaporkan pada RT/RW setempat karena bertamu dia atas jam sembilan.
"Arsen kamu nggak pulang?" tanya Airin
"Nggak, nunggu listriknya nyala dulu. Aku nggak tega meninggalkan kamu sendirian seperti ini," jawab Arsen.
Mereka berdua larut dalam pikiran masing-masing, Airin sungguh galau, dia benar-benar takut kalau banyak orang yang menggebreknya dengan Arsen.
Tiba-tiba listrik menyala dia segera meminta Arsen untuk pulang.
"Arsen pulanglah, aku takut sama warga," kata Airin
"Iya iya, tapi sebelumnya vitamin dulu ya," tawar Arsen
__ADS_1
"Jangan dong Arsen, besok deh aku double jatahnya," sahut Airin
"Janji ya," timpal Arsen
"Iya," ucap Airin.
Arsen pun mengambil kunci mobilnya lalu pulang dan itu membuat Airin lega.
Airin segera menutup pintu rumahnya dan masuk kamar, dia mengerjakan tugas dari kampus hingga pukul satu dia baru tidur.
************
Keesokan harinya harinya mama dan papa Sean mencari anaknya karena sudah pukul delapan Arsen belum juga turun.
Mama Arini mencoba mengecek Arsen, betapa kagetnya dia saat membuka pintu kamar Arsen, mama Arini melihat Arsen yang masih setia dengan tempat tidurnya.
Dengan menggelengkan kepala mama Arini mendekati Arsen.
"Arsen, ini sudah jam delapan, kamu nggak bangun?" tanya mama Arini
Arsen diam saja dengan mengigau dan ini membuat mama Arini mengecek tubuh Arsen betapa kagetnya dia ternyata Arsen demam tinggi tak hanya itu dia juga menggigil kedinginan.
"Arsen, Arsen kamu kenapa?" teriak mama Arini.
Mama Arini segera keluar dan memanggil suaminya dari atas
"Sayang, tolong segera panggilkan dokter," titah mama
"Siapa yang sakit?" tanya papa Sean
"Arsen sayang," jawab mama yang berteriak dari atas balkon dalam, yang berada dilantai dua.
"Astaga, kok bisa sakit padahal kemarin baik-baik saja," gumam papa Sean kemudian mengambil ponselnya dan menyuruh dokter pribadi Arsen untuk datang.
Setelahnya papa Sean pergi ke kamar Arsen, dia ingin melihat kondisi anaknya.
"Kamu kok bisa sakit sih Arsen?" tanya papa Sean
"Nggak tau pa, semalam Arsen menggigil kedinginan dan kepala Arsen pusing sekali," jawab Arsen.
"Kesehatan itu dijaga apa kamu nggak tau kalau saat ini musim virus," sahut mama Arini.
Papa Sean meminta Mama Arini menyiapkan sarapan Arsen, kemudian beliau turun dan meminta art untuk menyiapkan sarapan dan teh hangat untuk Arsen.
"Nanti kalian antar ya, jangan lupa susunya juga karena Arsen suka susu coklat," titah mama Arini lalu beliau kembali lagi ke atas.
Kehamilan mama Arini yang semakin membesar membuatnya susuh jika harus naik turun tangga.
"Pa, jangan potong gaji Arsen ya," kata anaknya
Papa Sean mengerutkan alisnya,
"Saat sakit kamu masih juga mikir gaji, mata duitan sekali," sahut papa Sean.
"Bukan gitu pa, kan gaji Arsen nanti untuk Airin juga kalau dipotong lagi kan jadi sedikit," timpal Arsen
Mama dan papa Arsen menggelengkan kepala, sebesar itukah cinta Arsen pada Airin hingga saat sakit dia masih memikirkan Airin?
__ADS_1