
Saat melihat-lihat mata Arsen tertuju pada salah satu jam tangan.
"Akhirnya," ucapnya.
"Pak coba lihat jam ini," kata Arsen menunjuk jam tangan Victorinox Swiss Army.
Penjual jam tangan tersebut mengambil jam tangan yang ditunjuk oleh Arsen dan menunjukkannya pada Arsen.
Kemudian Arsen mengambil ponselnya dan mendekatkan ke jam tangan tersebut.
"Sama," kata Arsen.
"Iya," sahut A4 lainnya
"Berapa harganya pak?" tanya Arsen
"Lima belas juta mas," jawab bapak penjual jam tangan tersebut.
Arsen segera memberikan kartu kreditnya, dan langsung memakai jam tangan tersebut.
"Aku pikir harganya ratusan juta la ternyata cuma lima belas juta saja," kata Arsen dengan memakai jam barunya.
"Aaron besok dekati Airin biar dia membanting jam tangannya lagi," goda Arcelo
"Apaan sih kamu," sahut Arsen.
Setelah mendapat jam tangannya dan melakukan pembayaran kini A4 pergi nongkrong ke tempat biasa.
*******
Keesokan harinya seperti biasan Arsen bangun dan bersiap ke kampus, setelah siap dengan outfitnya Arsen turun untuk bergabung dengan mama dan papanya guna menyantap makan paginya
"Pagi my mom and dad," sapa arsen
"Pagi my son," sahut papa Sean.
"Gimana jam tangannya?" tanya papa Sean
"Udah dapat pa, malah dapat yang Ori," jawab Arsen
"Bagus dong jadi nggak pakai jam tangan KW," sahut Papa Sean.
Mama Arini yang tidak tau permasalahannya bingung, "Jam tangan apa sih?" tanya mama Arini
"Ini Arsen menghilangkan jam tangan pemberian Airin jadi dia bingung," jawab papa Sean.
"Terus beli lagi?" tanya mama Arini
"Iya ma, murah kok ma," jawab Arsen
"Berapa?" tanya mama Arini
__ADS_1
"Cuma lima belas juta," jawab Arsen.
"Lima belas juta kamu bilang cuma Arsen!" seru mama Arini.
"Kan jam tangan Arsen semua harganya ratusan juta bahkan ada yang milyar ma, kalau sekarang Arsen bilang jam tangan lima belas juta hanya berarti kan nggak salah ma," sahut Arsen
Mama Arini terdiam memang benar yang diucapkan Arsen, dari dulu papa Sean memang memanjakan Arsen dengan barang branded berbeda dengan mama Arini
Belum sempat menghabiskan makanannya A4 lainnya sudah menjemput.
Arsen yang tidak sabar pergi ke kampus mencium papa dan mamanya kemudian dia keluar dan mengajak temannya berangkat.
"Ayo berangkat," kata Arsen.
Arsen mengambil mobilnya lalu mereka berangkat, Arsen nampak selalu ceria ketika berangkat ke kampus karena dia tidak sabar untuk bertemu wanita pujaannya.
Sesampainya di kampus seperti biasa mereka menjadi pusat perhatian, banyak mata yang menatap mereka dengan kagum.
Arsen pergi mencari Airin namun dia tidak menemukan wanita pujaannya tersebut
"Mana dia," gumam Arsen.
Karena ada jam kuliah pagi, Arsen menghentikan pencariannya lalu dia masuk kelasnya.
Selama jam kuliah berlangsung, Arsen tidak fokus karena dia belum melihat Airin padahal dia ingin meminta vitamin pagi buat penyemangat dia belajar.
Arsen mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan pada Airin, bertanya dia dimana.
"Ok, setelah jam berakhir temui aku di taman belakang," balas Arsen
"Ok," balas Airin.
Jam kelas telah selesai dengan rasa senang dan rindu yang menggebu Arsen pergi ke taman belakang untuk mencari Airin, saat berada di sana ada Airin yang duduk menunggunya.
"Sayang," panggil Arsen dengan tersenyum manis pada Airin.
Airin menoleh lalu dia berdiri, mereka berdua saling peluk, dan Arsen seperti biasa selalu minta jatah cium dari Airin, tukang kebun yang memergoki mereka lagi-lagi harus melihat aksi Arsen dan Airin.
"Kelihatannya akulah saksi hidup adegan mereka," gumamnya lalu pergi.
"Aku sangat merindukan kamu Airin," kata Arsen yang mulai mengeluarkan jurus jitunya.
"Aku enggak," balas Airin.
"Masak! nggak boleh pokoknya kamu harus rindu padaku," sahut Arsen tak terima
"Kamu ini selalu memaksakan kehendak kamu padaku," protes Airin.
Mendengar protes dari Airin membuat Arsen terkekeh.
Mereka berdua saling mengobrol hingga tak terasa jam kuliah telah datang. Arsen dan Airin pergi untuk masuk kelas masing-masing.
__ADS_1
Tak terasa jam pulang telah datang, Arsen berpamitan pada Airin.
"Se you tomorrow baby," kata Arsen lalu melambaikan tangannya.
Airin melambaikan tangan balik lalu mengambil motornya dan pulang.
Setelah seharian kuliah kini A4 berganti casing, jas mewah dan sepatu mengkilat kini jadi outfit mereka.
Mama Arini yang melihat anaknya berpakaian seperti sangat bangga, dia teringat akan suaminya dulu sama persis seperti Arsen.
"Kamu mirip sekali dengan papa kamu Arsen," gumam Mama Airin.
Waktu berjalan begitu cepat kini saatnya bagi A4 untuk menerima gaji pertama mereka.
Arsen sudah tidak siap menerima gaji dari papanya seperti yang pernah papanya sampaikan kalau dia mendapatkan gaji tiga puluh juta perbulan mengingat kerjaannya nggak full, dan juga jika ada kegiatan mereka bisa libur.
"Pa gajiannya mana?" tanya Arsen
"Anak ini tidak sabar sekali," jawab papa Sean
"Iya pa dong pa, sekarang kan malam Minggu jadi aku mau berkencan," sahut Arsen.
Papa Sean yang juga ingin pulang meminta papa Nick ke ruangannya untuk memberikan gaji pada Arsen dan juga Arcelo.
"Ya sudah papa dan Om Nick pulang dahulu, kalian selamat menikmati gaji pertama kalian, ingat Arsen apapun yang kamu beli untuk Airin jangan pernah menggunakan uang papa." Papa Sean memberikan peringatan pada Arsen lalu keluar bersama Papa Nick.
Arsen dan Arcelo melihat slip gaji mereka dan betapa kagetnya mereka saat gaji mereka bersisa hanya sepuluh juta.
"Apa-apaan papa," protes Arsen
"Ini kenapa potong gaji banyak sekali, potong gaji karena galau, potong gaji karena nggak niat kerja, potong gaji karena seenaknya sendiri, potong lagi karena lupa kerja lebih memilih mencari jam tangan pemberian kekasih daripada bekerja, is Fu*cking potong gaji," umpat Arsen.
"Sama aku juga iya, dan ini semua gara-gara aku mengikuti kamu, lihatlah alasan potong gaji di slip aku," sahut arcelo kemudian menunjukkan slip gajinya.
"Papa benar-benar, lalu uang sepuluh juta untuk apa coba, ini seperti uang saku kita dua hari, kita bekerja satu bulan dan bayarannya cuma uang saku selama dua hari, is not fair," maki Arsen.
Arsen yang tak terima mencoba protes pada papanya, sepanjang perjalan pulang Arsen mengoceh sendiri.
"Orang tua macam apa mereka, bekerja satu bulan meski nggak penuh, cuma dapat gaji sepuluh juta," protes Arsen.
"Macam itu," sahut Arcelo.
Setibanya di rumah, Arsen pergi mencari papanya dan Arcelo pamit untuk pulang karena dia juga akan demo pada papanya.
Karena Arcelo tidak bawa mobil, dia meminjam mobil Arsen.
Arsen mengetuk pintu kamar kedua orang tuanya.
"Pa! Ma! jangan main panjatan dulu, Arsen mau protes," teriak Arsen
Papa Sean yang mendengar teriakan anaknya pun tersenyum karena sudah diduga anaknya akan protes.
__ADS_1