4 Penguasa Kampus

4 Penguasa Kampus
Harus membantu di kantor


__ADS_3

Arsen yang ditunggu tak kunjung pulang sehingga papa Sean memutuskan untuk pergi tidur dan berbicara pada Arsen besok saja kebetulan besok adalah hari libur jadi mereka memiliki waktu bersama yang panjang.


Tepat pukul dua belas Arsen sampai di rumah, dia langsung menuju kamarnya dan tidur.


Keesokan harinya Papa Sean dan mama Arini menunggu Arsen di meja makan namun hingga jam sembilan Arsen tak kunjung turun hingga papa Sean pergi untuk membangunkannya.


"Hey Arsen bangun!" kata Papa dengan menepuk bahu anaknya.


Arsen bukannya bangun, dia malah menarik selimutnya sehingga Papa Sean harus menepuk bahu Arsen beberapa kali.


"Airin kenapa sih kamu mengganggu tidurku!" bentak Arsen yang membuat Papa Sean kesal.


"Ini papa bukan Airin," sahut papa Sean.


Arsen membolakan matanya dan segera bangun, saat melihat Papanya Arsen terkekeh.


"Eh papa," katanya dengan malu


"Apa Airin itu sudah merasuk dalam otakmu sehingga kamu tidak bisa membedakan papa dengannya," sahut Papa Sean.


Arsen tidak bisa berkata apa-apa, lalu papa Sean meminta Arsen untuk membersihkan diri setelahnya sarapan dan menemuinya dia ruang kerja.


Tak butuh lama untuk membersihkan diri, kemudaian Arsen turun dan sarapan sendiri.


Mama dan papanya sudah menunggu di ruang kerja.


Setibanya dia ruang kerja papanya, Arsen mengetuk pintu yang sudah terbuka.


"Masuk Arsen," titah papa Sean mempersilahkan Arsen masuk dan duduk.


"Ada apa pa?" tanya Arsen penasaran, tumben mama dan papanya mengajaknya bicara di ruang kerja.


"Begini Arsen, usia kamu baru menginjak dua puluh tahun, kuliah juga masih semester empat beberapa bulan lagi, perjalanan kamu ini masih jauh apalagi kamu seorang pria," belum sempat melanjutkan kata-katanya Arsen sudah memotong.


"Jadi maksud papa Arsen nggak boleh nemuin Airin lagi gitu," selanya dengan kesal.


Mama Arini yang gemas mencubit perut anaknya dengan memelototkan mata, "Dengerin dulu kalau orang tua bicara jangan disela," omelnya. "Lanjut sayang," kata mama Arini sesudahnya.

__ADS_1


"Sela lagi, papa hukum kamu!" ancam papa Sean.


"Tapi kembali lagi jika kamu memang mencintai wanita yang bernama Airin itu papa dan mama bisa apa, kalau kami melarang pun nggak akan kamu gubris karena memang orang jatuh cinta itu semua sistem syarafnya telah rusak, sehingga tidak bisa dilarang. Oleh sebab itu mama dan papa mengijinkan kamu mencintai wanita dengan catatan kamu harus mau membantu papa di kantor," kata papa Sean.


Arsen seakan tidak setuju dengan papanya, "Kenapa bisa begitu pa, apa hubungannya Arsen jatuh cinta dengan membantu papa di kantor," sahut Arsen kesal.


"Apa hubungannya? jadi kamu nggak tau hubungannya," kata papa Sean kesal dengan penuh penekanan.


Arsen menggelengkan kepala, dia memang belum sadar apa hubungannya dia jatuh cinta dengan membantu papanya di kantor.


"Sayang coba kamu jelaskan," titah papa Sean padan mama Arini.


"Arsen, cinta itu perlu modal. Kemarin saja kamu habis lima juta untuk membelanjakan Airin, apa seterusnya kamu nggak ingin memanjakan wanita kamu itu," jelas Mama Arini.


Mendengar penjelasan dari mamanya, Arsen baru paham, lalu dia terkekeh.


"Kan bisa pake uang papa pa," katanya dengan menggaruk kepalanya yang gatal.


"Enak saja, papa cari uang untuk kamu, mama, dan juga adik bayi yang masih di dalam perut bukan untuk pacar kamu!" seru Papa Sean.


"Pelit sekali papa," ucap Arsen.


"OOO jadi mau cari lagi gitu, yang lebih bening," maki Mama Arini.


"Bukan begitu sayang, perumpamaan saja," timpal Papa Sean dengan tertawa.


"Sukurin, papa genit ma, kalau di kantor suka godain sekertaris baru yang aduhai." Arsen mencoba mengompori mamanya.


"OOO begitu, awas ya gak ada jatah pokoknya," ancam Mama Arini.


"Arsen kamu benar-benar anak durhaka, bisa-bisanya memfitnah papa kamu sendiri," maki papa Sean.


Arsen hanya tertawa melihat mama dan papanya yang debat. Setelah lelah mereka mengakhiri debatnya dan kembali ke pembicaraan awal dengan Arsen.


"Jadi bagaimana?" tanya Papa Sean ketus karena masih kesal dengan Arsen.


"Ya sudah, tapi A4 lain kerja juga nggak?" tanya Arsen.

__ADS_1


"Entahlah, coba kamu tanya Arcelo dia mau membantu kamu apa nggak, karena paman Nick kan juga assiten papa," jawab Papa Sean.


Arsen nampak mengirimkan pesan kepada Arcelo, dia berharap semoga Arcelo mau membantunya di kantor.


"Memangnya kamu dan Airin itu sudah jadian ya Arsen?" tanya mama Arini secara tiba-tiba yang membuat Arsen kaget.


Arsen bingung harus menjawab apa, karena memang dia dan Airin belum jadian. Untuk perasaan Airin saja dia belum yakin apa Airin mencintainya apa tidak.


"Belum ma, Arsen juga belum tahu apa Airin itu cinta sama Arsen apa nggak mengingat dia lebih dekat dengan Aaron," kata Arsen yang membuat mama dan papanya saling pandang.


"Kisah lama terulang kembali sayang," kata Papa Sean


"Apa maksud papa?" tanya Arsen bingung.


"Kisah kamu sama seperti kisah papa, dimana dulu mama kamu dekat dengan om Daffa, tapi bedanya dulu mama kamu teman ranjang papa," jawab papa Sean.


Arsen hanya manggut-manggut mendengar jawaban papanya.


Mama Arini yang mendengar cerita Arsen menjadi takut, dia takut kalau hanya karena wanita persahabatan antara Arsen dan Aaron rusak.


Di sisi lain, Aaron melamun di balkon kamarnya hingga Papa Daffa datang dia tidak tau.


"Aaron," Panggil papanya sambil menepuk bahu Aaron.


"Eh papa, bikin kaget aja," protes Aaron yang kaget.


"Hehe maaf sayang," sahut Papa Daffa dengan terkekeh, "Apa yang kamu pikirkan Aaron?" tanya papa Daffa setelahnya.


"Nggak ada pa," jawab Aaron dengan tersenyum.


"Wanita?" tebak papa Daffa.


Aaron tidak berkata apa-apa, dia hanya tersenyum.


Sebenarnya Aaron memikirkan Keira dan juga Airin, melihat akhir-akhir ini Airin dekat dengan Arsen membuatnya gak nyaman tapi dia sendiri tidak yakin dengan perasaannya.


Apa Airin hanya pelampiasan dari rasa kecewa pada Keira yang lebih memilih luar negeri sebagai tempat mencari ilmu atau memang dia menyukai Airin. Entahlah, Aaron juga masih belum tau.

__ADS_1


"Papa tidak melarang kamu menyukai wanita tapi kalau memang itu terjadi bersiap-siaplah untuk membantu papa di kantor karena papa nggak mau kamu menghamburkan uang orang tua untuk memanjakan wanita, jika mama kamu tau dia pasti marah, kamu tau mama itu bagaimana kan," kata Papa Daffa mengingatkan Aaron.


"Baiklah pa," sahut Aaron dengan tersenyum.


__ADS_2