
Mendengar kata papanya membuat Arsen melemas, bisa-bisanya papa Sean bilang kalau masalahnya hanya masalah kecil.
Arcelo membisikkan sesuatu pada Arsen yang membuat Arsen tersenyum.
"Ok nanti kita ke rumah Airin untuk melihat jam tangan Airin," ucap Arsen.
"Itupun kalau dia pas pakai kalau nggak ya nggak tau aku," sahut Arcelo
Arsen nampak melemas, "Gimana ini pa?" kata Arsen dengan raut wajah yang sedih.
Papa Sean yang melihatnya jadi muak, bisa-bisanya anaknya jadi seperti ini.
"Woy Arsen jangan sampai papa menabok kamu," ucap Papa Sean dengan kesal.
"Aku harus gimana pa?" tanya Arsen minta saran papanya.
"Beli aja jam baru, bilang ke Airin kalau kamu menghilangkannya, gitu aja dibuat susah," oceh papa Sean
"Masalahnya Arsen lupa merk jamnya pa, soalnya merk nya nggak merk terkenal, trus modelnya Arsen juga lupa," sahut Arsen
Papa Sean ikut memijat pelipisnya, tak lama kemudian Papa Nick datang dengan membawa berkas yang dibutuhkan.
"Pak ini berkasnya," kata Papa Nick lalu meletakkan berkas di meja.
Melihat Arsen, Arcelo dan juga bosnya membuat papa Nick terheran-heran, ada apa gerangan.
"Ada apa ini?" tanya Papa Nick
"Gini, Nick. Arsen menghilangkan jam tangan pemberian dari Airin, kini dia bingung sekarang," jawab papa Sean.
Nick nampak kesal hanya masalah sepele seperti ini kenapa dibuat rumit kini bukannya bekerja malah bingung memikirkan jam tangan yang nggak penting banget.
"Beli lagi dong Arsen," saran Papa Nick
"Masalahnya Arsen nggak tau merk dan lupa bentuk dan modelnya gimana," sahut Arsen.
Kini papa Nick juga ikut berfikir, ke empat manusia tampan ini duduk sambil memikirkan jalan keluar.
"Itu jam couple bukan?" tanya Papa Nick
"Iya Om," jawab Arsen
"Punya foto berdua dengan menggunakan jam tangan itu?" tanya papa Nick lagi.
Sepasang mata tiga orang ini menuju ke papa Nick, mereka tidak memikirkan hal itu sebelumya.
"OMG Nick u are brilian," puji papa Sean dengan memeluk sahabatnya tersebut.
__ADS_1
"Dah pa, jangan lebay. Nanti kalau Tante Vani tau dia bisa cemburu ma papa," sahut Arsen
Papa Sean segera melepaskan pelukannya kemudian dia meminta Arsen untuk melihat foto berdua dengan Airin.
Dalam galeri Ponsel Arsen nampak banyak sekali foto-foto Airin, selain Airin dia juga menyimpan banyak foto-foto mama dan papanya, bahkan foto papa mamanya di jadikan foto wallpaper dalam ponselnya.
Nampak satu foto Arsen dan Airin dengan pose Arsen mencium pipi Airin.
"Ini foto apa Arsen?" tanya papa Sean
"Foto lagi cium Airin pa, papa kan tau kenapa masih bertanya?" jawab Arsen.
Kini akhirnya Arsen menemukan foto mereka berdua saat memakai jam tangan yang sama tenyata itu jam tangan KW merk Swiss Army
"Papa kok tau itu KW?" tanya Arcelo
"Pikir dong Nick, maaf ni bukannya menghina tapi nggak mungkin Airin beli jam tangan Swiss Army ORI," jawab Papa Nick.
Sedikit banyak Nick tau latar belakang Airin dan keluarganya, bahkan untuk sekolah di B.A university dia mendapatkan beasiswa separuh, sehingga orang tua Airin dan Airin harus banting tulang untuk membayar biaya kuliah Airin.
Baru-baru ini saja Arsen meminta beasiswa full untuk Airin itupun dengan syarat nilai IP yang bagus.
Arsen dan Arcelo kini melihat-lihat jam tangan yang seperti di fotonya, dan mereka malah fokus mencari jam dan melupakan pekerjaannya.
"Lihatlah mereka malah asik mencari jam dan melupakan pekerjaan mereka," kata Papa Sean
"Potong gaji lah, apa lagi. Biar saja gaji mereka habis jika mereka bersikap seenaknya sendiri," jawab papa Sean.
Kemudian Papa Sean mendekati Arsen
"Kamu kerja atau potong gaji?" tanya Papa Sean
"Ya jangan potong gaji pa, bentar pa, Arsen ini cari jam dulu habis itu baru kerja," jawab Arsen tanpa melihat papanya.
Papa Sean menghampiri papa Nick lagi,
"Fix potong gaji, lihatlah bahkan sekarang sudah pukul setengah empat, satu jam setengah lagi waktunya pulang," kata Papa Sean lalu dia mengerjakan pekerjaan yang seharusnya dikerjakan Arsen begitu pula papa Nick, dia juga mengerjakan pekerjaan yang seharusnya di kerjakan oleh Arcelo.
Waktu terus berputar hingga tak terasa waktu sudah menunjukan pukul lima sore, papa Sean dan papa Nick pulang terlebih dahulu, meninggalkan Arsen dan Arcelo yang masih fokus dengan pencarian jam tangan.
Saat Papa Sean dan papa Nick pulang Aaron dan Arthur menyusul Arsen dan Arcelo sehingga mereka bertemu di loby.
"Arsen mana om?" tanya Aaron
"Di ruangan om Aaron, daritadi mencari jam tangan dengan Arcelo," jawab papa Sean
Aaron dan Arthur saling pandang, meskipun dia tidak paham namun Aaron tetap mengangguk.
__ADS_1
Kini mereka pamit pada papa Sean dan papa Nick untuk menyusul sahabatnya.
Setibanya di ruangan Papa Sean, Aaron dan Arthur melihat Arsen dan Arcelo duduk dengan ponsel ditangannya.
"Hey guys, ngapain? serius sekali?" tanya Arthur
Arcelo dan Arsen menoleh, "Kalian ngapain kesini?" tanya Arcelo balik
"Mau ngajakin kalian nongkrong," jawab Aaron
"Kan masih waktunya kerja," sahut Arsen
"Ya dia ngimpi, woy udah jam lima lebih ni," timpal Arthur.
Arcelo dan Arsen saling tatap, "Arsen jadi kita kesini bukan bekerja melainkan mencari jam. Pasti papaku marah," kata Arcelo
"Iya papa juga pasti marah, sedari tadi kita ngeles melulu saat di suruh kerja," sahut Arsen.
"Gara-gara kamu ni Arsen," ucap Arcelo
"Udah pesan saja yang tadi, Ori nggak papa yang penting sama dengan jam tangan Airin," imbuh Arcelo
"Tapi aku ijin dulu ma papa, takutnya nanti beliau marah aku pake uangnya untuk membeli jam tangan," kata Arsen
"Memangnya kalau beli online langsung datang? minimal kita nunggu beberapa hari dulu," sahut Arthur
Arsen melemas mendengar sahutan Arthur, dia merasa tidak ada harapan lagi, pasti Airin marah padanya besok.
"Cari di mall saja," ide Aaron yang membuat Arsen menatapnya.
"Ide bagus, kenapa nggak terpikir oleh ku ya," sahut Arsen
"Otak kamu soalnya jongkok," timpal Arthur yang membuat Arsen melemparkan tatapan mautnya pada sahabatnya tersebut.
Arthur hanya terkekeh, dengan menaikkan dua jarinya. Tak ingin membuang waktu akhirnya mereka berempat keluar kantor dan menuju mall.
Arsen mendatangi semua toko jam di mall tersebut namun tidak ada yang menjual jam tangan seperti yang Airin belikan.
"Matilah aku." Arsen mengeluh, dia sungguh pusing mencari jam tangan yang persis.
"Mati ya dikubur," sahut Arthur yang lagi-lagi membuat Arsen kesal.
Kini mereka ada di toko jam tangan bekas, meskipun bekas namun kualitas jam tangan tak usah diragukan lagi.
Saat melihat-lihat mata Arsen tertuju pada salah satu jam tangan.
"Akhirnya," ucapnya.
__ADS_1