4 Penguasa Kampus

4 Penguasa Kampus
Minta ijin


__ADS_3

Airin yang merasa kalau Arsen telah keterlaluan pun menangis dan ini membuat Arsen melepaskan Airin.


"Jangan menangis, maafkan aku," hibur Arsen.


"Kenapa kamu memperlakukan aku dengan seenak kamu Arsen, kalau kamu menginginkan sebuah ciuman kita bisa melakukannya secara baik-baik tidak dengan cara seperti ini, lihatlah ada teman-teman kamu di sana, apa kamu tidak malu," omel Airin.


"Ngapain malu sama mereka," sahut Arsen.


Arthur yang mendengar pembicaraan mereka pun ikut menyahut


"Wah, urat syaraf malunya putus tu anak," oceh Arthur


"Iya, gara-gara kebanyakan makan rebung," timpal Arcelo dengan tertawa.


Lalu mereka berdua menatap Aaron yang membaca buku.


"Hey Aaron kamu ini sibuk sekali," cerca Arcelo


"Lalu aku harus ngapain? joget-joget gitu," ucap Aaron


"Wah boleh tu, oh ya sebentar lagi B.A university ultah ke lima belas tahun, pasti ada pentas. Kita nyumbang apa nih?" tanya Arthur


"Paling lagu, ya besok kita nyanyi saja berempat," jawab Aaron


"Suaraku kan false," kata Arthur


"Lipsing lah," sahut Arcelo


Meraka bertiga ngobrol sendiri, merundingkan sesuatu yang nggak penting sama sekali apalagi Arthur, udah bingung lagu apa yang akan dia nyanyikan besok.


Di kamar Airin masih saja menangis, Arsen sampai memohon mohon pada Airin supaya memaafkannya.


"Baiklah, tapi jangan diulangi," kata Airin


"Mana boleh seperti itu, ciuman kita harus terulang setiap hari," sahut Arsen


"Ihhh aku gemes sekali sama kamu, perbuatan kamu yang memaksa menciumku jangan diulangi kalau ciuman ya wajib tiap hari," timpal Airin dengan terkekeh.


Mereka berdua tertawa bareng kemudian keluar dan bergabung dengan Arcelo, Arthur dan Aaron.


"Gimana udah kelar apa belum?" tanya Arthur


"Udah dong, ini udah baikan," jawab Arsen.

__ADS_1


Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas, waktunya A4 pulang karena mereka harus bertranformasi menjadi pebisnis hebat.


"Kamu nggak apa-apa kan Airin aku tinggal?" tanya Arsen


"Nggak apa-apa kok, kalian kan harus bekerja," jawab Airin dengan tersenyum.


Arsen mengecup pipi Airin dengan lembut lalu dia mengusap rambutnya dengan lembut pula.


Arcelo juga cupika cupiki, begitu pula dengan Aaron dan juga Arthur.


"Woy, kalian apa-apaan, dia calon teman hidup aku," omel Arsen


"Hayo nggak usah komplain," kata Aaron dengan menyeret Arsen menuju mobil.


************


Dua pria tampan turun dari mobil mewah pabrikan Eropa, siapa lagi kalau bukan Arsen dan Arcelo. Dengan wibawa mereka masuk ke dalam gedung Bryan Grup.


Setiba sampai di ruangannya, mereka berdua mulai bekerja.


Papa Sean kini memisahkan ruangan mereka, supaya lebih privasi dan Arsen nyaman kerjanya.


Karena musim penghujan, setiap sore pasti hujan dan ini membuat Arsen risau.


"Kelihatannya ada," jawab Arcelo


"Airin pasti takut Arcelo, bagaimana ini," kata Arsen cemas.


"Lebih baik kamu pindahkan ke apartemen kamu Arsen, kan kalau di apertemen ada peredamnya jadi dia nggak akan mendengar petir," saran Arcelo


"Good Arcelo, brilian," sahut Arsen.


Arsen segera menyelesaikan pekerjaannya, lalu dia pergi ke ruangan papa Sean.


"Pa," panggil Arsen


"Ada apa? pekerjaan kamu sudah selesai?" tanya Papa Sean


"Sudah pa, lihat saja email papa semua sudah aku kirim," jawab Arsen.


"Pa," panggil Arsen lagi


"Ada apa, pa pa seperti punya papa sendiri," sahut Papa Sean.

__ADS_1


"Papa masih sibuk, apa perlu Arsen yang mengerjakan pekerjaan papa," ucap Arsen yang membuat Papa Sean heran dan juga bingung.


"Sudah katakan saja, apa yang kamu inginkan dari papa," ucap papa Sean yang membuat Arsen menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Pa, Arsen janji akan menjadi anak yang baik, anak yang penurut, anak...." belum sempat melanjutkan kata-katanya papa Sean menyela


"Sudah, papa tidak butuh janji kamu. Katakan saja apa mau kamu, jangan berbelit-belit,"


Arsen terkekeh,


"Gini pa, boleh nggak Airin tinggal di apartemen Arsen yang papa belikan beberapa waktu lalu, daripada kosong," kata Arsen.


Papa Sean menatap Arsen dengan lekat, dia curiga kalau dia sama Airin nanti akan hidup bersama di apartemennya.


"Lalu?" tanya papa Sean


"Lalu gimana pa?" tanya Arsen bingung


"Lalu setelah Airin tinggal di sana kamu juga tinggal di sana? kamu pikir mama kamu akan mengijinkan," jawab Papa Sean.


"Nggak pa, kalaupun harus menginap di sana pasti Arsen ngajak geng Arsen, kalau papa nggak percaya papa bisa memasang CCTV di sana tapi yang di kamar mandi jangan," sahut Arsen.


"Memangnya rumah Airin kenapa? sehingga kamu ingin memindahkan Airin ke apartemen?" tanya Papa Sean.


Arsen menghela nafas,


"Begini pa, Airin ini punya fobia petir. Kemarin saja dia pingsan, untung Aaron kembali dan menolongnya," ungkap Arsen, "Papa coba jadi Arsen, kekasih papa hidup sendiri ditinggal orang tuanya, dia fobia petir yang kebetulan setiap hari hujan," imbuh Arsen


"Tapi sayangnya mama kamu nggak fobia petir Arsen," sahut papa Sean yang membuat Arsen mengusap rambutnya kasar.


"Come on pa, please! cuma papa yang bisa menolong Arsen pa. Dia itu belahan jiwa Arsen Lo pa. Papa kan selalu bilang kalau Arsen ini pelita hidup papa, cinta papa, kesayangan papa bearti Airin juga," bujuk Arsen.


Mulut Arsen bagai seorang makelar yang mencoba merayu orang untuk membeli produknya, dia merayu papanya supaya memenuhi keinginannya.


"Duh, lemes banget tu mulut," ucap papa Sean.


"Kalau Arsen yang di rumah Airin, takutnya warga akan menggrebek kami pa." Arsen sekuat tenaga menjelaskan pada papanya.


"Baiklah, tapi kamu rundingkan dulu dengan mama kamu, papa nggak mau tanggung resiko kalau kamu langsung saja membawa Airin ke apartemen kamu tanpa konfirmasi dulu sama mama," kata papa Sean


"Siap pa, papa memang terbaik." sahut Arsen.


"Terbaik kalau ada maunya, coba kalau nggak ada pasti papa ini jahat, nggak sayang Arsen yang inilah yang itulah," sahut papa Sean lalu kembali ke pekerjaannya lagi.

__ADS_1


"Ya nggaklah pa, papa itu memang papa yang terbaik di seluruh dunia," ucap Arsen lalu memeluk papanya.


__ADS_2