4 Penguasa Kampus

4 Penguasa Kampus
Sama-sama galau


__ADS_3

Airin nampak kecewa saat Febri mengajak pulang, dia masih kepikiran dengan Arsen.


"Feb, aku pengen ketemu Arsen untuk minta maaf," kata Airin.


Febri menghela nafas dengan kasar, ingin rasanya menabok temannya tersebut.


"Tadi ada orangnya malah ngajak sembunyi sekarang orangnya sudah pergi galau, mau kamu apa sih Rin! nggak jelas banget," omel Febri.


Akhirnya mau nggak mau mereka berdua pulang dengan perasaan bersalah pada Arsen.


Malam ini di rumahnya Airin menatap bintang, siapa lagi kalau bukan bintang Sirius, bintang yang paling terang di malam hari.


"Sirius, tolong katakan pada Arsen kalo aku menyesal," gumam Airin


Malam ini Airin tidak bisa tidur karena memikirkan Arsen, berkali-kali dia melihat ponselnya berharap Arsen menghubunginya namun tidak ada pesan apalagi panggilan dari Arsen.


Ingin sekali Airin menghubunginya namun dia cukup gengsi menghubunginya terlebih dahulu, di sisi lain Arsen juga berkali-kali melihat ponselnya dia yang kesal membanting ponselnya ke tempat tidur.


"Sudah salah, nggak menghubungi! apa sih maunya wanita ini, kesal aku!" gerutu Arsen


Arsen yang kesal dan tidak bisa tidur memilih pergi ke rumah Aaron, rencannya dia mencari teman karena nggak mungkin juga meminta papanya untuk menemaninya mengigat pasti papanya sedang panjat memanjat dengan mamanya.


Setibanya di rumah Aaron, Arsen menghela nafas dengan kasar karena di teras ada mama Putri dan papa Daffa sedang bermesraan.


"Nggak di rumah nggak di sini selalu saja mata dan telingaku ternodai, sering melihat adegan dewasa seperti ini akhirnya membuat aku dan kawan-kawan matang sebelum waktunya," kata Arsen lalu keluar mobil.

__ADS_1


"Halo Arsen," sapa Mama Aaron dan papa Aaron.


"Halo om dan tante, Aaron ada di kamar kan?" tanya Arsen


"Ada, tumben malam-malam kesini Arsen?" tanya Papa Daffa


"Boring om di rumah, papa dan mama juga pasti jam segini main panjat panjatan," sahut Arsen dengan terkekeh.


"Astaga kak Arini, mas Sean, selalu deh," timpal Mama Putri.


"Halah seperti kita ngga saja sayang," ucap papa Daffa yang membuat, Mama Putri malu.


Mama Putri dan Papa Daffa tertawa, karena mereka juga sama dengan Mama Arini dan papa Sean.


"Om Tante, saya langsung ke kamar Aaron ya," kata Arsen pamit.


Arsen menutup pintu kembali lalu berjalan dan naik ke ranjang Aaron.


"Woy Aaron bangun," kata Arsen dengan menggoyang tubuh Aaron.


Aaron hanya menggeliat dan semakin erat memeluk gulingnya.


"Aaroooooooon," teriak Arsen


Aaron yang merasa terganggu tidurnya pun bangun, "Ada apa sih Arsen, ngapain kamu kesini?" tanya Aaron dengan nyawa yang belum sepenuhnya kembali.

__ADS_1


"Aku harus bagaimana Aaron, Airin tidak menghubungi aku sama sekali." Arsen mencoba menceritakan kegalauan hatinya pada Aaron.


"Kalau dia nggak menghubungi kamu ya kamu yang menghubungi, gitu aja kenapa dibuat susah sih Arsen," sahut Aaron


"Tapi masalahnya ga sesimpel itu Aaron," timpal Arsen


"Lalu sekompleks apa masalahnya?" tanya Aaron


"Ya seperti itulah Aaron, dia yang salah kenapa nggak meminta maaf," jawab Arsen


Aaron menghela nafas, dia memegangi pundak sahabatnya


"Gini, mungkin Airin masih belum menyadari kesalahannya, jadi santai dan sekarang ayo tidur," sahut Aaron lalu merangkul Arsen dan mengajaknya tidur.


Arsen yang kesal mencoba beranjak dan Aaron menarik tangan Arsen.


"Brengsek aku bukan Kak Keira," ucap Arsen dengan kesal.


Aaron hanya terkekeh lalu memeluk gulingnya kembali.


"Sudah lebih baik tidur, besok pasti Airin mencari kamu untuk minta maaf," kata Aaron


Arsen nampak senang dengan kata-kata Aaron lalu merebahkan diri di samping Aaron sambil senyum-senyum sendiri.


"Ga sabar aku menunggu Airin meminta maaf," gumam Arsen

__ADS_1


Aaron yang mendengar gumaman Arsen jadi tersenyum.


"Dasar bucin,"


__ADS_2