
"Ya nggaklah pa, papa itu memang papa yang terbaik di seluruh dunia," ucap Arsen lalu memeluk papanya.
Mendapat pelukan dari Arsen membuat papa Sean teringat papanya, saat masih kecil dulu papa Sean juga suka memeluk papanya jika ada maunya dan kini menurun pada Arsen.
Arsen juga sama saat ada maunya pasti Arsen memeluk bahkan mencium papanya, itulah yang membuat Papa Sean nggak bisa menolak keinginan Arsen.
Mata papa Sean nampak basah, kenangan opa Ben menari dalam pikiran papa Sean. kenangan akan opa Ben akan tetap hidup meski beliau telah meninggal beberapa tahun yang lalu. Melihat papanya bersedih membuat Arsen cemas.
"Ada apa pa? papa nggak suka Arsen peluk?" tanya Arsen dengan menatap papanya
"Bukan begitu, papa senang sekali kamu peluk tapi papa ingat opa kamu," jawab papa Sean lalu mengusap matanya yang basah.
Arsen kini juga ikut sedih, tiba-tiba kenangan akan opanya dulu menari di pikirannya.
Opa Ben amat sangat menyayangi Arsen, begitu pula dengan Oma Fatma, namun Tuhan cepat memanggil mereka. Kini yang tetap hidup adalah kenangan-kenangan manis mereka.
Tak ingin larut dalam kesedihan, papa Sean kembali lagi ke pekerjaannya begitu pula Arsen yang pamit pulang karena dia akan segera minta ijin mamanya.
"Arsen pulang dulu ya pa," pamit Arsen
"Iya hati-hati," jawab papa Sean.
Dengan senang Arsen kembali ke ruangannya,
"Arcelo ayo kita pulang," ajak Arsen
"Ok bos," sahut Arcelo lalu memberesi mejanya. Mereka berdua nekat pulang meski hujan sangat deras.
Setibanya di rumah, Arsen dan Arcelo masuk dalam rumah, Arsen menyuruh Arcelo untuk menunggunya di kamar sedangkan dia menemui mamanya di kamar utama.
"Kamu istirahat di kamar, aku menemui mama dulu," titah Arsen
"Siap bos," sahut Arcelo lalu pergi menuju kamar Arsen.
Tanpa mengetuk pintu, Arsen langsung saja masuk. Dia melihat mamanya sedang membaca majalah seputar kehamilan.
__ADS_1
"Ma," panggil Arsen
"Apa?" sahut mama lalu menoleh.
"Mama sore ini cantik sekali," puji Arsen
"Cepat katakan apa yang kamu mau," kata mama Arini
Arsen lagi-lagi terkekeh, orang tuanya hafal sekali dengan kelakuan Arsen.
"Hehe mama, mama gemes aku," kata Arsen lalu mencium pipi mamanya.
Mama Arini nampak tersenyum, meski Arsen sudah besar tapi Arsen sering menciumnya apalagi saat Arsen menginginkan sesuatu.
"Mama yang seharusnya gemes bukan kamu," sahut mama Arini dengan mencubit pipi anaknya.
"Katakan apa mau kamu jangan bertele-tele," pinta mama
"Boleh nggak ma, Airin tinggal sementara di apartemen Arsen, tadi udah ijin papa tapi kata papa, Arsen harus ijin mama," kata Arsen.
"Airin kan fobia petir ma, kalau di apartemen suara petir nggak kedengaran karena ada peredamnya jadi dia aman," jawab Arsen dengan jelas.
"Kamu juga ikut tinggal di sana gitu?" tanya mama dengan melemparkan tatapan mautnya pada Arsen.
''Ya nggak dong ma, kalaupun iya Arsen ngajak geng Arsen ma, kalau mama nggak percaya mama bisa pasang CCTV deh," jawab Arsen melakukan negoisasi.
"Ya sudah boleh, kamu pasti tau yang terbaik untuk kamu dan Airin, jadi mama setuju saja asal kalian tau batasan dan jangan membuat kepercayaan mama padamu hilang. Jangan melakukan DP dulu apalagi dibayar kontan, kalau sampai itu terjadi mama akan jadi lawan kamu," jelas dan ancam mama
Arsen langsung saja memeluk mamanya. "I love you ma, love you more," kata Arsen kemudian menciumi pipi mamanya.
"I love you too Arsen sayang, you are my life," sahut mama dengan mencium anaknya.
"Ni kalau papa tau pasti cemburu," kata Arsen dengan terkekeh.
"Papa kamu sungguh ajaib, jangankan dengan anaknya, makanan saja kadang dicemburui," ucap Mama Arini dengan tertawa.
__ADS_1
"Ya udah Arsen pamit dulu pa, mau ke rumah Airin lalu memindahkannya ke apartemen," pamit Arsen lalu keluar sebelum mamanya mengucapkan kata-kata.
Arsen berlari menuju kamarnya untuk memanggil Arcelo. Dia sungguh tidak sabar menemui Airin.
"Ayo kita ke rumah Airin, sebelum dia pingsan Arcelo," ajak Arsen
"Ayo," sahut Arcelo lalu dia berjalan keluar kamar Arsen.
Arsen senang sekali karena kini Airin akan tinggal di apartemennya, dia akan lega karena Airin nggak akan ketakutan lagi. Minimal kalau ada apa-apa dengan Airin, Arsen bisa sewaktu-waktu mengunjunginya tanpa takut digrebek oleh warga di sana.
Setibanya di rumah Airin, Arsen langsung mencari Airin, kebetulan rumah Airin tidak dikunci jadi Arsen langsung masuk saja. Arsen segera menuju kamar Airin dan ternyata Airin bersembunyi di balik selimut, dia menutup telinganya menggunakan headset untuk mengurangi suara petir yang dia dengar namun getar kaca masih bisa dia rasakan.
"Sayang," kata Arsen lalu menepuk Airin.
Aaaaaaaaaaaa
Airin berteriak sekeras-kerasnya, lalu dia membuka selimutnya.
"Arsen!" panggil Airin.
"Kamu kenapa teriak teriak," maki Arsen
"Aku kira maling," ucap Airin dengan terkekeh
"Di kampus sangat pemberani kalau di rumah cemen," ejek Arsen yang membuat Airin kesal.
"jangan mengejek kamu Arsen, memang aku sungguh ketakutan jika ada petir sehingga sifat pemberaniku hilang entah kemana," sahut Airin.
"Ya ya ya," timpal Arsen
Arsen pun tertawa sehingga membuat Airin bertambah kesal, lalu dia mencubit perut Arsen.
Mereka berdua akhirnya saling bergulat saling cubit dan menggelitik, Airin minta ampun pada Arsen karena dia tidak kuat geli.
"Sudah Arsen, sudah. Geli sekali," kata Airin
__ADS_1
"Iya, lebih baik kini kamu bersiap. Ambil baju kamu. Untuk sementara kamu tinggal di apartemen aku,"