4 Penguasa Kampus

4 Penguasa Kampus
Butuh dokter jantung


__ADS_3

"Lo sayang kamu kok ada di sini?" tanya Febri sambil bergelayut manja pada Reza.


"Ini siapa Reza?" tanya kekasihnya.


"Aku ini pacarnya Reza, kamu siapa?" tanya Febri yang kemudian merangkul Reza.


Reza nampak bingung, ingin menyingkirkan tangan Febri kok memang Febri juga ceweknya ingin membiarkan tangan Febri kok nggak enak dengan cewek yang ada di depannya.


"Aku juga ceweknya," jawab kekasih Reza. "Bisa kamu jelaskan ini sayang?" tanya kekasihnya pada Reza.


Reza rasanya ingin menghilang dari tempatnya sekarang, bagaimana bisa dia kepergok jalan ma ceweknya.


"Gimana ya jelasinnya," jawab Reza dengan menggaruk kepalanya yang nggak gatal.


"Aku saja yang jelasin, memang benar aku ini ceweknya Reza, kamu jadian semingguan yang lalu, dan kami saling cinta lo," sahut Febri dengan menatap Reza penuh dengan kebencian.


"Sakit kamu Reza, udah punya cewek masih saja ingin nambah," timpal kekasihnya.


Plak


Sebuah tepukan mendarat sempurna di pipi Reza, karena panas panas sakit Reza mengusap pipinya.


"Apa apaan kamu," maki Reza tak terima


"Itu nggak seberapa Reza, seharusnya kamu tu di tenggelamkan di lumpur Lapindo, biar tau rasa," sahut kekasihnya.


Setelah menampar Reza dia pergi begitu saja, sedangkan Febri dan Airin melambaikan tangan pada kekasih Reza mereka berdua senang sekali.


"Pasti sakit tuh," kata Airin dengan tertawa.


"Sakit ya sayang, duh.... Kasian sekali." Febri pura-pura mengelus pipi Reza.


"Iya, sakit," sahut Reza.


"Oh ya dari tadi aku lihat kamu menggaruk kepala kamu, gatal ya?" tanya Febri


"Iya sayang," jawab Reza


"Oh gitu, mungkin rambut kamu kurang sehat sayang, buah alpukat itu bagus lo untuk rambut," ucap Febri lalu mengambil jus alpukat dan menuangkan di kepala Reza.

__ADS_1


"Febri apa yang kamu lakukan, sick ya kamu!" maki Reza.


"Apa? aku sick! kamu tu yang sakit, crazy. Dasar buaya darat bego," sahut Febri tak terima.


Airin dan Febri tertawa keras lalu Airin mengambil es air kepala milik kekasih Reza tadi dan menuangkannya juga di kepala Reza.


"Dan ini kelapa juga bagus untuk kesehatan rambut," kata Airin yang semakin membuat Reza mengamuk.


"Woy, kamu apa-apaan sih!" omel Reza dengan mencengkeram lengan Airin.


Airin melepas cengkeraman Reza


"Itu untuk kekasihku yang kamu fitnah," sahut Airin lalu dia dan Febri meninggalkan Reza yang masih di tempatnya.


Airin bingung kini, bagaimana meminta maaf pada Arsen,


"Kita harus meminta maaf pada Arsen Rin," kata Febri.


"Iya Feb, kamu betul. Aku memang bodoh seharusnya aku tu mikir, kan nggak mungkin juga Arsen memukul tanpa sebab, dan sebabnya itu dia belain aku, tapi aku malah memarahinya dan menyuruhnya pergi," sahut Airin.


Mereka berdua nampak berfikir, apa Arsen mau memaafkan mereka atau nggak.


"Kelamaan Feb, bisa-bisa aku nggak bisa tidur nanti malam," sahut Airin


"So, kamu mau ke rumah Arsen?" tanya Febri


"Nggak lah, aku nggak enak ma Tante Arini dan Om Sean," jawab Airin. "Arsen sekarang kerja, A4 tu sepulang kuliah mereka bekerja," imbuh Airin


"Astaga Rin, hebat banget mereka," puji Febri


Dan Airin punya ide untuk menemui Arsen di kantornya, karena Airin tidak tau alamat kantor Papa Arsen, dia pun searching di google alamat Bryan Group, setelah mengantongi alamatnya Febri dan Airin pergi kesana dah kebetulan juga jaraknya nggak terlalu jauh dengan tempatnya sekarang.


Sesampainya di depan gedung Brian Grup mulut Febri dan Airin terbuka lebar sekali.


"Astaga Rin, megah sekali perusahaannya, ini kalo kamu nikah dengan Arsen kamu jadi nyonya besar lo Rin, jangan lewatkan kesempatan emas jadi nyonya sultan Rin," kata Febri dengan mata yang menatap gedung megah di depannya.


"Iya Feb, aku baru tau lo, Bryan Grup sebesar ini," sahut Airin.


Mereka hanya berdiri sambil terkagum-kagum dengan kemegahan Bryan Grup sehingga membuat penjaga keamanan datang menghampiri mereka.

__ADS_1


"Ada yang bisa dibantu nona-nona?" tanya petugas keamanan tersebut.


"Eh, iya pak, kami kesini mencari A4...." jawab Airin namun belum selesai melanjutkan perkataannya A4 keluar gedung Bryan Grup.


Mereka keluar dengan gaya-gaya CEO mereka. Mereka berempat berbeda sekali, biasanya berpakaian kasual saat di kampus dan kini mereka berpakaian formal dengan sepatu mengkilat.


Kebetulan sekali Aaron dan Artur diajak papa Daffa meeting di Bryan Grup jadi mereka pulang bersama.


Sedangkan para senior mereka masih ada urusan jadi pulangnya masih nanti.


"Astaga Rin, mereka cowok-cowok idaman banget, Reza lewat," kata Febri dengan mulut menganga.


Karena tak ingin A4 tau, Airin mengajak Febri untuk bersembunyi sehingga membuat petugas keamanan yang kebetulan masih berdiri di sana kesal.


"Dasar gadis-gadis aneh," umpat Petugas tersebut lalu kembali ke posnya.


"Rin, itu Lo mereka, kenapa kita malah sembunyi," protes Febri


"Aku nervous banget Feb, dengarlah degup jantungku, dia memompa darah dengan cepat, apa ini tanda-tanda kalau aku akan mengalami serangan jantung mendadak," kata Airin memucat.


"Kayake aku butuh dokter jantung deh Feb, tapi aku nggak punya uang, karena periksa dokter spesialis seperti itu mahal pastinya," imbuh Airin sambil melihat A4 dari kejauhan.


A4 kini sudah masuk mobil mereka,


"Padahal kamu nggak punya riwayat penyakit jantung, dan kamu juga nggak ada keturunan sakit jantung lalu kenapa ya Rin, jantung kamu berdegup kencang," kata Febri


"Entahlah Feb, aneh kan," sahut Airin


Degup jantung Arini semakin kencang saat mobil Arsen keluar dan melewati mereka yang bersembunyi.


"Feb, semakin kencang," ucap Airin.


"Kamu tu butuh dokter cinta bukan dokter jantung," sahut Febri kesal lalu dia pergi meninggalkan Airin yang masih di tempat persembunyiannya.


"Lalu kita kemana ini?" tanya Airin sambil berlari mengejar Febri


"Pulanglah, tadi ada A4 kamu malah bersembunyi," jawab Febri.


Airin nampak kecewa saat Febri mengajak pulang, dia masih kepikiran dengan Arsen.

__ADS_1


__ADS_2