
Sesuai ujian, Febri langsung berlari ke halaman kampus, nampak seorang lelaki tengah menjemputnya dan kebetulan sekali Arcelo melihatnya.
"Siapa tu cowok, ngapain menjemput Febri," batin Arcelo
Kini memang Febri menjauh dari Arcelo, dan entah mengapa ini membuat Arcelo tidak nyaman.
Dia ingin sekali Febri seperti dulu yang selalu mengejar dirinya bukannya seperti saat ini yang seolah tak peduli, bahkan kini seorang lelaki menjemputnya.
Arcelo terus saja memandang mobil yang menjauh,
"Aarrrgggg ada apa denganku, bukannya bagus kalau dia tidak mengejar aku, kalau ada lelaki yang dekat dengannya urusannya sama aku tu apa?" Arcelo bermonolog dengan dirinya sendiri.
Selama ujian A4 tidak bekerja karena para papa ingin anak-anak mereka fokus belajar bukannya fokus bekerja.
"Kita belajar ke apartemen yuk," ajak Arsen
"Pasti ujung-ujungnya kamu menyendiri di kamar, kami seperti obat nyamuk saja," sahut Arthur
"Betul," timpal Aaron
"Kita belajar sendiri-sendiri saja di rumah, lagian aku lagi malas kemana-mana ingin cepat-cepat pulang," ucap Arcelo
"Tumben, biasanya kamu sama Arthur paling senang keluar," kata Arsen
"Lagi nggak enak badan aku," kilah Arcelo
"Baiklah ayo kita pulang," ajak Aaron.
A4 kini pulang ke rumah masing-masing, begitu pula dengan Arsen, dia belajar di rumah sedangkan Airin meminta bimbingan dosennya lewat aplikasi video chat.
Arsen yang sudah rindu dengan Airin mencoba menghubunginya namun Airin selalu menolak panggilan darinya dan ini membuat Arsen kesal.
"Beraninya dia menolak panggilan dariku" kata Arsen, karena tak ingin larut dalam kekesalan Arsen pergi ke apartemennya untuk menemui Airin.
Saat masuk suasana nampak sepi lalu Arsen naik ke lantai atas dan pergi ke kamarnya, lirih terdengar Airin sedang tertawa karena pintu kamar terbuka sedikit.
Arsen segera membuka pintu kamarnya, nampak Airin bercanda gurau asik dengan seseorang di layar ponselnya.
"Pantes aku hubungi nggak diangkat, ternyata dia asik-asikan dengan pria lain," gumam Arsen dengan mengepalkan tangannya.
Dengan langkah cepat Arsen mendekati Airin yang duduk di kursi dengan banyak buku-buku di depannya.
Arsen segera mematikan ponsel Airin lalu dia melempar Airin di tempat tidur.
"Kelihatannya kamu memang harus dihukum," kata Arsen dengan mata yang dipenuhi amarah.
"Arsen kamu apa-apaan, aku lagi belajar," sahut Airin
"Belajar tapi genit-genit gitu sama dosen kamu yang jelek itu," timpal Arsen
Tak ingin banyak cincong, Arsen segera menindih tubuh Airin lalu melahap bibir Airin, permainannya kali ini sedikit kasar karena Arsen sedang sensi seperti wanita yang datang bulan.
Airin mencoba meronta namun usahanya sia-sia mengingat tenaga Arsen jauh lebih besar.
__ADS_1
Tak hanya bibir Arsen, juga meninggalkan gigitan cintanya di leher Airin
"Sudah Arsen," ucap Airin disela de*sah kecilnya.
"Nggak," kata Arsen lalu melanjutkan kembali aksinya.
Leher Airin penuh warna merah kebiruan, bibir Arsen seperti vacum cleaner yang menyedot dengan kuat.
"Sudah Arsen, sudah ah," pinta Airin
Arsen segera menyudahi aksinya, "Kalau besok lagi aku lihat kamu bercanda gurau lagi, hukuman kamu akan aku tambah. Tak hanya bibir dan leher, tapi kedua gunung kamu akan aku jelajahi juga," ancam Arsen yang membuat Airin menelan saliva.
Mendengar ancaman dari Arsen, otak Airin berkelana kemana-mana, dia membayangkan kalau Arsen menjelajah pegunungan miliknya.
"Aaaaaaaa tidak, aku nggak mau. Aku masih bocil," teriak Airin yang membuat Arsen tertawa.
Arsen yang gemas mencubit hidung Airin, "Kamu itu sudah dewasa," kata Arsen.
Airin menatap Arsen dengan kesal lalu dia turun dari ranjang dan melihat lehernya.
"Astagfirullah, ini leher aku kenapa jadi begini," ucap Airin
"Tanda cinta dari aku," sahut Arsen
"Dasar cabul," timpal Airin
"Nggak akan cabul kalau kamu nggak buat aku marah," ucap Arsen
"Aku kan lagi belajar Arsen," timpal Airin.
"Memangnya gimana?" tanya Airin
"Ya duduk sambil membaca buku atau menulis sesuatu. Bukannya malah bercanda gurau, itu belajar apa lagi pacaran," jawab Arsen dengan ketus
Airin tertawa kecil, kekasihnya sungguh posesif sekali.
***********
Waktu terus berlalu kini ujian sudah selesai, untuk merayakannya Raisa mengadakan pesta yang bertepatan juga dengan hari lahirnya.
Raisa mengundang A4, tak hanya A4 dia juga mengundang teman-teman yang lain termasuk Airin dan Febri. Mama dan papa Arsen juga datang mengingat hubungan keduanya sudah sangat baik.
"Airin ini undangan untuk kamu," kata Raisa sambil menyodorkan undangan pada Airin.
"Makasih," sahut Airin
"Datang ya Airin biar rame acaranya," ucap Raisa dengan tersenyum.
"Akan aku usahakan tapi aku nggak janji," timpal Airin
"Pokoknya harus datang, ok!" Raisa lalu pergi.
Dalam undangan Raisa, semua wajib memakai dress dan dia tidak memiliki dress.
__ADS_1
"Ada-ada saja, kenapa pakaian juga diatur ma Raisa kan aku nggak punya dress," gumam Airin.
Kini Raisa memberikan undangannya pada A4.
"Datang ya guys," pinta Raisa
"Ok Raisa," sahut Arthur bersemangat
"Airin kamu undang apa tidak?" tanya Arsen
"Iya aku undang kok," jawab Raisa
"Febri?" tanya Arcelo
Mendengar pertanyaan Arcelo membuat semua mata menatapnya
"Kenapa kamu tanya Febri?" tanya Aaron
"Aku curiga ada yang lagi fall in love nih," sahut Arthur
"Aku undang kok Arcelo," jawab Raisa.
A4 melihat undangan Raisa, "Dia mewajibkan kita berpakaian formal," kata Arsen
"Iya," sahut Aaron.
Seusai pulang kuliah, Arsen mengajak Arcelo, Arthur dan Aaron ke mall.
"Ngapain sih Arsen kita ke mall?" tanya Aaron
"Jalan-jalan lah, lama kita nggak nge Mall bareng," jawab Arsen.
"Tumben," sahut Arthur curiga.
Sebenarnya Arsen mengajak mereka ke mall untuk membeli baju buat Airin, tak hanya itu dia juga ingin membelikan hadiah untuk Raisa.
Arsen mengajak temannya ke sebuah butik, dia meminta pertimbangan temannya.
"Kira-kira ini cocok untuk Airin apa nggak?" tanya Arsen
"Astaga naga Arsen, ternyata dia itu mau membelikan Airin baju," ucap Arthur kesal.
Arsen menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Itu kurang cocok untuk Airin, baju dengan garis horizontal akan membuat Airin kelihatan lebih pendek, lebih baik cari corak garis vertikal kalau nggak gitu coba cari baju-baju yang berwarna gelap saja, karena itu bisa memberi kesan tinggi," jawab Aaron.
Arsen melongo mendengar jawaban Aaron, tenyata Aaron modis juga.
Aaron pun mencarikan dres untuk Airin, saat ketiga temanya sibuk dengan dres untuk Airin Arcelo juga sibuk dengan dres buat Febri namun Arcelo membelinya saat teman-temannya pergi.
Seusai mendapatkan baju untuk Airin, mereka mencari hadiah untuk Raisa.
Akhirnya mereka sepakat memberikan Raisa perhiasan, jadi mereka membeli anting, kalung, gelang dan juga cincin kemudian membungkusnya jadi satu.
__ADS_1
Setelah belanja, mereka berniat untuk pulang.
"Oh ya kalian pulang dulu saja, aku ada urusan mendadak," kata Arcelo lalu bergegas kembali masuk ke dalam mall.