4 Penguasa Kampus

4 Penguasa Kampus
Suara gaib di kamar mama dan papa


__ADS_3

"Kamu di rumah saja, papa mau bertanya sesuatu padamu," kata Papa Sean.


Arsen menatap papanya dengan lekat, ada apa gerangan papanya ingin bertanya sesuatu padanya, perasaan dia tidak melakukan kesalahan apa-apa.


Tak hanya Arsen Mama Arini juga dibuat heran, ada apa suaminya menahan Arsen untuk nongkrong dengan A4 lainnya.


"Ada apa sih sayang?" tanya mama Arini yang jiwa keponya mencuat ke permukaan.


"Iya nih papa, ada apa sih," sahut Arsen.


Kemudian Arsen membuka ponselnya dan menunjukkannya pada Arsen dan juga istrinya. Dia mendapatkan laporan kalau dia mendapatkan tagihan yang nilainya meskipun nggak banyak namun cukup membuat Papa Sean bertanya-tanya.


"Kamu menggunakan kartu kredit kamu untuk apa?tanya Papa Sean yang membuat Arsen menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Mama Arini juga menatap anaknya dengan raut wajah yang kesal, "Come on pa ma, Arsen hanya menggunakan tujuh juta saja kenapa jadi masalah sih, biasanya puluhan sampai ratusan juta papa fine dan ok," kata Arsen yang membuat Papa dan mamanya saling pandang.


"Bukan begitu masalahnya kamu menggunakannya di sebuah mini market, untuk apa kamu belanja di minimarket dengan nominal tujuh juta, lalu mana belanjaan dengan nominal tujuh jutanya?" tanya Papa Sean yang mampu membuat Arsen hanya menjawab anu, anu dan anu.


"Anu pa, anu, anu," jawab Arsen bingung harus menjawab apa.


"Arsen jawab, atau kamu mau mama dan papa menyita kartu kredit kamu," ancam Mama Arini yang membuat Arsen membolakan matanya.


"Iya, iya jangan gitu dong ma. Its not fair," kata Arsen kesal.


"Mangkanya jawab!" bentak mama Arini.


"Mama galak sekali, kan Arsen jadi takut," ucap Arsen dengan terkekeh.


"Kebanyakan cincong, mau mama smackdown," ancam Mama Arini yang sudah menaikkan lengan bajunya.


"Galak sekali seperti Airin," kata Arsen keceplosan.


Mama Arini dan papa Sean saling pandang, mendengar sebuah nama disebut oleh Arsen.


Arsen yang keceplosan menutup mulutnya, dan mau melarikan diri namun teriakan Mamanya membuatnya berbalik.


"Gak ada sopan-sopannya, orang tua belum selesai bicara main mau kabur," maki Papa Sean.


Akhirnya Arsen pasrah dengan nasibnya dan duduk di sofa seperti narapidana yang disidang oleh hakim.

__ADS_1


"Baiklah, baiklah. Tadi Arsen buat untuk membelanjakan Airin dan ibundanya. Airin adalah junior Arsen di kampus, dulu ibundanya yang menyewa stand kantin di kampus. Laporan selesai, jika ada yang kurang jelas bisa langsung ditanyakan," kata Arsen.


Papa Sean dan mama Arini senyum-senyum sendiri, dia tau kalau Arsen mulai terjangkit virus cinta yang konon katanya sungguh mematikan yang mampu membuat orang tidak berfikir jernih dalam bertindak bahkan mampu menjadi budaknya.


"Apa dia cantik?" tanya Papa Sean menggoda anaknya.


"Cantik apaan bar bar sama seperti mama, jelek juga, pendek dan juga pesek," jawab Arsen


"Apa! jadi menurutmu mama jelek?" kata Mama Arini penuh penekanan.


"Memang kamu jelek sayang," sahut papa Sean.


Mama Arini kini berganti melemparkan tatapan mautnya ke Papa Sean, mereka berdua terlihat cekcok yang memang sering mereka lakukan sejak dulu.


"Ya sudah nikmati debatnya, Arsen mau mandi dulu," kata Arsen lalu bergegas kabur mumpung ada cela.


"Nggak ada jatah malam ini," ancam Mama Arini


"Astaga sayang, iya iya maaf," ucap Papa Sean mencoba merayu mama Arini.


Tanpa aba-aba Papa Sean menggendong mama Arini ala bridal lalu membawanya ke kamar.


Meskipun usia sudah dibilang cukup berumur namun Papa Sean masih tidak absen jika urusan ranjang. Beliau tetap eksis dan seperti dulu mama Arini tidak pernah menolak jika suaminya ingin panjat memanjat.


"Boleh boleh," sahut Papa Sean lalu bersiap untuk memanjat mama Arini.


Di kamarnya, Arsen senyum-senyum sendiri sambil melihati ponselnya, dia tanpa sengaja mengambil foto-foto Airin, "Arrrggg kamu sudah membuat aku gila Airin," kata Arsen frustasi.


Kemudian dia menghubungi A4 lainnya dan ingin menyusul nongkrong.


Arsen ingin pamit pada orang tuanya namun saat hendak mengetuk pintu samar-samar Arsen mendengar suara-suara gaib dari dalam sehingga membuat Arsen merinding lalu bergegas pergi.


"Ah, mama dan papa selalu membuat otakku traveling kemana-mana, salah-salah aku masih kecil belum cukup umur jika manjat wanita," gumam Arsen.


Lalu Arsen mengeluarkan mobilnya, dia segera melajukan mobilnya keluar rumah, sepanjang perjalanan dia masih teringat akan suara gaib yang dia dengar dari kamar mama papanya.


Tak selang berapa lama dia sampai di club' milik Arthur, dia langsung masuk dan duduk.


Anggota A4 lainnya saling pandang heran dengan Arsen.

__ADS_1


"Kamu kenapa Arsen, datang-datang lemah lesu gitu?" tanya Arthur


"Otakku traveling karena habis mendengar suara gaib di kamar mama dan papa aku," jawab Arsen


Anggota A4 tertawa renyah, ini bukan kali pertama Arsen mengeluh tentang hal itu bahkan anggota A4 lainnya juga iya. Mereka sering mendapati mama dan papa mereka panjat panjatan malam-malam.


"Bukan rahasia umum lagi Arsen, mama dan papa kita memang maniak sekali, tua-tua bukannya pensiun tapi malah aktif," sahut Arthur


"Betul, papaku yang paling bijak diantara papa kalian pun kalau soal panjang memanjat juga jago," timpal Aaron.


"Aku tidak menyangka lo, om Daffa juga penggila panjat memanjat, bearti nanti kamu juga gitu Aaron,' sahut Arcelo


"Kamu juga iya," ucap Aaron.


Mereka semua tertawa, otak mereka jadi traveling ketika mereka punya istri nanti, dan diantara mereka berempat Arsen lah yang terlihat menghayati travelingnya, hingga A4 lainnya geleng-geleng kepala.


"Kamu menghayati sekali Arsen?" tanya Arcelo


"Eh, apa?" jawab Arsen


"Nggak papa," sahut Aaron.


Saat bersamaan terdengar datanglah rombongan wanita, dan ternyata itu adalah Wanda CS, melihat Ada A4 di sana membuat Wanda mendekati mereka.


"Halo A4?" tanya Wanda.


"Hai," jawab Arthur.


Merasa tidak senang, mereka berempat pergi ke private room mereka.


"Lo Lo kok pada pergi," protes Wanda.


"Iya, di sini mulai gerah," ucap Arcelo.


Wanda dan CS sangat kesal sekali dengan A4, padahal mereka ingin nongkrong dengan A4 namun A4 malam pergi.


"Brengsek," umpat Wanda.


Selesai memanjat mama Arini papa Sean keluar dan mencari Arsen namun Arsen sudah tidak ada di kamarnya.

__ADS_1


"Cepat sekali perginya, ditinggal memanjat satu jam sudah menghilang," gumam Papa Sean lalu menutup kembali kamar anaknya.


Papa Sean melangkahkan kaki ke ruang kerjanya untuk melihat laporan perusahaannya, rencananya dia ingin Arsen ikut bekerja, mengingat kini Arsen telah mencintai wanita, biar kalau mentraktir wanitanya Arsen tidak selalu menggunakan uang orang tua.


__ADS_2