
Pelayan tersebut meminta Airin menunggu sebentar lalu dia naik ke atas untuk lapor ke Arsen dan Arsen meminta pelayan untuk membawa masuk ke kamarnya.
"Temanku siapa ya?" gumam Arsen
Pelayan meminta Airin untuk ke kamar Arsen, dan betapa kagetnya Arsen kalau yang datang Airin.
"Sayang," teriak Arsen senang
Airin tersenyum lalu mendekat dimana Arsen berada.
Tanpa aba-aba Airin memeluk Arsen, "Aku tadi tu seperti orang gila nyari kamu, tumben nggak nemuin aku," kata Airin.
"Kamu mau bayar hutang kamu ya sayang?" tanya Arsen
"Nggak eh iya," jawab Airin plin plan.
Arsen melerai pelukannya dan langsung menyambar bibir Airin namun Airin mendorong tubuh Arsen sekuat-kuatnya.
"Ih, rasanya mulut kamu pahit banget. Kamu habis minum obat ya," kata Airin lalu mengambil tisu.
"Hehe iya sayang, masak terasa sih," protes Arsen
"Lidah kamu berasa pahit banget Arsen," ucap Airin lalu mengambil minum.
Airin melihat semangkok bubur, lengkap dengan susu serta teh.
"Ini makan siang kamu?" tanya Airin
"Iya sayang, tapi aku malas makan," jawab Arsen
"Tapi kamu harus makan Arsen supaya cepat pulih lalu bisa kuliah lagi. Apa kamu nggak ingin setiap hari ketemu aku," sahut Airin.
"Aku suapin ya?" tanya Airin kemudian.
Arsen mau nggak mau mengangguk dan makan makananya meskipun dia enggan sekali untuk makan. Satu suap, dua suap hingga bubur habis tak bersisa.
Setelah kenyang Airin meminta Arsen untuk istirahat karena dia ingin pulang namun Arsen melarangnya.
"Kamu harus istirahat Arsen, Aku mau pulang dulu," kata Airin
"Nggak mau, aku ingin bersama kamu," sahut Arsen
"Aku temani tidur ya, setelah kamu tidur aku akan pulang," timpal Airin.
"Pulangnya nanti saja," pinta Arsen.
Airin mengangguk lalu duduk di bangku samping ranjang Arsen.
Airin mengelus rambut Arsen, otaknya traveling kemana-mana, dia membayangkan hal-hal yang berbau dewasa yang membuat Airin geli sendiri.
"Kamu cengar cengir pasti mendoakan aku jelek ya?" Arsen berburuk sangka pada Airin.
__ADS_1
"Kamu tu ya, gini-gini aku selalu mendoakan yang terbaik buat kamu, mana mungkin aku mendoakan jelek pada orang yang amat sangat aku cintai," omel Airin.
Arsen tertawa, dia sangat senang sekali karena Airin juga sangat mencintainya.
"Seberapa cinta sih kamu sama aku?" tanya Arsen
"Cintaku itu seperti benih, yang akan selalu tumbuh hingga menjadi pohon besar yang rindang, meski suatu saat pohon itu mati tapi akan tumbuh benih-benih baru," jawab Airin.
"Makasih sayang, aku beruntung sekali dicintai kamu," sahut Arsen
"Aku juga Arsen, terima kasih atas cinta yang dalam untukku," timpal Airin.
Karena pengaruh obat, perlahan mata Arsen mulai menutup, dia mencoba menahan rasa kantuknya karena dia ingin bercanda dengan Airin namun kelihatannya matanya tidak bisa diajak kerja sama.
Nafas Arsen sudah teratur yang menandakan Arsen telah terlelap.
Airin yang semalam kurang tidur juga sangat mengantuk, dia tidur dengan posisi duduk dengan kepala di tempat tidur Arsen. Airin menggunakan tangannya untuk bantal.
Kini mereka berdua melanjutkan canda guraunya di alam mimpi.
Di B.A grup papa Sean nampak resah gelisah tak menentu karena mama Arini mengabari kalau punggungnya sakit.
"Nick aku pulang dulu, Arini sakit," kata Papa Sean lalu memberesi mejanya.
"Apa akan melahirkan?" tanya Papa Nick
"Belum, masih lama," jawab papa Sean.
"Sh*it macet lagi, ada apa sih di depan," gerutu papa Sean.
Papa Sean ingin putar balik namun dia sudah berada di tengah. Tidak ada yang bisa papa Sean lakukan selain menunggu macet terurai dengan sabar
Selama dua jam, papa Sean terjebak kemacetan dan kini jalan sudah normal kembali.
"Macet sialan seharunya aku sudah mencium istriku dan mendengar keluhannya," umpat papa Sean lalu segera melajukan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi.
Tak berselang lama, Papa Sean sampai di rumah. Matanya menatap motor yang terparkir di halaman,
"Motor siapa sih ini, mengganggu saja. Nggak tau apa motor dilarang parkir di sini," gerutu Papa Sean.
Kemudian Papa Sean masuk dan segera pergi ke kamarnya.
Saat membuka pintu dia melihat istrinya membaringkan tubuhnya di tempat tidur
"Kamu kenapa sayang?" tanya papa Sean.
"Punggung aku sakit, rasanya kenceng dan pegel," jawab mama Arini.
Seperti Arsen, papa Sean juga menasehati adik Arsen dia bilang nggak boleh nakal-nakal di perut atau nggak akan dilahirkan. Mama Arini hanya bisa menggelengkan kepala, sedari dulu suka sekali mengancam orang, bahkan calon bayi sendiri juga diancam.
"Bisa-bisanya anak sendiri diancam," gerutu mama Arini
__ADS_1
"Hal tersebut terkadang perlu sayang biar dia nggak nakal," sahut papa Sean.
Sempat berdebat sebentar lalu papa Sean memijat dan mengelus punggung mama Arini dan ini membuat pegal dan kencangnya hilang.
"Arsen bagaimana? sudah sembuh?" tanya papa Sean.
"Entah aku belum menengoknya lagi, tapi tadi sempat bercanda dengan gengnya, dia nampak baik baik saja," jawab mama Arini
"Ya sudah biar aku tengok lebih dulu," kata papa Sean lalu beliau beranjak.
"Aku ikut," teriak mama Arini
"Ayo," sahut papa Sean lalu menyodorkan telapak tangannya.
Mama Arini segera menerima sodoran telapak tangan Papa Sean.
"Pasti Arsen tidur," kata mama Arini.
Mama Arini dan papa Sean kaget saat masuk dalam kamar Arsen, nampak Airin yang tidur menemani Arsen dengan posisi duduk namun kepala di ranjang Arsen.
"Lihatlah anak kamu," kata mama Arini
"Anak kamu juga," sahut papa Sean
"Tapi gennya lebih banyak gen kamu," timpal mama Arini
"Iya karena wanita itu hanya wadah," ucap papa Sean yang seketika membuat mama Arini emosi.
"Apa? coba ulangi lagi," teriak mama Arini.
"Wanita itu wadah," ucap papa Sean.
"Hey tanpa ada wanita lelaki itu tak ada apa-apanya, enak saja bilang wadah. Banyak wanita yang bisa hidup tanpa lelaki Sedangkan lelaki baru ditinggal mati, kuburan istrinya juga masih belum kering udah nikah lagi," sahut papa Arini
"Ada yang nggak, jangan memukul rata," protes papa Sean
"Mayoritas, bukan minoritas," ucap mama Arini.
Mama Arini dah papa Sean terlibat debat sengit, semua gara-gara satu kata yaitu wadah.
Yang awalnya berdiri kini mereka duduk di sofa,
"Nyesel aku pulang," kata papa Sean
"Ya udah sana balik lagi kalau nyesel," timpal mama Arini
"Males, pulang tadi perjuangan banget, terjebak macet dua jam, ingin segera pulang karena khawatir istri tapi mirisnya setelah sampai rumah malah diajak debat.
Mama Arini nampak menyesal, lalu diapun memeluk suaminya.
"Maafkan aku sayang,"
__ADS_1