
"Sudahlah Arsen, aku cukup sadar diri sekarang. Lebih baik kita putus," kata Airin
Arsen menatap Airin dengan tajam, kilatan-kilatan amarah terlihat di sana.
"Ulangi lagi," pinta Arsen dengan dingin
Airin sedikit takut, sungguh terlihat Arsen dikuasai amarah.
"Aku bilang ulangi lagi!" teriak Arsen yang membuat Airin tersentak kaget.
"Aku mau kita putus." Airin juga berteriak.
"Enak sekali kamu putus, kamu pikir cintaku ini sebuah layang-layang yang bisa ditarik ulur sembarangan, kamu pikir juga es teh plastikan yang seenaknya kamu letakkan dan ditinggal begitu saja, kalau ngomong tu mikir pakai otak jangan pakai dengkul, menurut kamu apa yang telah kita jalani itu apa? bohongan? fiktif semata? akting seperti artis-artis di tv? nggak waras kamu Airin" kata Arsen dengan nafas yang memburu karena marah.
"Kamu pikir cintaku ini hanya sebuah permainan yang bisa kamu mainkan Airin," imbuh Arsen
"Lalu bagaimana dengan aku Arsen, kamu membelikan aku dress indah, tapi di sana aku kamu abaikan, kamu ngobrol nyaman dengan Raisa keluarganya dan keluarga kamu, menurut kamu aku harus apa? diam dan seolah tak terjadi apa-apa gitu? aku juga sakit melihat wanita bergelayut manja di tangan kamu dan kamu hanya diam tanpa berusaha menolaknya," sahut Airin dengan menangis
"Aku tahu aku tidak seperti Raisa. Raisa dari keluarga up yang punya segalanya tidak seperti aku yang hanya remahan rengginang Arsen yang tidak akan dilirik sama sekali," imbuh Airin.
__ADS_1
"Mungkin alangkah baiknya jika kita putus, mungkin cinta kamu ke aku hanya cinta monyet yang dengan mudah bisa kamu lupakan." Airin terus bicara dan ini membuat Arsen semakin kesal.
"Sudah ngomongnya?" tanya Arsen
Airin mengangguk dan melemparkan tatapannya sembarang.
"Ok Airin, ok fine. Aku akui aku salah. Aku minta maaf tapi bukan bearti kamu langsung ingin putus dari aku, kita bisa bicara baik-baik," kata Arsen.
"Sudahlah Arsen, kamu itu lebih cocok dengan Raisa daripada aku, kalian itu selevel Arsen. Aku malas mikirin kamu dengan wanita lain, mumet tau nggak lebih baik aku cicil motor yang sama-sama mumetnya tapi ada hasilnya daripada mumet mikir kamu," sahut Airin.
"Kamu bandingin aku dengan cicil motor? parah kamu Airin," timpal Arsen
"Perumpamaan," tegas Airin.
Airin mengangguk, dengan air mata yang menetes.
Arsen yang sudah marah, menarik tangan Airin dan membuangnya ke tempat tidur.
"Apa yang akan kamu lakukan Arsen?" tanya Airin dengan memucat.
__ADS_1
"Kamu kan minta putus jadi aku ingin cinderamata dari hubungan kita," jawab Arsen
"Apa maksud kamu Arsen?" tanya Airin
"Aku ingin menanam benih aku di rahim kamu, aku nggak peduli dengan mama dan papa, nggak peduli dengan kamu dan nggak peduli dengan bunda dan ayah kamu Airin, dari awal aku sudah bilang kalau kamu itu milik aku, sampai ke ujung dunia kamu akan aku kejar, tapi kini dengan mudahnya kamu ingin meninggalkan aku," jawab Arsen dengan melepas blazer yang dia kenakan lalu dia melepas kaosnya.
"Arsen jangan melakukan hal bodoh Arsen, kita bisa bicara baik-baik," bujuk Airin.
"Nggak ada yang harus dibicarakan Airin, kalau nggak gini kamu akan bersikeras meninggalkan aku," sahut Arsen.
Kini Arsen membuka ikat pinggangnya, dan Airin semakin memucat.
"Arsen, please jangan lakukan itu. Kita belum menikah. kata pak ustad ini dosa besar Arsen, kamu tau kan hukuman orang yang berzina?" bujuk Airin
"Aku tau, dosanya memang besar tapi aku bisa apa, daripada kamu meninggalkan aku," ucap Arsen tidak peduli.
Airin terus mundur dan kini dia membentur kepala ranjang Arsen, dan saat hendak kabur Arsen sudah menarik tangan Airin dan mengungkungnya.
"Arsen please jangan," pinta Airin.
__ADS_1
"Baiklah aku akan menarik kata-kataku kembali, maafkan aku, kita nggak usah putus," bujuk Airin.
"Aku nggak percaya Airin, bisa jadi setelah ini kamu kabur meninggalkan aku," sahut Arsen.