4 Penguasa Kampus

4 Penguasa Kampus
Jatah memang penting


__ADS_3

Mama Arini nampak menyesal, lalu diapun memeluk suaminya.


"Maafkan aku sayang," kata mama Arini.


"Kalau minta maaf berguna untuk apa ada polisi," sahut Papa Sean.


"Lantas, kamu mau apa?" tanya mama Arini.


Keributan mama dan papa Arsen membuat Airin terbangun namun dia pura-pura masih tidur karena takut, dia tak menyangka kalau dia bakal ketiduran dan kini dia terjebak, pura-pura tidur adalah yang bisa Airin lakukan saat ini.


Tapi sedikit sedikit dia mengintip mama dan papa Arsen.


Papa Sean menaikkan dagu mama Arini dan langsung melahap bibir mungil istrinya dan ini tentu membuat Airin menutup rapat-rapat matanya.


Papa Sean dan mama Arini semakin dibuai dengan gelora panas dalam jiwa mereka bahkan tangan papa Sean bergerilya kemana-mana.


Airin yang lagi-lagi mengintip harus melihat tangan papa Sean hiking ke pegunungan Himalaya mama Arini.


"Mataku mataku," batin Airin.


Tubuh Airin panas dingin sekarang, dia terjebak dalam suasana yang tidak mengenakkan. Dia sungguh tidak berani bergerak takut mengganggu calon mertuanya yang lagi enak enakkan melukis senja dan mendaki gunung himalaya.


"Arrrggg itu ngapain tangan papa Arsen, haduh gimana nih," batin Airin.


Lalu tangan Airin mencubit tangan Arsen berharap Arsen bangun.


"Arsen please bangun, selamatkan aku dari situasi seperti ini Arsen." Airin bermonolog dengan dirinya sendiri.


Arsen tak kunjung bangun, dan Airin agak keras mencubitnya hingga Arsen menggeliat, namun bukannya bangun Arsen malah menjauhkan tangannya dari tangan Airin.


"Aaaaa gimana ini," kata Airin lagi dalam hati.


Papa Sean kini melukis senja di leher mama Arini dan ini membuat mama Arini men*de*sah dan ini membuat Airin semakin panas dingin.


"OMG, ya ini yang membuat Arsen dewasa sebelum waktunya," gumam Airin dalam hati.


Airin yang tidak sanggup lagi pura-pura menangis sambil memanggil manggil nama Arsen, untung dia jago akting nangis jadi meskipun pura-pura matanya tetap bisa mengeluarkan air mata.


"Arsen.... Jangan tinggalkan aku Arsen," kata Airin dengan menangis dan tentu ini membuat Mama Arini dan papa Sean menghentikan aktivitas panasnya.


"Anak ini mengganggu saja," umpat Papa Sean


"Dia mengigau," sahut mama Arini.


Saat hendak melanjutkan aksi panasnya kembali Airin lagi-lagi menangis bahkan tangisnya semakin kencang mama dan papa Arsen dibuat panik.


Mama Arini mendekati Airin yang sedang menangis.


"Airin, Airin," panggil mama sambil menepuk bahu Airin.

__ADS_1


"Jangan, jangan tinggalkan aku Arsen." Airin pura-pura mengigau.


Mama Arini yang takut menepuk lebih keras bahu Airin.


"Auww sakit juga tepukan mama Arsen," umpatnya dalam hati.


Perlahan Airin membukan matanya tentu matanya kini penuh dengan air mata buaya.


Melihat mama Arini, Airin melanjutkan aktingnya, dia memeluk mama Arini dan melanjutkan tangisnya.


"Aku takut Tante, Arsen meninggalkan aku. Aku mimpi dia kecelakaan dan tidak ingat padaku Tante," kata Airin pura-pura.


Airin tak hanya pandai berakting tapi dia ahli mengarang cerita untuk meyakinkan mama kekasihnya tersebut.


"Tenang itu hanya mimpi." Mama Arini mencoba menenangkan Airin dan menghapus air matanya.


"Tu lihat Arsen lagi tidur," imbuh mama Arini.


Papa Sean yang adegan dewasanya terganggu memarahi Airin.


"Hey bocil, kamu tu mengganggu saja," omel Papa Sean


"Mengganggu apa ya om?" tanya Airin pura-pura tidak tau


"Sudahlah, sana tidur lagi," titah papa Sean


"Nggak mau om, takut mimpi buruk lagi," sahut Airin


"Ya sudah saya pulang saja om, maaf menganggu waktu om dan tante," pamit Airin


"Kok buru-buru nanti Arsen pasti nyari," sahut mama Arini


"Tadi Airin udah pamit kok Tante sama Arsen," timpal Airin.


Saat hendak melangkahkan kakinya suara Arsen mengagetkan Airin.


"Siapa yang menyuruh kamu pulang?" tanya Arsen dengan menguap.


Airin menghentikan langkahnya, dia nampak melemas padahal selangkah lagi udah bisa terbebas dari kelaurga Arsen. Perlahan Airin membalikkan tubuh.


"Maaf Arsen, aku pikir kamu harus istirahat jadi aku pulang saja, lagian nggak enak sama om dan tante," jawab Airin dengan terkekeh.


Papa Sean yang sudah ingin memanjat mengkode mama Arini untuk ke kamar.


"Lebih baik kita ke kamar sayang, biarkan mereka berdua mengobrol, tapi ingat pintu biarkan terbuka jangan ditutup dan jangan macam-macam," ucap papa Sean.


Kini mama dan papa Arsen meninggalkan kamar anaknya.


Setibanya di kamar papa Sean langsung saja membuang jasnya, dia melucuti bajunya satu persatu dan mencumbu mama Arini.

__ADS_1


"Atur ya sodokan rudal kamu takut kalau adik Arsen ngambek," kata Mama Arini


"Iya iya, pelan-pelan Kok paling enam puluh sodokan permenit," sahut Papa Sean


"Ingat jangan lebih." Mama Arini mengingatkan papa Sean.


"Iya iya sayang," sahut papa Sean.


*************


Di kamar Arsen, Airin duduk di samping Arsen. Dia mengecek suhu tubuh Arsen.


"Udah turun," kata Airin


"Apa yang kamu rasakan?" tanya Airin kemudian


"Udah nggak merasakan apa-apa, tubuhku lebih fresh," jawab Arsen.


"Ya udah kalau udah sembuh aku pulang dulu," ucap Airin yang membuat Arsen menarik tangan Airin.


"Kamu kenapa sih, nggak ingin nemenin aku! aku ini lagi sakit lo, aku butuh kamu," maki Arsen


"Bukan begitu Arsen tapi aku harus pulang, nggak enak dengan Mama dan papa kamu." Airin mencoba memberi alasan pada Arsen yang tentu alasan tersebut tidak diterima Arsen.


Tanpa banyak kata Arsen langsung saja mengungkung Airin di bawahnya.


Airin memucat dan menengok ke arah pintu.


"Nanti kalau mama dan papa kamu lihat bisa disidak lagi kita," kata Airin


"Mereka nggak akan kesini, karena saat ini pasti mereka main panjat panjatan," sahut Arsen


"Kamu kok tau?" tanya Airin


"Taulah kan aku anak mereka," jawab Arsen.


Airin terkekeh mendengar jawaban Arsen, meskipun anaknya tapi seharusnya hal intim seperti itu nggak jadi rahasia umum.


"Eh Arsen tapi orang tua kamu suka banget ya hal seperti itu meskipun usianya sudah nggak muda lagi, berbeda dengan bunda dan ayah aku." Arini membandingkan orang tua Arsen dan orang tuanya.


"Justru itu yang membuat mama dan papa langgeng sayang, meskipun sering debat tapi mereka itu so sweet yang muda saja kalah," kata Arsen


"Masak hal itu membuat langgeng?" tanya Airin


"Iya lah, lihatlah orang yang nggak dikasih jatah pasangannya, mereka pasti selingkuh itu mutlak udah jadi hukum alam, mangkanya banyak kan Tante-tante cari brondong untuk memuaskan hasratnya, begitu juga om om yang cari cabe-cabean," jelas Arsen.


Airin manggut-manggut dengan penjelasan Arsen, memang benar apa yang dikatakan Arsen kalau hubungan intim dalam suatu hubungan halal memang penting. Dan kuncinya saling komunikasi.


Asik mengobrol tiba-tiba Arsen mendekatkan bibirnya ke bibir Airin dan pautan tak terelakkan.

__ADS_1


"Astagfirullah, woy....!!!"


__ADS_2