
"Ada apa ini?" tanya Sean yang diikuti oleh Papa Nick di belakangnya.
"Ini tuan besar, motornya mogok," kata Supir
"Motor seperti ini kenapa masih dipake seharusnya dibuang, percuma diperbaiki," sahut papa Sean.
Mama Arini nampak tidak enak dengan Airin, sedangkan Airin menatap Papa Sean dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Astagfirullah pantesan Arsen seperti ini la papanya macam gini juga," batin Airin.
Papa Sean dan Nick mendekati mama Arini dan yang lainnya termasuk Arsen dan kawan-kawan.
Tanpa malu seperti biasanya Papa Sean langsung mencium mama Arini sehingga membuat Airin yang tak biasa melihat adegan mereka menutup matanya dengan tangan namun karena penasaran akhirnya dia membuka jari-jarinya sehingga masih bisa melihat papa Sean mengecup bibir mama Arini.
Mama Arini yang sadar kalau Airin mengintip dibalik tangannya sedikit mendorong tubuh Papa Sean sehingga pautan mereka terlepas.
"Lihatlah nggak enak sama Airin," kata Mama Arini yang membuat Papa Sean melihat Airin.
"Jadi dia yang bernama Airin?" tanya papa Sean
"Iya pa, jelek ya?" jawab Arsen lalu meminta pendapat papanya.
"Iya jelek," jawab papa Sean
Airin hanya meringis, ingin sekali menabok ayah dan anak ini, bisa-bisanya menghinanya di depan umum.
Mama Arini, Arthur, Arcelo dan Papa Nick hanya bisa menggelengkan kepala, kenapa jujur sekali setidaknya hargai perasaan Airin toh Airin juga nggak jelek.
Mama Arini yang nggak enak pada Airin mencoba mengklarifikasi, "Airin kamu cantik kok nak, maafkan Arsen dan papa Sean ya, memang mulut mereka harus dicor dulu." kata mama Arini
"Memang Tante," sahut Airin yang keceplosan kemudian dia menutup mulutnya.
Karena Papa Sean merasa lelah dia memutuskan masuk dan disusul oleh mama Arini.
Kini tinggal Papa Nick, Arcelo, Arthur, Arsen dan Airin.
Papa Nick ikut duduk dan kebetulan dia duduk di samping Airin.
"Arcelo habis ini pulang sama papa ya?" kata papa Nick
__ADS_1
"Nggak pa, aku mau pulang bareng Arthur saja," sahut Arcelo
"Sama papa, karena kalau sama Artur kamu pasti mampir-mampir," timpal Papa Nick
"Baiklah pa," balas Arcelo pasrah.
Bola mata papa Nick melihat Airin, "Ini teman kalian?" tanya Papa Nick
"Gebetan Arsen om," jawab Arthur
"OOO sejak kapan Arsen, setau om kamu nggak doyan wanita," kata papa Nick yang membuat Arsen kesal.
"Doyan dong om, gini-gini aku normal," sahut Arsen
"Aaron mana?" tanya papa Nick lagi
"Aaron ikut om Daffa dan Tante Putri ke luar kota," jawab Arcelo.
Mereka berlima mengobrol bersama hingga supir mendatangi mereka dan bilang kalau motornya memerlukan dokternya.
"Ya sudah pak, bawa ke bengkel saja," titah Arsen
Airin sungguh bingung kini, menyesal dia tadi mengantar Arsen pulang. Kini dia terjebak di rumah Arsen dengan sekumpulan orang kaya yang menyebalkan.
"Lalu nasib aku bagaimana Arsen?" tanya Airin.
"Nanti aku antar dong sayang, tapi tunggu aku mandi dan lain-lain dulu," jawab Arsen dengan terkekeh.
Tak selang lama kemudian Papa Arsen dan mama Arini keluar, nampak papa Arsen lebih berseri.
"Kelihatannya anda sangat ceria boz, apa kalian habis panjat tebing," kata Papa Nick
"Apalagi pak Nick, tau sendiri boz mu ini," sahut mama Arini.
"Serangan senja Nick, penambah stamina," timpal papa Sean.
"Seperti papa nggak saja, nanti kalau di rumah pasti langsung nyerang mama," ucap Arcelo yang membuat semua tertawa.
"Dasar anak durhaka kamu Arcelo," kata Papa Nick kesal.
__ADS_1
"Papaku juga iya," sahut Arthur.
Airin hanya bisa menggelengkan kepala, dia sungguh tak menyangka kalau keluarga Arsen dan orang empat besar pemilik kampusnya modelnya seperti ini.
"Oh ya mana motornya?" tanya mama Arini
"Nggak bisa ma, harus ke bengkel," jawab Arsen.
"Seharusnya motor seperti itu jangan dipakai, lebih baik dimusiumkan saja," sahut Papa Sean.
"Pengennya ya gitu om, tapi itu motor satunya kenangan dari ayah saya," timpal Airin.
"Oh gitu." Papa Sean mengangguk.
Karana tidak ada yang diobrolkan lagi, papa Nick pamit undur diri begitu pula dengan Arcelo dan juga Arthur.
Setalah kepulangan teman-temanya, Arsen mengajak Airin untuk mandi.
"Ayo kita mandi dulu, setelah itu aku akan mengantar kamu pulang," kata Arsen.
"Kenapa nggak nginep di sini saja," sahut papa Sean
"Eh nggak om, kasian bunda saya di rumah." Airin menolak tawaran papa Sean padahal Arsen sangat berharap Airin mau menginap di rumahnya.
"Ya sudah, bawa Airin ke kamar tamu samping kamar kamu Arsen, biar Airin mandi di sana, jangan kamu bawa ke kamar kamu takute nanti kamu khilaf dan ngapa-ngapain lagi," ujar mama Arini.
"Nggak nggak ma, dia tu bar bar banget seperti mama seharusnya aku yang mama khawatirkan kalau macem-macem ma dia bukannya dia," sahut Arsen yang tetap ingin membawa Airin ke kamarnya.
Mama Arini pasrah, dia yakin pada Arsen kalau nggak mungkin melakukan hal itu, begitu pula dengan Airin.
"Ya sudah," timpal Mama Arini
Arsen dan Airin pamit ke kamarnya namun baru beberapa langkah Papa Sean memanggil Arsen
"Setelah mandi temui papa di ruang kerja bersama si Arini itu," kata papa Sean.
"Airin," protes Arsen
"Ya itu, lagian nama juga sama," gerutu papa Sean yang membuat mama Arini tertawa.
__ADS_1