4 Penguasa Kampus

4 Penguasa Kampus
Ancaman Arsen


__ADS_3

Saat asik mengobrol, tiba-tiba ada wanita yang datang lalu memeluk Arsen. Airin yang kebetulan di sana juga melihat kekasihnya dipeluk oleh wanita lain.


"Arsen aku kangen," katanya


"Tapi aku nggak," sahut Arsen ketus


"Kamu masih sama seperti dulu, kenapa sih ketus sekali dengan aku," timpalnya.


Airin yang kesal melangkahkan kakinya untuk mendekat.


"Ini siapa Arsen?" tanya Airin


"Perkenalkan aku calon istri Arsen," kata wanita yang bernama Raisa tersebut.


"Pertunjukan di mulai," kata Arthur yang saling pandang dengan Aaron dan Arcelo


Airin nampak kaget, "Lo, aku juga calon istri Arsen," sahut Airin tak mau kalah.


Arsen yang kesal pada Raisa ingin mengajak Airin pergi, namun dia yang tidak melihat malah salah tarik, sehingga menimbulkan salah paham.


"Wah parah Arsen, mau kemana tu sama Raisa?" kata Arcelo


Airin nampak sakit hati, dia tak percaya kalau Arsen telah menyakitinya.


Arsen yang tanpa menoleh terus membawa Raisa ke taman belakang yang sepi, Raisa yang sangat senang karena Arsen membawanya tidak menolak dan hanya senyum saja.


"Sayang, dengarkan aku...." belum sempat melanjutkan kata-katanya, Arsen sudah membatu.


"Arrgggh, kenapa bisa salah tarik," kata Arsen


Arsen pergi meninggalkan Raisa namun Raisa berlari dan memeluk Arsen dari belakang.


"Arsen, aku sangat merindukan kamu," kata Raisa


"Lepas, aku tidak ingin ada salah paham dengan kekasih aku Raisa," ucap Arsen lalu melepas tangan Raisa dengan kasar.


Arsen pergi untuk menjelaskan pada Airin, sedangkan Airin yang sudah terlanjur sakit hati pergi meninggalkan kampus begitu saja.


Sepanjang perjalanan dia menangis, "Kamu brengsek Arsen, ternyata kamu punya wanita lain," kata Airin.


Sesampainya di apartemen Arsen, dia bergegas mengambil pakaiannya, Airin memutuskan untuk kembali ke rumahnya, toh bundanya juga sudah mau kembali.


"Kamu telah mengambil banyak keuntungan dari aku Arsen," kata Airin dengan menangis.

__ADS_1


Puas menangis Airin segera pergi dan pulang ke rumahnya. Beberapa hari tidak ditempati membuat rumah Airin kotor.


"Huft, lelah juga. Lama nggak bersih-bersih," kata Airin sambil mengusap peluhnya.


Di sisi lain, Arsen yang tidak menemukan Airin pergi ke apartemennya, namun dia sudah tidak melihat barang Airin lagi.


"Astaga, dia benar-benar marah padaku hingga pergi dari sini," kata Arsen lalu pergi ke rumah Airin.


Arsen mengetuk pintu namun Airin sengaja tidak membuka pintu rumahnya.


"Baiklah aku hitung sampai 5 kalau kamu nggak membuka pintu, jangan salahkan kalau aku dobrak," ancam Arsen yang membuat Airin bergegas membuka pintu.


Setelah pintu dibuka, Arsen langsung masuk dan menutup pintu rumah Airin.


"Arsen kamu mau apa? kenapa pintunya ditutup?" tanya Airin dengan memucat.


"Aku mau menghukum kamu, karena kamu telah berani pergi dari apartemen tanpa seijin aku, aku juga akan menghukum kamu karena telah dekat dengan dosen di kampus, aku juga akan menghukum kamu karena pergi dari kampus tak bilang-bilang padaku sehingga aku seperti orang gila yang mencari kamu kesana kemari," jawab Arsen


"Kan sudah ada calon istri kamu itu, kenapa mencari aku calon istri yang tidak dianggap," sahut Airin.


"Aku salah tarik," timpal Arsen


"Alasan," ucap Airin lirih namun masih bisa didengar oleh Arsen.


Arsen segera menarik Airin ke tempat tidur, dia segera melahap bibir Airin dan mengabsen dalamnya satu persatu dan tidak ada yang terlewat.


Puas dengan bibir, Arsen turun kebawah. Dia menjilat dan menghisap leher Airin hingga gigitan cinta nampak berbaris rapi. Tangan Arsen akan menyentuh bagian dada Airin dan Airin meminta pada Arsen untuk tidak melakukannya.


"Jangan Arsen," pinta Airin.


"Baiklah kali ini, aku tidak akan menyentuhnya namun lain kali, jika kamu membuat aku marah aku tak segan untuk menyentuh dengan bibirku," ancam Arsen yang membuat otak Airin traveling.


"Sentuh dengan bibir, tidaaaaakkkkkkk," teriak Airin.


"Berteriak lah supaya warga kesini dan kita menikah," sahut Arsen.


Airin sungguh kesal sekali dengan Arsen, seharusnya yang marah itu dirinya kenapa kini jadi terbalik.


"Kamu curang, seharusnya yang marah itu aku, kenapa jadi kamu," omel Airin.


"Dimana-mana tuan muda itu selalu benar. Jadi nggak akan salah meski salah. Lagian aku nggak salah kok, Raisa itu wanita gila. Dari kecil dia selalu menggangguku, aku tidak pernah menyukainya," ungkap Arsen.


"Jadi dia kawan kalian?" tanya Airin.

__ADS_1


"Iya, dia adalah cucu dari teman Opa Ben, papanya papa. Dulu sewaktu kecil kamu selalu bermain bersama, pernah dulu kita buat geng A5, namun karena Raisa menyukaiku aku pecat dia dari geng, karena aturannya nggak ada yang boleh jatuh cinta. Orang tuanya juga kenal baik dengan mama dan papa." Arsen menjawab pertanyaan Airin dengan jelas.


"OOO gitu, lalu dia pergi kemana dan kenapa sekarang tiba-tiba muncul?" tanya Airin


"Dia ikut pindah orang tuanya ke luar pulau," jawab Arsen


"Oh ya kenapa A5? bukankah namanya Raisa?" tanya Airin lagi.


"Nama depannya juga diawali huruf A," jawab Arsen.


Airin mengeluarkan banyak pertanyaan hingga membuat Arsen lupa waktu kalau kini waktunya dia untuk bekerja.


"Aku harus kerja, aku harap setelah pulang kerja aku sudah menemukan kamu di apartemen," kata Arsen


"Nggak, bunda beberapa hari ke depan mau pulang," kata Airin menolak


"Masih beberapa hari lagi, sudah jangan membantah kembali ke apartemen atau aku hukum yang lebih dari tadi," ancam Arsen lalu dia keluar.


"Dasar monster kampret, seenaknya sendiri mengancam aku, tapi anehnya aku selalu saja menurut," kata Airin dengan mengusap rambutnya.


Arsen pulang dulu sebelum pergi ke kantor, saat dia masuk rumah betapa kagetnya dia melihat Raisa dan orang tuanya mengobrol dengan mamanya.


"Arsen sini, ini ada Raisa," kata Mama Arini


"Maaf ma, Arsen sudah telat," sahut Arsen lalu pergi ke kamarnya.


Saat ganti pakaian Raisa masuk dan mengagetkan Arsen


"Punya sopan santun nggak, masuk kamar orang seenaknya," maki Arsen.


"Maaf Arsen kebiasaan dulu kan langsung masuk saja," sahut Raisa.


"Itu dulu sekarang beda, kamu bukan lagi anggota geng aku," timpal Arsen


"Nggak apa-apa asalkan kini aku jadi ratu di hati kamu," ucap Raisa.


"Hatiku sudah ada ratunya, dia adalah Airin jadi jangan berharap lebih padaku Raisa," sahut Arsen


"Kenapa sih Arsen kamu nggak bisa menyukai aku?" tanya Raisa


"Padahal cewek kamu jelek lo, hidungnya pesek pendek lagi," ejek Raisa.


"Kamu ini cocok sekali dengan Arthur, suka menghina orang," ucap Arsen kesal.

__ADS_1


"Asal kamu tau Raisa meskipun Airin jelek tapi bagiku dia itu terbaik, teristimewa, dia itu anugrah," kata Arsen lalu pergi meninggalkan Raisa di kamarnya.


__ADS_2