
"Jadi kamu yang namanya Airin?" tanya mama Arini.
"Iya ma, dia Airin," jawab Arsen.
Mama Arini melemparkan tatapan mautnya pada Arsen, "Mama tanya dia bukan kamu, diam napa! mau mama lakban mulut kamu," maki Mama Arini.
"Mati aku mamanya galak sekali," batin Airin.
"Jadi kamu yang namanya Airin?" tanya mama Arini lagi dengan menatap Airin.
"Iya ma, eh nyonya eh tante, haduh manggilnya apa sih aku," jawab Airin karena gugup akhirnya dia menjawab pertanyaan mama Arini dengan tak karu-karuan.
"Panggil mama saja," sahut Arsen dengan tertawa.
Mama Arini juga tertawa, melihat Airin dia melihat dirinya dulu, malah dirinya saat bertemu keluarga Sean berjoged tanpa rasa malu.
Karena gugup dan tidak enak Airin pamit untuk pulang.
"Mohon maaf karena saya sudah mengantar Arsen pulang jadi saya juga harus pulang," pamit Airin.
"Jangan dong Airin, mampir dulu kamu pasti capek ngantar aku apalagi rumah kamu kan harus melewati sungai, bukit, lembah," kata Arsen lebay.
__ADS_1
"Nggak usah lebay deh Arsen, rumahku nggak sejauh itu," sahut Airin kesal karena bisa-bisanya Arsen melebih lebihkan, rumahnya hanya empat puluh menit dari rumah Arsen.
"Masuk dulu Airin, kelihatanya Arsen masih ingin bersama kamu," kata mama Arini.
Setelah mendapatkan lampu hijau dari mamanya Arsen menarik Airin masuk ke dalam, melewati Arcelo dan juga Arthur.
"Brengsek kita nggak dianggap," umpat Arthur
"Sabar Arthur, mungkin Arsen lagi senang hatinya sekarang," kata Mama Arini sambil mengelus punggung Arthur.
Bagi Mama Arini, Aaron, Arcelo dan juga Arthur seperti anaknya sama seperti Arsen.
Lagi-lagi Airin dibuat takjub dengan kemewahan rumah Arsen, bola matanya terus berkeliling melihat setiap sudut rumah Arsen.
Mama Arini juga tersenyum, dia ingat saat Papa Sean membawanya pulang saat itu, mama Arini ditarik keluar dari mobil hingga jatuh, namun kali ini berbeda dengan Arsen yang mendudukkan Airin dengan lembut, dan langsung meminta art menyiapkan minum.
Arthur dan Arcelo ikut bergabung dengan Arsen dan Airin, akhirnya mereka bercanda bersama dengan mama Arini juga.
"Airin, apa kamu mencintai Arsen?" tanya Mama Arini
"Pasti ma," sahut Arsen percaya diri.
__ADS_1
"Mama nggak tanya kamu, tapi Airin," omel mama.
Arsen terkekeh dengan menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Arthur dan Arcelo juga ikut tertawa, nggak menyangka ketua geng mereka kalau terserang virus cinta bisa begini, PD tingkat akut.
"Saya masih belum berfikir untuk pacaran dulu Tante, karena saya harus menggapai cita-cita saya dulu," jawab Airin.
"Bagus itu, bisa buat cambuk Arsen supaya meniru kamu," sahut mama Arini.
"Nggak papa sih kalo nggak mau pacaran asal kamu selalu bersama aku saja itu sudah cukup bagiku, dan jangan menghianati aku dengan pria lain," timpal Arsen.
Persis sama dengan papanya, dulu Papa Sean menganggap Mama Arini sebagai teman ranjang saja namun mama Arini tidak boleh dekat dengan pria lain.
Airin tidak bisa menjawab apa-apa di depan mama Arini dia tidak bisa berkutik karena nggak enak jika bersikap bar-bar takut dicap nggak sopan.
"Dulu ada yang bilang padaku kalau yang mengambil ciuman pertama itu adalah yang akan menjadi jodoh kita," kata Arsen dengan melirik Airin.
"Apa memang seperti itu Arsen, jadi kamu dong yang akan menjadi jodoh aku karena berkali-kali mencuri ciuman aku dengan paksa," sahut Airin lalu menutup mulutnya.
Mama Arini melemparkan tatapan mautnya pada Arsen, sedangkan Arthur dan Arcelo hanya tertawa.
"Bearti yang buat leher kamu merah-merah itu juga Arsen?" tanya Arcelo pura-pura meskipun dia tahu kalau pelakunya adalah Arsen.
__ADS_1
Airin mengangguk, dan ini semakin membuat mama Arini kesal.