
Setibanya di rumah Airin, ada beberapa orang yang bertamu di rumah Airin.
"Ada apa ini, siapa mereka?" gumam Airin.
"Mungkin tamu Bunda sayang," sahut Arsen
Tak ingin larut dengan asumsi-asumsi yang datang, Airin segera keluar dari mobil A4 dan segera masuk.
Airin melihat bundanya menangis sehingga Airin semakin khawatir.
"Ada apa bunda?" tanya Airin lalu mendekati bundanya.
"Ayah kamu Airin," jawab bunda secara ambigu yang membuat Airin bingung
"Ayah kenapa Bun?" tanya Airin lagi
" Ayah kamu mengalami kecelakaan saat kerja sehingga kini dirawat di rumah sakit sekitar tempat kerjanya," jawab Bunda
"Astagfirullah," sahut Airin dengan menangis.
"Lalu bagaimana keadaan ayah sekarang Bun?" tanya Airin dalam Isak tangisnya.
Airin sungguh takut terjadi apa-apa dengan ayahandanya.
"Ayah koma Airin," jawab Bunda.
Tangis Airin semakin pecah, dia hanya berharap semoga ayahnya cepat pulih.
"Astagfirullah, gimana kejadiannya sih Bun, kenapa ayah mengalami kecelakaan saat kerja. Apa kerja di sana kurang safety?" tanya Airin.
Bapak-bapak paruh baya pun menjelaskan pada Airin kronologi kenapa ayahnya mengalami kecelakaan, atas kejadian ini perusahaan bertanggung jawab penuh membiayai semua tagihan rumah sakit.
Setelah menjelaskan bapak-bapak yang datang memberi kabar pun pamit pulang, gantian A4 kini yang masuk ke dalam rumah Airin.
Melihat Bunda dan Airin tentu membuat mereka kaget terlebih Arsen.
"Ada apa Bun?" tanya Arsen cemas karena melihat bunda Airin dan Airin menangis.
"Ayah Airin masuk rumah sakit, beliau mengalami kecelakaan saat bekerja," jawab Bunda Airin.
"Astaga," sahut A4 barengan.
"Bagaimana keadaan ayah Bun?" tanya Arsen kemudian duduk mendekat.
"Ayah koma," jawab bunda
__ADS_1
"Apa? kok bisa? kronologinya gimana?" Arsen memberondong Bunda dengan banyak pertanyaan.
Bunda yang menangis menatap Arsen dengan lekat, kemudian menjelaskan kronologinya pada mereka semua. A4 nampak sedih, mereka dapat merasakan apa yang bunda dan Airin rasakan saat ini.
"Lalu rencana bunda bagaimana?" tanya Arsen
"Bunda ya kesana, tapi bagaimana dengan Airin?" jawab Bunda.
"Ada kami yang menjaga Airin Bun, jangan khawatir. Bunda fokus saja dengan ayah," sahut Aaron, dia ikut ikutan memanggil bunda dan ini membuat Arsen marah.
"Woy, Aaron bunda adalah calon bunda aku, kenapa kamu ikut ikut panggil bunda?" tanya Arsen kesal seolah tak terima.
Airin pun menatap Arsen, saat genting seperti ini malah memikirkan cara panggil Aaron, mungkin bunda juga senang dipanggil bunda oleh Aaron berasa memiliki banyak anak.
"Arsen Arsen saat genting seperti ini kamu malah mikir hal yang remeh seperti itu," jawab Aaron dengan menggelengkan kepala heran dengan temanya yang suka membesar-besarkan masalah yang sepele.
Ibunda Airin mengkode Airin untuk pergi ke kamar kemudian mereka pamit masuk ke dalam kamar sebentar karena ada yang dibicarakan.
A4 sayup sayup mendengar perbincangan Airin dengan Bundanya mereka kini bingung biaya untuk datang ke rumah sakit dan biaya hidup bunda selama di sana serta biaya hidup Airin saat ditinggal Bunda.
"Bagaimana ini guys, ibunda Airin bingung soal biaya," kata Arcelo
"Yuk kita kolektif untuk bantu Airin," ajak Arthur
"Ayok," sahut A4 barengan.
terlalu memanjakan mereka.
A4 kini melakukan rapat kecil, rundingan enaknya berapa nominal yang akan diberikan pada Airin.
"Lima jutaan gimana?" saran Arcelo
"Sedikit amat," sahut Arthur
"Gajiku dipotong papa," timpal Arcelo
"Sama, aku juga," ungkap Arthur.
"Enaknya berapa?" tanya Aaron
"Sepuluh juta, gimana?" jawab dan tanya Arsen.
"Ok, deal ya," jawab A4 barengan.
Setelah make a deal, mereka membubarkan diri.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, bunda dan Airin keluar kamar nampak Bunda bersedih karena memikirkan bagaimana caranya pergi menemui ayah. Ayah bekerja di kepulauan yang cukup jauh dengan kota Airin saat ini, biaya pesawat tentu tidak murah belum lagi biaya selama di sana di tambah lagi biaya Airin selama ditinggal.
Melihat Bunda bersedih Arsen pura-pura bertanya seolah dia tidak tau masalah bunda Airin.
"Bunda ada masalah apa?" tanya Arsen
"Nggak ada apa-apa kok," jawab Bunda Airin.
"Oh ya bunda, kapan rencananya bunda berangkat?" tanya Aaron
"Rencananya sekarang tapi bunda masih menunggu," jawab Bunda.
Bunda Airin tentu tidak bisa berterus terang kepada A4 kalau beliau membutuhkan uang bahkan untuk biaya kesana saja bunda tidak ada.
Uang dari ayah Airin masuk semua ke biaya sekolah Airin, jadi bunda tidak ada sisa untuk menabung.
Tadi bunda sempat menghubungi temannya untuk meminjam uang namun belum dijawab jadi bunda masih menunggu.
"Menunggu apa?" tanya Arcelo dengan menatap Bunda Airin.
"Cerita ibu kantin, barangkali kami bisa membantu," sahut Arthur
Airin akhirnya membuka mulut, "Kami sebenarnya memerlukan uang untuk biaya bunda menyusul ayah dan juga biaya bunda selama di sana," jawab Airin dengan raut wajah tak enak.
Nampak ibunda Airin menangis, dia sungguh tidak enak dengan A4, tamu bukannya disambut dengan baik malah disuguhi dengan masalah kelaurga Airin.
Arsen mendekati bunda yang sedang menangis dan duduk di samping bunda, dia mencoba menenangkan orang yang sudah dia anggap sebagai orang tuanya.
"Bunda, kami ada uang sedikit, bisa untuk biaya pesawat dan bunda selama di sana dan untuk Airin bunda jangan khawatirkan itu. Sekarang boleh kami minta nomor rekeningnya supaya kami bisa mentransfer uangnya," kata Arsen
Bunda menatap ke empat pria tampan di depannya, bunda tidak menyangka kalau A4 memiliki jiwa penolong mengingat mereka terkenal sombong dan angkuh di kampus.
"Eh para tuan muda, nggak usah nanti malah ngerepotin lagi," sahut bunda. Dia mencoba menolak bantuan dari A4 karena tidak enak.
"Menolak rejeki itu nggak baik Lo ibu kantin," kata Arcelo
"Betul, terima saja jadi anda bisa langsung membeli tiket dan bersiap berangkat," sahut Arthur.
"Terima kasih tuan muda A4," sahut bunda dengan terharu, dia tidak menyangka kalau A4 mengatasi masalahnya hari ini dan gak tanggung tanggung A4 kolektif sepuluh jutaan untuk membantu Airin dan juga bundanya.
Airin perlahan menyebutkan nomor rekeningnya dan sebentar saja uang sudah masuk dan betapa kagetnya dia saat mengecek saldo di mobile bangking miliknya.
Saldo empat puluh menjadi isi dalam rekening Airin, ini pertama kalinya rekening Airin ada isinya begitu banyak.
'Terima kasih ya A4," ucap Airin.
__ADS_1
"Sama-sama Airin," sahut A4 barengan.
Airin membantu bundanya untuk bersiap kemudian dia membooking kan tiket pesawat untuk bunda, untung saja tiket pesawat untuk hari ini masih ada. Seusai membooking pesawat Airin meminta A4 untuk menarik tunai uangnya untuk bekal bundanya.