
Hal ini sama juga dengan Aaron maupun Arsen.
Akhirnya mereka memutuskan untuk melakukan audisi, dengan kriteria yang tentu sedikit sulit.
"Memangnya apa kriteria kalian?" tanya Arsen
"Cantik pasti yang utama, tinggi semampai bukannya semeter tak sampai," jawab Arthur dengan tertawa, karena dia sedang menyindir Arsen.
Mendengar sindiran dari Arthur tentu membuat Arsen kesal.
"Biar saja semeter tak sampai tapi bagiku dia itu seperti Angelina Jolie," kata Arsen yang membuat Arcelo dan Arthur berkekspresi ingin muntah.
"Please Arsen jangan lakukan itu, jangan membandingkan sesuatu yang jauh berbeda, tak sanggup aku mendengarnya," sahut Arthur dengan tertawa.
Mereka malah mendebatkan sesuatu yang tak seharusnya didebatkan, Aaron yang kesal akhirnya menghela nafas.
"Jadi kriterianya cantik dan tinggi semampai saja?" tanya Aaron.
"Bisa menyanyi dan memainkan alat musik dan lain-lain pokoknya," sahut Arcelo
"Yang keibuan, multi talenta, bisa memasak, rajin dan suka menabung," tambah Arthur
"Woy, kamu ini ingin cari pasangan duet apa cari istri," maki Arsen yang semakin kesal dengan Arthur
"Itu namanya menyelam sambil minum air," kata Arthur dengan terkekeh.
"Benar nggak Aaron?" tanya Arthur dengan melirik Aaron.
"Aku ikut kalian saja," jawab Aaron
***********
Tak terasa hari Minggu sudah datang kembali, tidak seperti biasanya, A4 kali ini ada acara masing-masing.
Arsen kencan dengan Airin, Aaron dan Arthur ada urusan dengan mama dan papa mereka.
Arcelo yang boring pergi ke sebuah cafe untuk sekedar minum kopi siapa tau dia menemukan wanita yang mau menemaninya ngopi.
"Nasib, nasib orang jomblo," gumam Arcelo.
__ADS_1
Tak jauh dari Arcelo ada Febri yang kebetulan di kafe yang sama. Febri juga nongkrong di sana karena dia juga boring.
Saat asik makan camilannya ada Reza yang juga kebetulan nongkrong di cafe yang sama juga.
"Kasian nongkrong sendirian tanpa kekasih," ejek Reza yang masih kesal dengan Febri.
"Lebih baik sendiri daripada cowoknya seperti kamu," sahut Febri.
Reza nampak tertawa terbahak-bahak, dia bilang sangat bersyukur karena tidak jadi pasangan Febri lagi, karena Febri itu wanita yang minus.
Mendengar kata-kata Reza membuat Febri sungguh sakit hati bisa-bisanya bilang kalau Febri cewek minus.
"Aku yang lebih bersyukur, lagian cowok aku saat ini jauh lebih cakep daripada kamu," teriak Febri
Arcelo yang sedikit banyak mengenal Febri pun ikut membantu Febri. Entah mengapa jiwa sosialnya tiba-tiba muncul ke permukaan.
Arcelo berjalan ke meja Febri dan langsung merangkulnya.
Febri menoleh, Febri sungguh shock serta mati gaya. Rasanya tubuhnya tidak bisa digerakkan, bagaimana mungkin Arcelo tiba-tiba datang dan merangkulnya. Tak hanya Febri Reza pun terdiam karena dia sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Menurut kamu, cakepan mana kamu atau aku?" tanya Arcelo dengan menatap Reza.
Reza lagi-lagi terdiam, dia melihat Arcelo dari atas ke bawah, lalu kembali lagi dari bawah ke atas.
"Memangnya kamu siapa?" tanya Reza
"Perkenalkan aku Arcelo, anggota salah satu A4," jawab Arcelo yang membuat Reza kaget lagi.
"Apa? A4?" tanya Reza
"Iya, penguasa kampus B.A university," jawab Arcelo.
Dari segi manapun sudah kalah dia, apalagi Arcelo anggota A4, jadi kini Reza benar-benar tak bersuara lagi dan langsung pergi begitu saja.
"Mampus," kata Febri dengan menatap kepergian Reza.
Setelah kepergian Reza, Febri berterima kasih pada Arcelo.
"Terima kasih Arcelo karena sudah membantu aku mengatasi laki-laki seperi Reza," kata Febri
__ADS_1
"Sama-sama," sahut Arcelo
"Besok lagi kalau cari pasangan itu yang baik, nggak hanya cakep, karena belum tentu lelaki cakep itu cakep juga hatinya," saran Arcelo.
Febri sungguh terpesona dengan Arcelo, memang benar perkataannya.
"Jadi kamu juga gitu ya, belum tentu cakep hatinya," kata Febri yang membuat Arcelo tertawa.
"Betul, malah aku pria brengsek yang nggak recom banget untuk dijadikan kekasih, tapi kalau untuk bersenang-senang aku recom banget," sahut Arcelo percaya diri.
"Promosi bang," timpal Febri dengan tertawa begitu pula dengan Arcelo.
Melihat tawa Arcelo membuat Febri tersihir, Arcelo nampak cakep sekali.
"Kenapa aku gugup gini ya, senyuman Arcelo sungguh meluluh lantakan hatiku, seketika jiwa jomblo aku meronta," batin Febri.
Ketampanan A4 memang tidak ada duanya, meskipun Arcelo adalah orang pribumi namun wajahnya bak oppa oppa Korea putih tak berbulu beda dengan Arthur yang memiliki wajah khas pribumi.
Arcelo yang hendak balik menawarkan tumpangan pada Febri, tentu Febri tidak bisa menolak.
"Iya Arcelo aku mau," kata Febri lalu berjalan di belakang Arcelo.
Dari kejauhan Arcelo memencet tombol pada kunci mobilnya, mobil gagah di depannya seketika lampunya menyala, lalu dia membukakan pintu mobil untuk Febri.
"Silahkan masuk princess," kata Arcelo dengan tersenyum.
Febri semakin berdebar saat Arcelo memanggilnya princess, sungguh luar biasa cara membuat wanita ke awan.
Febri segera masuk, hatinya sungguh berdebar-debar.
Dug
Dug
Dug
Jantungnya seakan meronta untuk keluar, kulit Febri juga banyak mengeluarkan keringat.
"Kenapa jantungku tiba-tiba berdebar seperti ini? seperti genderang perang," tanya Febri dalam hati dengan memegangi dadanya yang terus berdebar.
__ADS_1
Arcelo kini menyusul masuk ke dalam mobil lalu dia menyalakan mesin dan mulai melajukan mobilnya.
"Arcelo apa kamu ingin pulang?"