4 Penguasa Kampus

4 Penguasa Kampus
Gak bisa hidup


__ADS_3

"Apa benar begitu Arsen?" tanya mama Arini


Arsen menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia sedikit was was kini apalagi tatapan mama Arini setajam kater.


"Peace ma, nggak tahan ma aku," jawab Arsen yang membuat Arthur dan Arcelo tertawa ngakak.


"Ini anak orang Arsen," sahut mama dengan memijat pelipisnya.


Airin semakin tak karu-karuan, dia sungguh tak enak dengan Mama Arsen dan juga teman-temannya.


Karena tidak ingin terjebak dalam situasi yang menegangkan seperti ini, Airin meminta ijin untuk pamit.


"Mohon maaf Tante, Arsen, Arthur dan Arcelo tapi ini sudah sore saya harus segera pulang," kata Airin menyela.


"Jangan," sahut Arsen.


"Tapi aku harus pulang Arsen," timpal Airin.


"Kami masih ingin mengobrol tapi sepertinya kamu memang ingin pulang, ya sudah kamu boleh pulang Airin," kata mama memberi ijin.


"Makasih Tante," ucap Airin dengan tersenyum lalu beranjak dari duduknya.


Arsen dan semua ikut mengantar Airin ke depan, namun sial bagi Airin saat dia hendak menyalakan motornya, motornya nggak mau menyala dan ini membuat Airin bingung dan malu juga.


"Duh motor please nyala dong, jangan buat aku malu," gumam Airin.


Melihat Airin yang kesulitan menyalakan motornya membuat mama Arini meminta Arsen, Arthur dan Arcelo membantu Airin.

__ADS_1


Arsen segera mendekati Airin, "Motornya kenapa?" tanya Arsen


"Entahlah Arsen, penyakitnya kambuh kayake," jawab Airin.


"Bawa ke dokter dong Airin," sahut Arsen.


"Iya nanti akan aku bawa ke dokter" timpal Airin.


"Dan kamu juga harus ke dokter cinta," kata Artur dan Arcelo.


Mereka bertiga sibuk memeriksa motor Airin, padahal mereka sendiri tidak paham sama sekali dengan motor.


"Mungkin ini businya," kata Arcelo


"Mungkin akinya sudah soak ini," sahut Arthur


"Lebih baik motor ini dibuang saja dan beli baru, lagian motor tua seperti ini masih dipake," timpal Arsen.


"Aaauwww ma, perutku dicubit Airin," teriak Arsen yang membuat Airin menutup mulut Arsen.


"Arsen kamu apa-apaan sih, gitu aja diadukan sama Tante Arini," gerutu Airin.


Arsen hanya tertawa, dia sungguh senang sekali menggoda Airin, Arthur dan Arcelo saling pandang dan menggelengkan kepala. Heran sekali dengan sikap Arsen yang seperti ini.


Mama Arini akhirnya meminta supir untuk memeriksa motor Airin karena kelihatannya ketiga tuan muda manja ini tidak mungkin bisa mengatasi masalah motor Airin.


"Kan memang ini bukan bidang kami Tante," kata Arcelo dengan tersenyum.

__ADS_1


"Memangnya apa bidang kalian?" tanya mama Arini


"Belajar Tante," jawab mama Arthur dan Arcelo


"Yakin belajar? bukan pacaran?" sahut mama Arini dengan tertawa.


Arthur dan Arcelo juga tertawa, mama Arini tau juga kalau kedua tuan muda ini suka bermain wanita.


Sambil menunggu pak Supir memperbaiki motornya, Airin mengobrol lagi dengan mama Arini dan juga A3.


"Ma, kan motor Airin rusak bagaimana kalau kita belikan saja," kata Arsen yang membuat Airin nggak enak banget.


Airin menginjak kaki Arsen, dia kesal sekali bagaimana bisa meminta mama Arini untuk membelikannya motor baru.


"Nah ini kenapa kemarin mama dan papa menyuruh kamu untuk membantu papa di kantor supaya kamu bisa membeli apapun yang kamu mau dan untuk siapa pun termasuk wanita yang kamu suka," ujar mama Arini.


"Eh Arsen nggak usah, ini motor meskipun butut tapi ini adalah kenangan dari ayah aku, dengan motor ini ayah mencari nafkah buat aku dan bunda," sahut Airin.


"Dengar tu Arsen, motor sejarah ni," sahut Arcelo


"Tapi kamu boleh Lo kalau mau membelikan motor kami, kan kamu kalah taruhan saat itu, masih ingat nggak?" Arthur mengingatkan Arsen akan taruhan saat itu.


"Iya iya Arthur," ucap Arsen.


Tak lama kemudian sebuah mobil mewah masuk dan Airin semakin gugup.


Mobil mewah berhenti di samping pak Supir yang memperbaiki motor Airin.

__ADS_1


Dua orang paruh baya turun dari mobil mewah tersebut, meskipun paruh baya namun mereka masih tetap tampan.


"Ada apa ini?"


__ADS_2