4 Penguasa Kampus

4 Penguasa Kampus
Malu


__ADS_3

Karena rindu Aaron memeluk Keira, "Aku kangen kak Keira," bisik Aaron.


Keira tersenyum, "Aku juga Aaron," sahut Keira.


Keira dan Aaron kini saling peluk, bahkan Aaron mengecup kening Keira.


Hari semakin larut kemudian Arsen, Arthur dan juga Aaron memutuskan untuk pulang.


Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu buat Arsen, pagi sekali dia sudah menjemput Airin.


"Permisi. Airin, Bunda," panggil Arsen sambil mengetuk pintu.


Bunda yang baru selesai melakukan kewajibannya sebagai muslim pun heran karena dia mendengar suara Arsen.


Belum sempat melepas mukenah yang dipakainya Bunda ke depan untuk membukakan pintu.


"Tuan muda Arsen," kata Bunda kaget.


"Pagi Bunda, Airin sudah bangun?" tanya Arsen yang membuat Bunda bingung.


Bunda mempersilahkan Arsen masuk, namun dia sungguh heran dengan Arsen, ini masih pukul lima kurang lima belas menit kenapa sepagi ini Arsen main ke rumahnya.


"Airin masih tidur, coba bunda bangunkan," kata Bunda lalu memutar arah belum sampai melangkah kaki Arsen memanggil.


"Biar aku saja ya Bunda yang membangunkan Airin," pinta Arsen.


"Oo ya sudah kalau begitu," ucap Bunda dengan tersenyum lalu bunda kembali ke kamarnya untuk melepas mukenah dan bersiap untuk masak.


Arsen masuk ke dalam kamar Airin nampak Airin masih setia dengan gulingnya.


Arsen yang melihat Airin jadi gemas sekali, perlahan dia menghampiri Airin.


"Sayang, bangun. Anak wanita bangunnya kok siang sekali," kata Arsen sambil membangunkan Airin.


Karena Airin tak kunjung bangun akhirnya dia yang ikut tidur Airin.


Arsen mengambil guling Airin kemudian dia yang berbaring di samping Airin.

__ADS_1


Airin yang merasa kesempitan menggeliat, kemudian tubuhnya memeluk Arsen, dia mengira kalau Arsen adalah gulingnya.


Kini wajah mereka berdua saling bertatapan dan itu membuat Arsen senang sekali. Jantungnya berdegup sangat kencang.


"Kelihatannya aku butuh dokter jantung, tiap dekat dengannya rasanya jantungku tak karu-karuan," gumam Arsen kemudian menatap wanita yang tidur di depannya.


"Aku ingin selamanya begini sayang, kelak kamulah yang akan aku lihat setiap aku membuka mata aku," ucap Arsen dengan menyibakkan anak rambut Arini yang menutupi wajahnya.


Arini yang merasa ada yang aneh dengan gulingnya, dia menepuk-nepuk gulingnya dan dia merasakan ada yang beda dengan gulingnya.


Masih dengan mata terpejam dia merasakan kalau gulingnya memiliki hidung dan juga mulut persis dengan wajah orang.


Perlahan dia membuka matanya, nampak Arsen tersenyum padanya begitu pula Airin, dia juga membalas senyum Arsen dan berucap.


"Aku rasa aku sudah gila, saat bangun tidur pun aku melihatnya." Tangan Airin menyusuri setiap lekuk wajah Arsen.


Arsen tersenyum karena Airin masih belum menyadari kalau memang dia kini bersamanya.


Bukannya segera bangun Airin malam memeluk Arsen dengan erat menganggap itu gulingnya.


"Hey sayang, erat sekali meluknya," kata Arsen yang membuat Airin membolakan matanya.


"Iya siapa lagi," jawab Arsen dengan tertawa


Aaaaaaaaaa


Airin berteriak sekencang-kencangnya dia juga mendorong tubuh Arsen sehingga Arsen terjungkal ke bawah.


Aaarrgggghhh


"Brengsek kamu," umpatnya lalu beranjak dengan memegangi bagian tubuhnya yang sakit.


"Lagian salah sendiri mengagetkan," ucap Airin kesal, "Kamu ngapain pagi-pagi kesini? ini bukan jamnya berkunjung," omel Airin.


"Aku ingin menjemput kamu, karena jam tujuh kita berangkat ke Vila papa aku," sahut Arsen.


Airin beranjak dari tempat tidurnya lalu minum, dia malas sekali ikut keluarga Arsen.

__ADS_1


"Aku nggak ikut," kata Airin yang membuat Arsen kesal


"Apa maksud kamu nggak ikut, kekasih ulang tahun dan bilang nggak mau ikut," protes Arsen.


Airin menghela nafas lalu duduk di atas tempat tidurnya.


"Aku nggak enak dengan keluarga kamu dan juga keluarga A4 lainnya," ucap Airin.


Airin merasa tidak enak ikut gabung dengan keluarga super elit apalagi mama-mama mereka pasti mama mama sosialita dan Airin sangat tidak enak.


"Baiklah kalau kamu nggak ikut aku juga nggak ikut aku akan merayakan ultah aku di sini,' ancam Arsen yang membuat Airin serba bingung.


"Ayolah Arsen, nikmati waktu kamu. Besok kita bisa merayakan ultah kamu berdua," bujuk Airin namun Arsen tidak bisa dibujuk.


Berbagai ancaman Arsen kerahkan, hingga akhirnya Airin menyerah juga.


Arsen menyuruh Airin untuk bersiap, kemudian Airin pergi mandi.


Tak butuh waktu lama untuk Airin bersiap, tak lupa dia mengambil kado untuk Arsen.


Airin membelikan Arsen sebuah jam tangan, dan jam tangan itu samaan dengan dirinya.


Setelah semua siap Airin dan Arsen pamit pada bunda, mungkin mereka menginap di Vila papa Arsen selama dua hari.


"Hati-hati ya," kata Bunda, "Bunda titip Airin ya," pesan bunda.


Sebenarnya Bunda kurang setuju namun dia juga tidak bisa menolak saat Arsen meminta ijin padanya.


"Pasti bunda," sahut Arsen.


Kini mereka berdua sudah menuju rumah Arsen, beberapa saat kemudian mobil Arsen sudah masuk terlihat beberapa mobil mewah terjejer di halaman rumah Arsen. Airin nampak takut dan malu saat melihat A4 bersama orang tau masing-masing berkumpul di teras rumah Arsen.


"Ayo turun," kata Arsen


"Nggak mau, aku di sini saja," sahut Airin


"Come on sayang," pinta Arsen

__ADS_1


Mau nggak mau Airin turun mobil Arsen, saat dia turun nampak semua mata menatapnya.


__ADS_2