
Pagi ini A4 berkumpul di taman kampus mereka ingin membahas soal membantu pekerjaan di kantor.
"Bagaimana menurut kamu Aaron," tanya Arsen
"Aku sih mau-mau saja, mungkin Minggu depan aku mulai membantu papa," jawab Aaron
"Aku juga kalau begitu," sahut Arsen
"Kalau kalian pada dikantor papa kamu pasti menyuruh kami untuk membantu kalian," timpal Arthur dan Arcelo.
"Ya iyalah, kalian kan memang asisten kami," ucap Arsen.
Karena ada jam mereka berempat pergi ke kelas, saat akan naik ke lantai atas nampak Airin yang sedikit berlari.
"Hey, A4," teriak Airin
A4 pun berhenti lalu menoleh ke belakang,
"Ada apa?" tanya Arsen
"Aku pinjam Aaron sebentar," jawab Airin.
"Kamu pikir Aaron benda hingga bisa kamu pinjam," sahut Airin kesal.
"Kamu cerewet sekali sih Arsen," timpal Airin kesal.
"Aaron please bantu aku ya," pinta Airin memohon.
"Baiklah namun ada upahnya," kata Aaron bernegosiasi.
"Apa?" tanya Airin
"Makan malam romantis," jawab Aaron.
"Baiklah-baiklah, asal kamu membantuku," kata Arini setuju.
Aaron nampak tersenyum, sedangkan Arsen yang kesal pergi meninggalkan Airin dan A4 lainnya.
Airin segera menarik Aaron sedangkan Arthur dan Arcelo menyusul Arsen.
Arsen masuk dalam kelas dengan hati yang kesal, hingga teman-temannya jadi sasaran amarah Arsen.
"Pagi Arsen," sapa teman sekelasnya.
"Aku sudah tau kalau ini pagi hari! jadi tidak usah menyapaku," teriak Arsen yang membuat semua terdiam.
Arthur dan Arcelo saling pandang, "Moodnya sungguh buruk," kata Arcelo
"Iya, gara-gara si pesek tadi," timpal Arthur.
Arsen langsung duduk dan mengambil bukunya dia membaca bukunya namun bukunya terbalik.
"Arsen, buku kamu terbalik," kata Arcelo memperingatkan.
Arsen melemparkan tatapan mautnya pada Arcelo, lalu dia membalik bukunya sehingga membuat Arcelo menahan tawa.
__ADS_1
"Jangan ganggu Arcelo, dia sedang cemburu," kata Artur.
Brak
Arsen menggebrak meja, dia sungguh kesal sekali dengan kedua temannya.
"Brengsek kalian, sana jauh-jauh dariku," maki Arsen yang membuat Arcelo dan Arthur tertawa.
"Baiklah Arsen, kami akan pergi," kata Arthur lalu pindah tempat duduk.
Di sisi lain Airin dan Aaron sedang membenahi laporan ujian praktek saat itu, kebetulan Aaron yang membantu Airin saat di kapal pesiar saat itu.
"Ada yang lapor pada dosen kalau aku menyontek saat itu jadi aku di suruh membenahi lagi laporan ujian ini dan ujian kalian waktu itu," kata Airin
"Bukankah kamu tidak menyontek waktu itu?" tanya Aaron
"Iya, maka dari itu aku meminta kamu untuk bilang ke dosen kalau aku tidak menyontek," jawab Airin dengan terkekeh.
"Bearti upahnya nggak hanya makan malam romantis," kata Aaron.
"Memangnya kamu minta apa Aaron?" tanya Airin
"Kita berkencan," jawab Aaron.
Airin nampak gugup mendengar kata-kata Aaron bagaimana bisa Aaron meminta dia untuk berkencan.
"Aaron tapi kita nggak pernah pacaran mengapa kamu minta berkencan?" tanya Airin.
"Kamu ini polos sekali, berkencan tidak harus pacaran dulu," jawab Aaron
Sepulang kuliah Arsen menunggu Airin diparkiran sepeda motornya. Hingga suasana sepi Airin masih belum keluar.
"Mana sih dia," kata Arsen kesal.
Lama menunggu akhirnya yang ditunggu datang juga, Airin nampak berjalan dengan muka yang lesu. Tugas dari dosen banyak sekali, saat asik berkutat dengan pikirannya Arsen menarik Airin, sehingga membuat Airin kaget.
"Hey Airin beraninya kamu menerima ajakan makan malam romantis dari Aaron," kata Arsen dengan raut wajah yang marah.
"Memangnya kenapa?" tanya Airin,
"Karena aku menyukai kamu, tapi kamu tidak peka akan hal itu," jawab Arsen dengan berteriak.
Airin nampak membatu, memang sih akhir-akhir ini sikap Arsen hangat padanya bahkan berapa hari lalu dia membelanjakan Airin dengan nominal yang tidak sedikit.
"Maaf Arsen," kata Airin.
"Aku sudah berusaha bersikap baik padamu tapi mengapa kamu masih menghianati aku," sahut Arsen dengan raut wajah yang sedih.
Airin yang tidak tega memeluk Arsen, dia tidak bermaksud membuat Arsen bersedih.
Arsen memeluk Airin dengan erat, dia sungguh sangat menyayangi Airin.
"Sudah Arsen mari kita pulang," ajak Airin.
"Ikut," sahut Arsen
__ADS_1
"Kemana?" tanya Airin
"Rumah kamu lah," jawab Arsen
"Tapi nanti aku ada janji dengan Aaron," sahut Airin
"Biar kita makan malam bertiga," timpal Arsen
"Mana boleh seperti itu," omel Airin
" Boleh saja," cerca Aaron yang membuat Airin bingung.
Sungguh kini Airin bingung, perasaanya sendiri tidak menentu kini, apa dia harus pilih keduanya atau Aaron atau Arsen! Entahlah.
Arsen kini ikut ke rumah Airin, ibunda Airin sangat kaget karena Arsen naik motor boncengan dengan Airin.
"Kalian kok pulang bersama?" tanya Ibunda Airin
"Iya Bun, ni Arsen udah Airin bilang jangan tapi nekat ikut juga," jawab Airin kesal.
"Halo bunda," sapa Arsen dengan tersenyum
"Tuan muda Arsen kenapa repot-repot ikut Airin?" tanya Ibunda Airin
"Nggak apa-apa Bun, kangen masakan bunda," jawab Arsen.
Kini ibu mempersilahkan Arsen untuk masuk, lalu dia menyiapkan makan untuk Arsen dan juga Airin.
"Hey Arsen, kenapa kamu minta makan bunda aku," kata Airin yang membuat bunda menatapnya tajam
"Kenapa memangnya, aku kan kangen masakan bunda, lagian kamu tu kenapa sih Airin bunda saja tidak keberatan kok," sahut Arsen dengan kesal.
"Airin nggak boleh gitu kan kemarin juga tuan muda yang belanja sayang," timpal Bunda Airin.
"Iya sih Bun, lagian dia juga membelanjakan kita juga dengan uang orang tuanya," ucap Airin
"Memang iya, tapi sebentar lagi aku akan membantu papa aku bekerja dia kantor supaya aku bisa membelanjakan kamu apa yang kamu inginkan," sahut Arsen dengan sibuk memindahkan lauk ke piringnya.
Mendengar kata-kata dari Arsen membuat Airin tersentuh.
"Apa, dia mau bekerja demi untuk membelikan apapun yang aku mau, manis sekali kamu Arsen. Anak manja seperti kamu ternyata punya pemikiran yang dewasa juga," batin Airin dengan tersenyum.
Airin selesai makan terlebih dahulu lalu dia mengecek ponselnya ternyata Aaron tidak bisa berkencan dengannya karena dia harus ikut mengantar mamanya ke luar kota.
Airin segera membalas pesan Aaron, dia bilang tidak apa-apa.
Arsen, Airin dan ibunda Airin bercanda karena lelah, Ibunda Airin menyuruh Arsen istirahat di kamarnya mengingat rumah keluarga Airin hanya memiliki dua kamar tidur, memang benar apa yang dikatakan Arsen kalau rumah Airin lebih kecil dari kamarnya.
Saat masuk ke dalam kamar Airin bola mata Arsen membola nampak buku-buku tertata rapi, meskipun kecil namun sungguh rapi sekali.
Nampak sebuah botol bekas di meja belajar Airin.
"Botol air mineral ini kenapa nggak dibuang?" tanya Arsen.
"Jangaaaaannn," teriak Airin.
__ADS_1