
"Sudah-sudah kapan ini ciumannya?" tanya Febri
"Ayo," jawab Arcelo yang mulai mendekatkan bibirnya.
Febri memejamkan mata dan tangannya kini mencengkeram baju bawahnya, dia sangat deg deg an.
Kini bibir Arcelo bersatu dengan bibirnya, sensasi manis dan bau-bau mint Febri rasakan dari bibir Arcelo. Apa memang aroma mulut calon Billionaire seperti itu, entahlah. Febri yang tidak berpengalaman hanya menutup mulutnya sehingga Arcelo hanya bisa menikmati bibir luar Febri. Arcelo yang menginginkan lebih menggigit bagian bawah bibir Febri sehingga dia merasa kesakitan lalu membuka mulutnya dan Arcelo langsung masuk, Febri yang terkejut membolakan matanya, dia tak menyangka kalau ciuman itu seperti ini. Merasakan nikmat yang Arcelo berikan, Febri terasa di awan mengambang tanpa beban.
Arcelo yang sudah kehabisan nafas menyudahi pautannya.
"Gimana nikmat?" tanya Arcelo dengan mengusap sisa saliva di bibirnya.
"Iya, bisakah kita mengulangnya kembali," kata Febri yang membuat Arcelo tersenyum.
"Ketagihan ya," goda Arcelo
Seketika muka Febri menjadi merah, dia sungguh malu bagaimana bisa dia meminta Arcelo untuk menciumnya lagi.
Arcelo mengabulkan permintaan Febri, dia mencium Febri dengan lebih ganas, bahkan kini dia menyusup masuk ke leher Febri.
Intuisi Febri kemudian membawa tangannya semakin menenggelamkan kepala Arcelo.
"Feb, Feb aku nggak bisa nafas, gila kamu semangat sekali," kata Arcelo menyudahi permainannya.
"Maaf Arcelo, rasanya gimana gitu membuat aku ingin lebih dan lebih," sahut Febri
"Iya tapi kalau aku kehabisan nafas kan bisa-bisa koit aku, nggak etis banget meninggal gara-gara kehabisan nafas saat bercumbu, bisa-bisa aku jadi hantu mes*um," ucap Arcelo yang membuat Febri tertawa.
Arcelo sungguh kocak sekali, kalau gini mirip sekali dengan papanya.
Mereka yang belum puas kembali melanjutkan aksi mereka, Arcelo kembali menyusup dalam leher dan Febri mulai mengeluarkan suara gaibnya.
"Arcelo," bisiknya.
"Nikmati saja Feb," balas Arcelo.
Arcelo meninggalkan gigitan cinta di leher Febri, karena aksi panas mereka baik Febri maupun Arcelo merasakan nyut nyutan karena tak ingin semakin jauh mereka pun menyudahi aksinya.
"Dua gigitan cinta sudah cukup," kata Arcelo
"Iya," balas Febri
"Ingat Febri, jangan baper. Aku ulangi lagi jangan baper. Kita melakukan ini karena naf*su, kalau kamu baper kamu akan sakit sendiri karena aku bukan pria baik-baik," sahut Arcelo lalu mengajak Febri untuk masuk dan tidur.
__ADS_1
Febri kini menuju kamar Airin kebetulan Airin masih belum tidur.
"Rin," panggil Febri
"Eh Feb, sudah selesai audisinya?" tanya Airin
"Sudah," jawab Febri
"Eh Rin, menurut kamu Arcelo tu gimana sih?" tanya Febri lagi
"Kenapa? naksir?" tanya Airin balik
"Nggak kok, cuma nanya aja," jawab Febri berbohong.
"Arcelo ya gitu, dia ma Arthur terkenal play boy," jawab Airin.
"Jangan jatuh cinta pada seorang play boy karena kamu bisa sakit hati sendiri," saran Airin
"Kamu nggak suka dengan Arcelo kan?" tanya Airin kemudian
"Siapa sih Rin yang nggak suka sama A4, lelaki perfect di galaksi Bimasakti ini," jawab Febri.
"Iya sih Rin, tapi jangan termakan rayuan mautnya selama dia nggak serius seperti Arsen," pesan Airin.
"What! apa Feb? kamu ciuman ma Arcelo!" Airin kaget dengan perkataan Febri
"Iya Rin," jawab Febri.
"Awas Arcelo!" kata Airin dengan mengepalkan tangganya. "Pasti dia merayu kamu dengan rayuan pulau kelapa kan, melambai-lambai nyiur di pantai," sahut Airin.
"Rin, itu salah lagu wajib negara kita, ciptaan Ismail Marzuki," timpal Febri.
"Tau," sahut Airin kesal.
Airin kini ingin bicara dari hati ke hati dengan Febri, dia sungguh nggak ingin Febri terperangkap rubah licik seperti Arcelo. Memang Arcelo itu baik tapi playboy, dia nggak beneran tulus.
"Kalau kamu menjadikan dia teman aku recom tapi kalau pacar aku no recom," pesan Airin.
"Cuma cium bibir atau yang lainnya?" tanya Airin kemudian
"Sama gigitan cinta Rin," jawab Febri.
"OMG Febri," sahut Airin dengan memijat dahinya dia tak menyangka Febri bisa berbuat jauh, rasa sukanya membuat dia rela melakukan itu dengan Arcelo.
__ADS_1
"Eh Rin, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Febri
"Apa?" tanya Airin balik
"Kamu pas ciuman sama Arsen atau pas Arsen meninggalkan bekas gigitan cinta padamu, kamu merasa ada yang nyut-nyut nggak Rin," jawab dan tanya Febri
"Iya, bahkan aku juga merasakan punyanya Arsen nyut-nyut gitu menempel di anu aku," jawab Airin dengan menutup matanya
"Anu apaan tu Rin?" tanya Febri
"Itunya Feb, rudal Jerico nya," jawab Airin
"Bukannya itu rudal yang berbahaya Rin, apalagi milik Israel Rin," sahut Febri
"Iya Feb, kalau milik Arsen mampu membuat perutku sembilan bulan membuncit Feb," timpal Airin.
"Astaga Rin, kita harus hati-hati. ini di cela*na da*lam aku rasanya basah-basah lengket, kamu gitu nggak?" tanya Febri.
"Sama Feb," jawab Airin.
"Matilah kita Rin, kita dewasa sebelum waktunya," kata Febri.
Mereka berdua membicarakan hal yang tabu, saling curhat masalah yang bersifat pribadi.
Dan karena sama-sama mengantuk mereka akhirnya terlelap.
Di sisi lain Papa Shane dan Mama Amira mengobrol seusai melakukan ritual panjat tebing mereka.
Mama Amira mengobrol sambil memainkan bulu-bulu halus di sekitar dada papa Shane.
"Mas, apa nggak papa ta membiarkan Arthur bebas seperti ini karena aku dengar-dengar anak kita play boy Lo," kata mama Amira
"Nggak papa sayang, anak kita sudah besar kalau semakin kita kekang dia akan berontak dan dampaknya malah bahaya, meskipun dia itu play boy tapi kan dia tanggung jawab atas pekerjaan dan kuliahnya, jadi jangan khawatirkan itu," jelas papa Shane.
"Iya mas, tapi coba deh kamu bicara dari hati ke hati dengan Arthur besok, terkait sifat play boy nya," ucap Mama Amira.
Setelah mengobrol papa Shane mengajak Mama Amira untuk ronde kedua.
"Kan sudah mas," kata Mama Amira
"Tadi kan panjat tebing sayang, turun tebingnya belum," sahut papa Shane dengan tertawa.
"Dasar,"
__ADS_1