
"Jangaaaaaan," teriak Airin
Arsen menatap Airin, bingung kenapa sampah botol nggak boleh di buang.
"Kamu jorok sekali sampah botol nggak dibuang," omel Arsen.
"Kamu ini cerewet sekali sih Arsen, aku jorok apa nggak itu urusan aku bukan urusan kamu," maki Airin yang tidak terima di bilang jorok.
Arsen yang kesal lalu mengembalikan botol minum ke tempatnya semula lalu dia merebahkan diri di tempat tidur Airin.
"Tempat tidur kamu kecil sekali keras lagi, lihatlah aku tempati sudah nggak ada ruang lagi," protes Arsen.
Airin yang kesal hanya mampu menghela nafas dan mengelus dadanya.
"Sabar Airin kesabaran kamu sedang diuji oleh manusia brengsek ini," batin Airin.
"Memangnya tempat tidur kamu besar?" tanya Airin
"Besarlah, jadi kalau aku punya istri nanti ga bingung kalau main panjat tebing," seloroh Arsen yang membuat Airin berteriak
"Arsen, kamu mes um sekali, kita masih kecil jadi belum boleh memikirkan tentang pernikahan," teriak Airin
Arsen tertawa, ekspresi Airin sungguh lucu sekali.
Airin yang kesal menghampiri Arsen yang rebahan di tempat tidurnya sedangkan dia duduk di tepi ranjangnya.
"Tertawalah sepuas kamu," kata Airin ketus
"Hey Airin jika nanti aku sudah dewasa dan menjadi orang sukses, apakah kamu mau menikah dengan aku?" tanya Arsen yang membuat Airin tertegun.
Bagaimana bisa manusia seperti Arsen punya pertanyaan seperti itu, dan juga bagaimana bisa di saat usianya yang masih dibilang muda dia sudah berfikir tentang menikah.
__ADS_1
"Belum tau, karena aku masih belum ingin menikah di usia dini, banyak kejadian yang mengerikan kalau kita menikah muda," jawab Airin.
"Memangnya kejadian mengerikan apa yang kamu maksud Airin?" tanya Arsen
"Ya banyak istri yang dibunuh, ditelantarkan dan diceraikan, aku nggak mau ya mengalami nasib tragis seperti itu," jawab Airin.
"Pikiranmu yang mengerikan, kan tadi aku bilang kalau aku sudah dewasa, jadi masih beberapa tahun lagi, karena setelah lulus kuliah aku harus kuliah lagi untuk mengejar gelar master, aku ingin menjadi seperti papa aku, lelaki terhebat seantero jagat raya," jelas Arsen.
Airin hanya terkekeh mendengar penjelasan Arsen, tak disangka juga Arsen sangat mengidolakan papanya.
"Aku pikir-pikir dulu," sahut Airin.
Karena pertanyaan Arsen, otak Airin kini jadi traveling dia membayangkan menikah dengan Arsen dan jadi nyonya yang bila menginginkan sesuatu tinggal perintah dan tidak pernah kekurangan uang, bahkan kini dia senyum-senyum sendiri.
Arsen yang melihatnya ikut tersenyum
"Pasti kamu membayangkan menikah denganku kan," kata Arsen
"Kamu pasti membayangkan menikah dengan aku kan," katanya lagi.
"Iya," sahut Airin keceplosan, "Eh enggak, siapa bilang," elak Airin
"Kata kamu barusan," ucap Arsen dengan tertawa.
Dia yang gemas mengacak acak rambut Airin, saat bersamaan ponselnya berdering, Mama Arini memanggil.
"Bentar mamaku menelpon," kata Arsen.
Airin turun dari tubuh Arsen lalu duduk,
Mama Arini bertanya dimana Arsen berada karena Arcelo dan Arthur datang ke rumah mencari ketua geng mereka.
__ADS_1
"Iya ma, otw pulang," kata Arsen lalu mematikan sambungan panggilannya.
Pas setelah Arsen mematikan sambungan telponnya, ponselnya meninggal sehingga dia tidak bisa memesan taxi online.
"Yah wafat," katanya
"Siapa yang wafat Arsen?" tanya Airin
"Ni ponselku," jawab Arsen.
Airin kesal sekali mendengar jawaban Arsen, "Ponsel mati dibilang wafat, bahasa Indonesianya dapat berapa sih," gerutu Airin yang merasa kena prank Arsen.
"Oh ya Airin pesankan taxi online," pinta Arsen.
"Maaf Arsen paketan aku hanya untuk aplikasi chat saja jadi nggak bisa buat pesan taxi online, lagian aku juga nggak punya aplikasi taxi online," sahut Airin.
"Ponsel aku juga mati jadi nggak bisa ngisi paketan kamu," timpal Arsen.
"Lalu gimana dong?" tanya Airin
"Pake ponsel bunda gimana?" Arsen memberi solusi
"ponsel bunda malah ponsel kentang," kata Airin dengan terkekeh.
"OMG," sahut Arsen dengan mengusap rambutnya.
Dia dan Airin berfikiran, angkot juga jauh dari rumahnya, dan belum tentu Arsen mau.
Dan tiba-tiba Arsen ada ide
"Kenapa nggak kamu saja yang antar aku pulang,"
__ADS_1