
"OMG, bayangan indah itu selalu muncul," kata Arcelo.
Karena hari semakin larut akhirnya dia memutuskan untuk tidur.
Waktu cepat berlalu, kini sang waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, waktunya Arcelo check out dan pulang.
Setibanya di rumah mama dan papanya sudah sarapan di meja makan.
"Kamu tidak pulang?" tanya mama Vani
"Dia check in semalam," jawab Papa Nick dengan melirik Arcelo.
Mendengar jawaban papa Nick membuat Arcelo merubah raut wajahnya yang tadinya baik-baik saja jadi agak baik.
"Untuk apa kamu check in, jangan bilang kamu check in bersama wanita," kata papa Nick dengan serius.
"Nggak kok pa, eh iya, eh gimana sih jelasinnya," ucap Arcelo dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Papa tidak butuh jawaban ambigu, coba kamu jelasin sekarang," titah papa Nick.
Arcelo menarik kursi di samping papanya kemudian dia menghela nafas,
"Arcelo tidur sendiri kok pa, memang sih kemarin Arcelo datangnya dengan wanita tapi bener Arcelo nggak ngapa-ngapain. Cium aja nggak, dia malah yang cium pipi Arcelo," jelas Arcelo.
"Kamu nggak bohong kan?" tanya Mama Vani dengan penuh penekanan.
"Sumpah ma, Arcelo mau kok selaput keperjakaan Arcelo di periksa ke dokter," jawab Arcelo yang membuat mama dan papa melemparkan tatapan mautnya, yang mempunyai selaput darah perawan itu hanya wanita dan lelaki tidak memiliki.
"Jangan ngaco kamu Arcelo, memangnya kamu wanita sehingga punya selaput darah," sahut mama Vani kesal.
"Just kidding ma," timpal Arcelo dengan mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya.
"Pokoknya ingat Arcelo, selama kamu belum dewasa jangan pernah sekali-kali melakukan s*x karena s*x itu membuat kamu kecanduan, sekali kamu melakukannya kamu pasti akan minta lagi dan lagi." Papa Nick menasehati anaknya.
"Seperti mama dan papa ya, yang kecanduan s*x," sahut Arcelo
__ADS_1
Mama Vani dan papa Nick saling pandang dan tersenyum.
"Sudah-sudah, sarapan dulu lalu mandi dan berangkat," titah papa Nick.
"Ok pa boz," sahut Arcelo lalu makan.
*********
Arthur berangkat dengan Aaron sedangkan Arsen dan Arcelo berangkat sendiri-sendiri.
Saat Arsen turun dari mobilnya, Airin sudah menunggu di sana, dia sengaja menunggu Arsen.
"Pagi Arsen," sapa Airin
"Pagi sayang, tumben nunggu aku. Bisa-bisa nanti hujan deras nih," goda Arsen.
"Ya udah besok nggak aku tunggu lagi," sahut Airin yang kesal dengan bibir maju.
"Kondisikan bibir kamu sayang, atau bibir aku yang legit ini akan melahapnya," timpal Arsen.
"Jangan kabur sebelum memberi aku vitamin dulu," bisik Arsen yang membuat Airin menghela nafas dan membalikkan badan.
Airin dan Arsen kini saling berpaut, hingga Aaron dan Arthur yang baru saja datang, mengumpat di dalam mobil.
"Brengsek mereka, bisa-bisanya berciuman di sini," umpat Arthur.
"Biarlah Arthur, kan mereka saling mencinta," sahut Aaron dengan menatap nanar Arsen dan Airin.
Setiap kali melihat Airin dan Arsen bersama hati Aaron terasa sakit namun dia mencoba santai.
Dari tempat Arsen dan Airin ada Raisa yang melihat mereka dia pun datang untuk melerai ciuman mereka.
"Enak sekali kamu Arsen, pagi-pagi udah ciuman," kata Raisa yang membuat Airin mendorong tubuh Arsen sehingga mau nggak mau pautan mereka terurai.
Arsen menatap Raisa dengan tajam, dia sungguh kesal sekali dengan Raisa.
__ADS_1
"Kamu mengganggu saja sih Raisa, apa mau kamu?" tanya Arsen dengan kesal.
"Aku mau kamu Arsen," jawab Raisa
Arsen yang kesal mengajak Airin pergi dan Raisa menarik tangan Arsen,
"Lepas Raisa!" teriak Arsen
Bukannya melepas tangannya Raisa malah semakin erat memegang tangan Arsen sehingga Arsen menarik tangannya dengan kuat dan ini membuat Raisa jatuh.
Arthur yang sudah keluar dari mobil menolong Raisa, "Jangan kasar dong Arsen dengan wanita," maki Arthur
"Dia dulu yang mulai jadi jangan salahkan aku," sahut Arsen tak terima.
"Tapi kan bisa bicara baik-baik," timpal Arthur
"Hey Arthur, aku sudah memintanya untuk melepas tangan aku, bukannya dilepas dia malah semakin erat, jadi menurut kamu aku masih harus bagaimana?" tanya Arsen sambil melemparkan tatapan mautnya pada Arthur lalu dia pergi.
Arthur membawa Raisa pergi dari parkiran khusus mereka sedangkan Aaron hanya tersenyum dengan masalah teman-temannya.
Arcelo yang baru datang segera memarkirkan mobilnya lalu masuk, dia yang membawa ponsel Febri berniat untuk mengembalikannya.
Arcelo mencari Febri kemana-mana ternyata Febri duduk di taman samping kampus.
"Feb?" panggil Arcelo
Febri lalu menoleh lalu tersenyum, "Halo Arcelo," balas Febri
Arcelo menyodorkan ponselnya, "Ini ponsel kamu, kemarin tertinggal di hotel," kata Arcelo
"Oo aku kiraen jatuh," sahut Febri sambil menerima ponselnya dari tangan Arcelo.
"Makasih ya," ucap Febri lalu dia pamit untuk kembali karena ada kelas.
Arcelo menatap punggung Febri yang menjauh,
__ADS_1
"Tu anak apa menghindari aku ya,"