4 Penguasa Kampus

4 Penguasa Kampus
Belanja


__ADS_3

"Jangan membuat aku emosi di rumahku Arsen, aku bukan orang kaya seperti kamu, untuk memiliki rumah seperti ini saja ayah dan bundaku harus kredit selama lima belas tahun," sahut Airin dengan kesal.


"What! ucap Arsen kaget dengan membolakan matanya, "Memangnya berapa harga rumah kecil seperti ini sehingga kalian harus kredit selama lima belas tahun?" tanya Arsen kemudian.


"Meskipun kecil tapi rumah di sini mahal, harganya sekitar lima ratus jutaan," jawab Airin.


"Hanya lima ratus juta kalian kredit selama itu, astaga Airin miskin sekali dirimu," sahut Arsen yang membuat Airin kesal pada Arsen, ingin sekali Airin menendang Arsen dari rumahnya.


"Dasar tamu nggak beradab," umpat Airin.


Mendengar umpatan Airin membuat Arsen tertawa, ingin sekali melahap bibir Airin yang sudah maju ke depan.


"Hey Airin kondisikan bibirmu atau aku khilaf," kata Arsen yang seketika membuat Arini menutup bibirnya.


Dia melemparkan tatapan mautnya pada Arsen, "Jangan macam-macam kamu Arsen, kalau bundaku tau aku bisa dimarahi," sahut Airin was was sambil melihat ke arah dapur.


Ibunda Airin nampak menyiapkan beberapa makanan untuk Arsen, beliau terlihat sibuk hingga tak kunjung beranjak dari dapur.


"Apa Aaron pernah kemari?" tanya Arsen


"Nggak pernah," jawab Airin. "Kenapa?" tanya Airin kemudian.


"Cuma tanya, gak boleh?" jawab Arsen.


"Istigfar Airin, dia sedang menguji kesabaran kamu," sahut Airin dengan mengelus dadanya.


Arsen melirik Airin dengan berdecak kesal, beberapa saat kemudian ibunda Airin datang, beliau mengajak Arsen untuk makan bersama kebetulan memang sudah waktunya makan siang.


"Ayo makan dulu," ajak ibu.


"Ngapain sih Bun, ngajak dia makan mengurangi jatah nasi dan lauk kita saja," sahut Airin.


Arsen menatap Airin dengan membolakan matanya.


"Airin gak boleh gitu," ucap bundanya yang membuat Airin terkekeh.


Arsen melihat makanan di meja makan, awalnya dia ragu untuk makan namun saat makanan masuk ke dalam mulutnya dia merasa kalau ini makanan yang enak.


"Oh ya apa nama masakan ini?" tanya Arsen.

__ADS_1


"Terong balado," jawab Airin ketus.


"Aku belum pernah makan makanan ini," kata Arsen.


Arsen makan dengan lahap, bunda Airin memasukkan terong dalam piring Arsen dan Arsen dengan senang menerimanya.


Mama Arini memang jarang sekali masak makanan seperti itu, selain karena dia tidak begitu bisa masak ada Koki di rumahnya yang biasanya mereka masak masakan western mengingat Arsen adalah keturunan German, namun ada juga sih beberapa momen Mama Arini masak masakan Indonesia.


Setelah makan, Airin dan Arsen duduk kembali di ruang tamu.


"Kamu kan sudah kenyang, kenapa nggak pulang?" tanya Airin.


"Kamu ini jahat sekali sih Airin, aku kan datang menjenguk kamu tapi kamu malah mengusir aku," ucap Arsen kesal.


"Menjenguk kok gak bawa apa-apa," seloroh Airin yang membuat Arsen menatapnya.


"Memangnya perlu?" tanyanya heran


"Iya lah, supaya yang dijenguk itu senang, gitu aja nggak paham. Aku heran dulu mama kamu saat hamil kamu nyidam apa ya, kok anaknya lahir seperti ini," kata Airin.


"Mama ku itu sama seperti kamu, wanita bar-bar papaku saja sampai kewalahan mengahadapi mama," sahut Arsen yang membuat Airin menatapnya, bahkan jiwa kepo Airin meronta, sungguh dia ingin tahu tentang kelaurga Arsen.


"Iya, hampir mirip dengan kamu, namanya juga hampir sama. Mama itu juga hampir mirip dengan mamanya Aaron tapi kalau mama Aaron dia sangat pintar bahkan kampus kita itu beliau yang mendesain," jelas Arsen yang membuat Airin manggut-manggut.


"Memangnya siapa nama mama kamu?" tanya Airin kepo


"Arini, hampir sama kan?" jawab Arsen.


"Iya," sahut Airin.


Airin dan Arsen terus mengobrol, hingga sore hari pun datang. Airin lagi-lagi bertanya pada Arsen kapan pulang namun Arsen menjawab kalau dia tidak mau pulang.


Dia juga mengajak Airin ke minimarket untuk belanja karena dia merasa tersinggung dengan kata-kata Airin yang datang menjenguk gak bawa apa-apa.


"Bun, kami ijin pergi ke mini market ya, Airin minta jajan, Bunda minta apa?" pamit Arsen dan bertanya pada Bunda Airin.


"Hey Arsen, kenapa kamu ikut-ikutan aku memanggil bunda, dia itu bunda aku bukan bunda kamu," sahut Airin tak terima Arsen memanggil bundanya dengan sebutan bunda juga.


"Kamu ini cerewet sekali, bunda saja tidak keberatan," timpal Arsen. "Iya kak Bun?" kata Arsen menekankan pada Bunda.

__ADS_1


"Iya Rin, nggak apa-apa kok. Siapa tau nanti Arsen jodoh kamu kan manggilnya juga bunda," ucap Bunda.


Airin yang kesal berjalan lebih dulu dengan menghentakkan kakinya ke lantai.


"Awas di Arsen, tadi perasan manggil ibu kantin sekarang jadi bunda, apa sih maunya," gerutu Airin.


Arsen segera menyusul Airin yang sudah menunggu di depan mobil, meskipun marah dia tetap tidak melewatkan traktiran Arsen untuk belanja di Mini market.


Inilah pertama kalinya Airin baik mobil mewah, apalagi mobil Arsen sungguh mewah tidak semua pengusaha bisa membelinya.


Mobil yang dibawa Arsen kali ini adalah mobil hypersport yang hanya orang-orang tertentu yang memilikinya.


Saat masuk mobil Arsen, mulut Airin terbuka lebar hingga Arsen tersenyum melihat Airin.


"Tutup mulutnya, biar ngga netes air liurnya," kata Arsen sambil menutup mulut Airin yang terbuka.


Airin segera menyingkirkan tangan Airin dari mulutnya.


"Kamu ini Arsen, aku ini terpukau dengan mobil mewah kamu," sahut Airin kesal.


"Memangnya kamu belum pernah naik mobil sport?" tanya Arsen.


"Aku tu kadang hanya naik mobil jenis mobil kaleng dan beberapa mobil jenis city car, itupun saat aku pesan taxi online," jawab Airin dengan terkekeh.


"OMG, Airin. Kenapa keluarga kamu nggak beli mobil?" tanya Arsen lagi


"Arsen-Arsen, untuk makan dan bayar biaya kuliah saja kami sudah sangat bersyukur, nggak mikir mobil dulu," jawab Airin yang membuat Arsen terdiam.


Lalu dia menyalakan mobilnya dan pergi dari halaman rumah Airin.


Sesampainya di mini market Airin nampak bingung, Arsen mengambil banyak camilan di sana, dia memenuhi beberapa keranjang belanjaan dengan camilan, buah, dan banyak lagi.


"Arsen kamu apa-apaan, kita nggak lagi buat konten lo seperti yang marak di media sosial," kata Airin heran.


"Siapa juga yang lagi buat konten, aku memang ingin belanja buat bunda, terkadang aku juga berbelanja untuk mama aku," sahut Arsen sambil mengambil makanan dan memasukkannya ke dalam keranjang.


"Oh ya, pesankan taxi online untuk membawa ini semua, karena mobilku nggak muat untuk mengangkut ini semua," imbuh Arsen.


Setalah puas berbelanja kasir mulai menghitung belanjaan Arsen. Airin membolakan matanya, saat kasir memberitahukan jumlah yang harus dibayar Arsen.

__ADS_1


"Arsen banyak sekali," kata Airin nggak enak.


__ADS_2