
Rara memasang masker dan topi penyamarannya di toilet sebelum keluar untuk menghindari perhatian. Karena dirinya cukup akrab dengan dunia publik figur, Rara jadi mengerti bahwa ia harus melindungi dirinya dari serangan fans fanatik yang tidak peduli apa pun kecuali idolanya sendiri, terkhusus fansnya Sakura.
Lepas itu Rara melangkah keluar. Baru beberapa langkah ia berjalan, ponselnya berdenting. Sebuah notifikasi transfer uang masuk disusul chat singkat.
Abimanyu : Lumayan.
Rara menghela napas. Kali ini nominalnya tidak sefantastis kemarin tapi tetap saja.
Rara : Buat apa? Saya belum ada rencana traktir orang.
Abimanyu : Beli buat diri sendiri.
Rara : Kalau mendadak saya pake barang mahal terus, orang malah ngeh saya banjir uang dari suami orang.
Abimanyu : Kalo gitu simpen.
Rara : Ngasih saya uang tanpa maksud bikin saya kesannya jadi pengemis.
Abimanyu : 🤷‍♂️
Rara menghela napas. Pada akhirnya ia tak meladeni lagi karena mendebat pria ini entah kenapa sulit dan buang-buang waktu. Daripada itu Rara mesti cepat pulang karena Mama dan Papa khawatir padanya.
Baru saja Rara duduk di taksi pesanannya, seseorang tiba-tiba ikut masuk juga.
"Mbak, ini taksi saya—" kata Rara protes tapi seketika bungkam mengenali siapa wanita bermasker hitam itu. "Sakura."
Sakura melepas maskernya. "Jalan, Pak," perintahnya pada supir.
Pria tua di depan sempat ragu, tapi Rara mengangguk karena mustahil juga ia menendang Sakura keluar, memancing keributan dan akhirnya terjadi aksi jambak-jambakan.
Hal itu harus dihindari bahkan kalau Rara sekarang butuh perhatian. Terlibat perkelahian langsung dengan istri sah dari selingkuhannya pasti akan membuat citra seorang pelakor jadi turun, kan?
"Jauhin Abimanyu," gumam Sakura dingin, fokus menatap ke depan.
Harus dicatat di sini bahwa Rara berkata pada publik dirinya dan Abimanyu tidak berselingkuh, namun di belakang layar ia berterus terang bahwa ia selingkuh jadi Sakura berpikir bahwa Rara memang merebut suaminya.
Sebelum Rara menjawab ia memerhatikan dulu apakah Sakura merekam percakapan ini atau tidak. Setelah yakin barulah mulut Rara bergerak.
"Suami lo yang ngotot," balas Rara seperti halnya selingkuhan.
Sakura terlihat menggigit lidahnya untuk menahan marah.
"Berapa?" Dia berpaling pada Rara akhirnya. "Lima miliar? Sepuluh miliar? Lima belas? Dua puluh? Tiga puluh miliar? Berapa lo butuh, hm?"
"Satu triliun, lo kasih?" Rara balas menantang.
__ADS_1
"Lo jauhin suami gue habis itu? Fine."
Tukang gertak. Bahkan kalau itu dia, angka miliaran sudah terlampau banyak apalagi triliun. Namun dengan begini Rara jadi tahu bahwa di hubungan pernikahan Abimanyu dan Sakura, yang mengemis cinta benar-benar hanya Sakura.
Yang aneh, kenapa Sakura terkesan sangat panik? Padahal kemarin dia sibuk menyerang lewat sosial media tapi sekarang dia datang langsung, menahan marahnya untuk melempar uang agar Abimanyu tidak direbut.
Pria itu ... jangan bilang dia sengaja membuat situasi ini?
"Sakura." Rara pun menatapnya. "Emang enggak ada yang lebih baik daripada Abimanyu?"
"Enggak usah sok ceramah sama gue, anjing. Gue tanya lo butuh berapa?!"
"Lo takut apa sebenernya? Sayang sama pernikahan lo? Emang pernikahan lo itu punya sesuatu yang bikin lo sayang?"
Biasanya orang yang diambang perceraian lalu menangisinya itu kan punya kenangan. Mereka tertawa bersama, mereka menangis bersama, ada anak-anak di antara mereka, walau terluka ada kenangan juga, tapi Sakura memang punya apa di pernikahan itu?
Lima tahun dia diperlakukan seperti sampah oleh suaminya namun dia bersikeras tidak mau cerai. Omong kosong kalau dia bilang sayang pada pernikahannya. Justru gila kalau dia tidak mau cerai.
"Atau lo takut," ucap Rara, "suami impian yang lo omongin ke semua orang itu direbut?"
"BERISIK!"
Jadi begitu.
"Lo yang bikin diri lo jadi gila sendiri, ternyata."
Hanya sesaat setelah itu kesabaran Sakura habis dan tangannya mencakar Rara. Kuku panjang itu menancap di pipinya, meninggalkan goresan disusul rasa sakit dari rambutnya tertarik.
"TAU APA LO SOAL GUE, HAH?!" jerit Sakura histeris. "TAU APA LO SEMUA SOAL GUE?! GUE LAKUIN SEMUANYA BUAT DIA! GUE TAHAN SEMUANYA BUAT DIA TAPI SEKARANG LO MAU BIKIN ITU SELESAI?! ENGGAK BAKAL GUE BIARIN, BERENGSEK! DIA PUNYA GUE! CUMA BUAT GUE! NGERTI LO?!"
Supir di depan jelas panik melihat pertengkaran itu. "Mbak, udah, Mbak!"
Tapi suaranya tak terdengar. Sakura terus mencangkar dan menjambak rambut Rara yang hanya diam tanpa perlawanan.
Sengaja.
Begitu merasa tak tahan, Rara mendorong Sakura melepaskannya. Sakura yang terdorong justru menangis terisak-isak. Dia menggosok wajahnya sendiri dan berteriak keras.
"CUMA GUE YANG SPESIAL BUAT DIA! HARUSNYA CUMA GUE!"
"Lo pikir gaya lo sekarang bikin dia cinta sama lo?" Rara jadi merasa emosional.
Bisa ia rasakan kepedihan Sakura dari tangisannya, tapi justru karena itulah Rara emosi. Sebenarnya kenapa perempuan seluar biasa dia malah jadi tolol mencintai sesuatu yang tidak menghargainya?
"Semua yang lo lakuin, nyebarin aib di sosmed terus nangis ngeraung-raung di sini lo pikir buktiin lo tulus, cinta mati sama Abimanyu? Enggak, tolol! Lo justru bikin diri lo jadi bahan tontonan orang yang kasian sama kebegoan lo itu!"
__ADS_1
"LO ENGGAK NGERTI RASANYA!"
"Emang seenak apa rasanya dimainin, hah?!"
Pertengkaran itu pasti akan terus berlanjut jika mobil tidak tiba-tiba berhenti. Rara menoleh, berpikir supir taksi mau menurunkan mereka karena berbuat keributan di mobil tapi ternyata itu karena mereka dicegat.
Sosok Abimanyu terlihat turun dari mobil biru di depan, mengisyaratkan Rara untuk membuka pintu.
Sakura langsung terpaku melihat suaminya.
"Yang—"
"Keluar. Biar Tomoya nganterin kamu pulang," kata dia pada istrinya.
"Tapi—"
"Sakura." Abimanyu menatapnya seperti menatap binatang kotor yang habis terjatuh di selokan bau. "Kenapa enggak sekalian kamu guling-guling di mol biar orang tau kamu menderita?"
Kan, apa Rara bilang. Menangis dan berteriak itu hanya perlu dilakukan sekali untuk melampiaskan, bukan berkali-kali dan berterusan untuk menyelesaikan.
Ujung-ujungnya yang datang bukan rasa kasihan melainkan rasa kesal akan betapa menyebalkan dia.
"Keluar." Abimanyu menarik lengan istrinya turun lalu mendorong dia pada bawahannya.
Rara pikir dia datang untuk menjemput saja, tapi Abimanyu ternyata ikut masuk ke taksi.
"Jalan, Pak," katanya tenang dan tak lagi melirik Sakura di sana. Wilayah dia mencegat mobil sangat sepi hingga tak perlu merasa khawatir seseorang melihat.
Tapi Rara khawatir akan sesuatu.
"Kamu ngapain di sini?"
Abimanyu menoleh. Alih-alih menjawab, dia justru berkata, "Kita ke dokter."
"Hah?"
"Muka kamu luka. Perlu dokter."
"Saya bisa ke dokter sendiri."
Abimanyu mengangkat alis. "Yang bilang enggak bisa?"
Dasar pria menyebalkan. Entah apa lagi niatnya tapi Rara yakin dia bukan sekadar datang untuk membantu karena merasa bertanggung jawab atas perbuatan istrinya.
Percaya pada pria ini adalah kesesatan sekarang.
__ADS_1