Abimanyu : Pelakor Sewaan

Abimanyu : Pelakor Sewaan
25. Sadar Diri


__ADS_3

Mungkin aneh tapi di hari pertunangannya sendiri Rara malah berusaha keras untuk menahan dirinya tidak bahagia. Rara tidak mau sampai dirinya larut dalam sandiwara yang ia buat sendiri. Padahal Rara sendiri yang bilang bahwa ia tidak mau dulu cinta-cintaan sebelum membalas kebaikan orang tuanya.


Setelah proses lamaran selesai, kini Abimanyu dan Rara masuk ke sesi pengambilan foto prewedding. Awalnya adalah sesi foto keluarga dulu, baru kemudian mereka diberi waktu pribadi, hanya bersama staf fotografer yang mengatur posisi mereka.


"Kamu kenapa enggak senyum dari tadi?" tanya Abimanyu diam-diam. "Sekarang kesannya kamu nikah sama kakek-kakek padahal kamu enggak sudi."


"Ini kan ceritanya emang nikah paksa." Rara memegang bahu Abimanyu sesuai kata fotografer. "Kamu maksa-maksa mau nikahin saya padahal saya enggak mau. Kalo saya kebanyakan senyum yang ada malah orang ngatain saya."


"Kamu terlalu mikirin pendapat orang."


Runa mendelik. "Artis idup lewat pendapat orang. Udah tau juga."


Pria itu malah tersenyum. Tangannya yang diatur hanya menempel manis di pinggang Rara kini bergerak mendekapnya. Itu bukan settingan dari fotografer tapi lampu flash masih terus menyala, mengabadikan apa pun yang mereka lakukan.


"Ranaya," bisik Abimanyu di telinganya. "Kamu mau bulan madu di mana?"


Detik berikutnya Rara buru-buru melepaskan diri, lupa sejenak kalau mereka ada di sesi pemotretan. Gadis itu malah membuang muka dari Abimanyu, kesal melihat dia malah senyam-senyum tidak jelas.


"Ngapain juga kamu bahas itu coba?"


"Loh? Itu kan penting dibahas." Abimanyu melipat tangan, membalas dengan wajah sangat usil. "Jangan sampe enggak ada itu di hubungan kita. Kunci langgeng hubungan bukan setia, Ranaya, tapi ranjang."


"Enggak usah kamu perjelas!" Rara berusaha keras tidak mencakarnya.


Rasa malu yang rasanya bergejolak di dada Rara itu sangat sulit ia kendalikan. Dari tadi ia menolak baper tapi Abimanyu malah terus-menerus memanasi. Bukankah dia tidak perlu melakukannya?


Kan hubungan ini tidaklah sehangat itu!


"He, he!" Fotografer bertepuk tangan menegur. "Ayok buruan! Becandanya nanti kalo udah sah!"


Wajah Rara semakin merah sementara Abimanyu malah terkekeh. Selama sesi itu Rara berulang kali mendelik pada Abimanyu dan begitu semua selesai, Rara bergegas meninggalkan dia.


Pihaknya Abimanyu termasuk Pak Menteri pun sudah meninggalkan kediaman Rara. Selesai Rara ganti baju, ia turun karena Abimanyu memanggilnya berkenalan dengan saudara-saudaranya dulu.


"Kenalin," pria itu menunjuk keluarganya satu per satu, "adek satu ibu saya, Banyu sama Cetta. Ini anaknya Juwita, Lila, Nia, Yunia."


"Halo, Kakak." Lila yang paling besar di antara anak Juwita menyapanya ramah. "Ibu pesen katanya maaf enggak bisa dateng, soalnya Milo lagi sakit. Tapi Ibu bilang katanya nanti nikahan Kakak bakal dateng."


Rara tersenyum manis. "Salamin Kakak ke Ibu kamu yah. Bilang juga makasih hadiahnya."

__ADS_1


Mereka bicara sebentar tapi karena masih baru, masih cukup banyak kecanggungan. Abimanyu pun pamit sambil menggendong Yunia yang sudah tidur di bahunya karena capek.


Rara menunggu sampai mobil Abimanyu dan mobil adiknya pergi. Ketika Rara berbalik, di depan teras ternyata Mahen berdiri melipat tangan.


"Kita enggak sempet ngomong dari kemarin," kata pria itu seraya tersenyum. "Selamat, yah."


Rara tak bisa menyembunyikan ringisan rasa bersalahnya. "Maaf, Mahen. Maaf banget."


"Santai aja. Mama kamu juga udah jelasin perkaranya gimana. Masih untung dia enggak bawa presiden ngelamar kamu." Mahen terkekeh. "Kamu santai. No hard feeling di sini."


Rara langsung menghela napas lega. Memang ada untungnya Pak Menteri ikut campur. Dengan begitu setidaknya Mahen pun tidak tersinggung berat.


"Kita masih bisa jadi temen, kan? Ngobrol sama kamu lumayan enak soalnya."


Tentu saja Rara mengangguk. "Kapan-kapan ngobrol lagi, yah."


Mahen juga mengangguk sebelum dia merogoh sesuatu di sakunya, mengeluarkan sebuah kotak yang Rara kenal.


"Ini ...." Rara mendongak. "Bukannya hadiah buat Mama kamu?"


Mahen tersenyum lucu. "Bohong. Ini sebenernya buat kamu."


"Enggak pa-pa. Toh bukan bentuk love juga." Mahen mengeluarkan gelang cantik dengan angka delapan sebagai hiasannya itu lalu memasangkan ke tangan Rara. "Semoga langeng yah, Ra."


Rara merasa bersalah lagi sudah menghancurkan harapan Mahen. Padahal mungkin dia sudah berpikir mereka bisa melanjutkan ini tapi Rara justru menikahi orang lain. Namun ini yang terbaik. Rara tidak bisa menjebak dia dalam hubungan yang Rara tidak serius di dalamnya. Justru lebih jahat seperti itu daripada menolaknya.


"Makasih, yah."


*


Setelah hari pertunangannya, Rara benar-benar sibuk mempersiapkan pernikahan. Memang Abimanyu yang membayar semua biaya untuk pernikahan itu tapi tentu saja Rara sekeluarga yang memilih apa saja yang dibutuhkan. Rara sampai merasa tubuhnya mau remuk gara-gara mengurus ini dan itu. Apalagi Rara cuma punya waktu dua minggu karena Abimanyu ingin pernikahan itu berlangsung sesegera mungkin.


Mata penjahit baju pengantin dan mata pengantinnya sama-sama hitam lantaran begadang. Lepas mengurus baju, Rara mampir untuk mengambil undangannya, kemudian mampir ke spa di mana teman-temannya menunggu. Mereka yang mengajak Rara ke spa karena Rara bilang ia sangat sibuk mengurus segalanya.


Baru saja Rara selesai melepas pakaiannya, memakai kimono dan hendak masuk ke tempat pemijatan, Rara dihentikan oleh suara tawa dari dalam.


"Udah belagu dia ngambil bekasnya Sakura. Sok-sokan bilang enggak pengen tapi keluarganya morotin Abimanyu enggak ngotak."


Rara jelas sadar mereka bicara soal siapa.

__ADS_1


Siapa lagi kalau bukan Rara sendiri.


"Jijik banget enggak sih sama dia? Kayak, dulu lo nempel-nempel buat numpang terkenal dikit tapi sekarang sok ngerasa kita sama."


"Temen gue haters garis kerasnya si Rara, sih. Kalo kata dia mukanya sok polos otaknya pelakor kelas kakap."


"Kalo dipikir-pikir yang bikin Sakura minggat kan dia. Habis ngusir istri pertama langsung maju jadi istri kedua. Iyuh, murahan banget!"


"Hahaha!"


"Guys, engak boleh gitu, guys. Namanya juga cewek miskin. Ya segala cara dilakuin dong. Pesugihan kek, jampi-jampi kek, ya termasuk pura-pura enggak jadi pelakor padahal pelakor."


"Hahaha!"


Rara menekan bibirnya satu sama lain. Tentu saja ia tak kaget. Malah kalau ia kaget Rara jadi bodoh. Rara sangat tahu karakter mereka semua dan karena itulah Rara bergaul dengan mereka.


Sebab mereka akan berpura-pura menyukai seseorang selama orang itu bisa dimanfaatkan.


Enggak masalah, bisik Rara pada hatinya yang agak terluka. Toh sekarang mereka juga bakal jilat tanah buat aku. Kami emang enggak temenan buat saling tulus.


"Lucu, yah?"


Rara tersentak oleh suara rendah di belakangnya. Spontan ia menoleh, menemukan Anita yang ternyata juga baru datang, memakai kimono seperti Rara.


"Pertemanan di dunia orang miskin sama orang kaya keliatannya beda banget," ucap dia penuh arti.


Rara sempat diam tapi kemudian membalas, "Kita semua di sini nyari uang jadi emangnya bisa tulus, Mbak?"


"Makanya lucu, kan?" Anita tersenyum mengejek kalimatnya sendiri. "Lucu karena kita semua cuma pura-pura buat uang."


Ya, memang lucu.


"Tapi Rara, kalau harus jujur, di antara orang lucu di sini, aku lumayan suka sama kamu."


"Aku?"


"Atau seenggaknya aku suka sama Rara yang dulu." Anita berjalan melewati Rara. "Sebelum kamu ngelakuin semuanya."


Begitu Anita mendorong pintu terbuka, pembicaraan di dalam seketika selesai dan Rara mau tak mau ikut masuk, seolah tak dengar apa pun.

__ADS_1


*


__ADS_2