Abimanyu : Pelakor Sewaan

Abimanyu : Pelakor Sewaan
16. Perubahan Sakura


__ADS_3

Sakura sudah lama kehilangan jati dirinya yang polos. Sejak dirinya tenggelam dalam rasa cintanya pada Abimanyu. Sakura menyadari bahwa seharusnya saat itu ia tak terpikat pada pesona pria brengsek yang meniduri banyak gadis di kampus. Sakura terjebak dalam angan-angan bahwa dirinyalah yang akan menjadi wanita terakhir dari pria brengsek itu, alasan dari dia berhenti berbuat berengsek karena dia mencintai Sakura.


Namun menyadari bukan berarti berhenti. Sakura justru menolak ketika dirinya ternyata bukan gadis spesial bagi Abimanyu. Sakura tak menerima dan memilih melimpahkan penyalahannya pada Juwita, wanita yang dicintai Abimanyu. Bahkan kalaupun Sakura tahu Juwita tak membalas perasaan Abimanyu, Sakura tetap menyalahkan Juwita atas apa yang menimpanya.


Dan setelah mendengar musuhnya jelas-jelas memberi nasehat, Sakura jadi tersadar. Benar juga, selama ini ia bertindak sangat rendahan hingga membuat dirinya sendiri tersudut. Kalau begitu Sakura tinggal bertindak sebagaimana seharusnya, kan?


"Gue dateng cuma buat bilang : Abimanyu enggak sehebat yang dia tunjukin ke semua orang."


Rara berbalik pergi, meninggalkan Sakura karena urusannya sudah selesai.


Tentu saja Rara sadar bahwa ia barusan memberi saran sangat berguna pada lawannya. Pada orang yang seharusnya ia jatuhkan dan mungkin akan menjatuhkannya. Tapi Rara tak peduli.


Abimanyu menginjak-injak sesuatu yang Rara anggap penting. Dia menghilang di saat Rara butuh dan seenaknya datang ketika dia butuh. Mungkin dia pikir dunia ini milik dia.


*


"Rara dateng ketemu Sakura?" Abimanyu hampir merasa salah dengar atas informasi yang diberikan Tomoya padanya. "Maksud lo berantem?"


"Dari laporan pembantu lo sih kayaknya mereka cuma ngobrol, Bos. Selingkuhan lo pulang enggak kenapa-napa terus Sakura enggak tau kenapa jadi tenang."


Apa yang Rara lakukan? Ini diluar prediksi Abimanyu. Bahkan kalau dia berniat memicu keributan, dia seharusnya membuat Sakura lebih kacau tapi Sakura yang tenang setelah bertemu Rara itu mencurigakan.


Abimanyu mengambil ponselnya, membuka ruang obrolan dengan Rara. Sejumlah chatnya belum Abimanyu baca tapi Abimanyu hanya fokus mengirim pesan.


Abimanyu : Kamu ngapain ketemu Sakura?


Centang satu.


Abimanyu menekan profilnya tapi gambar yang semula ada mendadak tidak ada.


"Ini maksudnya gue diblokir?" Saking tak percaya Abimanyu sampai bertanya pada Tomoya.


"Wah, wah." Tomoya mengusap dagunya penuh rasa tertarik. "Selingkuhan lo kayaknya makin berani, Bos. Mungkin dia ngambek karena lo enggak ngangkat telfon dia."


"Gue sibuk. Nanti juga gue samperin. Ngapain dia ngambek?" balas Abimanyu logis.


"Yaelah, Bos, mau lo ngurusin perang dunia juga kalo cewek nelfon enggak lo angkat, skala perangnya nambah dua kali lipat."


Dengan kata lain dia sungguhan ngambek karena Abimanyu mengabaikan dia? Abimanyu tahu perempuan memang suka begitu tapi ia menganggap hubungannya dan Rara itu hubungan kerja. Dalam dunia kerja jika permintaan kalian belum direspons ya berarti kalian harus bersabar karena bukan hanya kalian urusan penting di dunia ini.

__ADS_1


"Lo mau pergi, Bos?" Tomoya langsung bertanya demikian sebab Abimanyu yang sejak kemarin duduk di kursinya mengerjakan dokumen dan laporan kini beranjak. "Ketemu selingkuhan lo?"


"Bukan." Abimanyu memasang jaketnya. "Sakura."


Abimanyu harus memastikan dulu 'ketenangan' macam apa yang Sakura dapatkan setelah bicara dengan Rara.


*


Abimanyu melangkah memasuki kediamannya setelah beberapa hari tak pulang. Disambut oleh sejumlah pelayan yang siap mengambil jaket, sepatu dan jam tangannya, Abimanyu justru mencari keberadaan Sakura.


Tenang sekali. Memang mencurigakan karena wanita itu biasanya paling suka menbuat keributan ketika Abimanyu pulang. Apalagi terakhir kali Abimanyu menodongkan senjata pada orang tuanya.


"Mana Sakura?" tanya Abimanyu karena tak menemukannya di sudut-sudut yang terlihat.


"Nyonya menunggu di rooftop, Pak."


Abimanyu terlalu penasaran sampai ia langsung naik alih-alih pergi mandi dulu. Setenang apa Sakura sebenarnya? Maksudnya dia memilih memakai narkoba saja daripada mengamuk?


"Kamu pulang?"


Abimanyu sangat terkejut melihat Sakura duduk normal, tanpa narkoba atau alkohol di sana. Wanita itu justru minum teh dan berpakaian rapi, dengan rambut yang juga tampak ditata sederhana.


"Surat cerai kita aku terima." Sakura berucap penuh kewarasan. "Tapi aku punya syarat."


"Syarat?" Abimanyu sampai ragu untuk duduk karena mengira istrinya kesurupan. Terakhir kali ia mendengar Sakura tidak marah-marah, tidak berteriak dan tidak menghancurkan barang adalah sebelum pernikahan mereka.


"Aku mau ngobrol sama Juwita."


"Enggak waras." Abimanyu langsung membalas sarkas. "Kamu kira aku sinting biarin kamu yang gila gangguin Juwita lagi? Urusan kita ya urusan kita. Juwita enggak ada hubungannya."


"Bukannya justru karena dia kita kayak gini?"


"Jadi sekarang kamu mau nyalahin Juwita lagi?"


Apanya yang tenang. Abimanyu hampir yakin dia sungguhan kesurupan tapi pada akhirnya dia tetap sama. Dia tetap memandang Juwita sebagai pihak yang salah atas semua masalah di hidupnya.


"Kamu enggak bakal kayak gini kalau bukan karena Juwita, iya kan, Bi?"


"Kalo bukan karena Juwita," Abimanyu membalas dingin, "gue enggak bakal sudi ngelirik lo, Sakura."

__ADS_1


Walau ucapan Abimanyu sudah kasar, alih-alih berang, Sakura justru tersenyum sinis. "Bukannya lebih bagus? Dan makanya karena itu aku enggak bisa berenti nyalahin Juwita."


"Ngomong sama lo emang enggak pernah ada gunanya." Abimanyu beranjak, merasa obrolan tidak berguna ini lebih baik diakhiri saja. Ujungnya akan selalu sama.


"Kalo kamu enggak setuju sama syarat aku, mungkin Juwita sendiri yang bakal dateng."


"Juwita enggak punya cukup waktu ngurusin lo."


"Dia bakal dateng." Sakura berucap yakin. "Karena kamu ... anak kesayangannya."


*


Rara menonton tayangan di ponselnya tanpa ekspresi. Baru saja Sakura mengunggah sesuatu setelah sekian lama. Namun kali ini jauh berbeda dari apa yang dia unggah biasanya.


"Ya, gue emang bohong soal semuanya. Semuanya palsu. Gue sama Abimanyu enggak pernah mesra. Bahkan dari awal ijab kabul."


Dia membantah semua perkataannya sendiri bahkan sekalipun mengundang ejekan. Sakura terlihat sudah tidak peduli dan terus mengungkapkan bahwa Abimanyu bukanlah suami sempurna seperti katanya.


"Sekarang gue lagi enggak mau curhat. Juga bodo amat kalian nganggepnya apa. Cuma satu yang mau gue bilang," Sakura menatap lurus pada kamera, "ini buat Tante Juwita."


Rara mengerutkan bibirnya, ikut tegang.


"Gara-gara Tante, anak Tante milih buru-buru nikah dan milih aku tanpa alasan jelas. Gara-gara Tante juga perasaan dia ke aku enggak bisa kayak yang aku mau. Demi Tante, Abimanyu jadi Abimanyu yang sekarang. Anak kesayangan Tante, sahabat kesayangan Tante, orang yang rela ngelakuin apa aja buat Tante."


"...."


"Dia bilang Tante enggak ada hubungannya sama sekali. Tapi Tante beneran ngerasa kayak gitu? Dari semua hal yang kami berdua alamin, Tante ngerasa suci dari semuanya? Kalau Tante emang enggak suka disalahin, aku cuma mau satu jawaban. Tante beneran ngerasa Tante enggak salah apa-apa di sini?"


Video berakhir.


Rara mendongak dari ponselnya pada Abimanyu yang berdiri tanpa ekspresi juga.


"Ini cara kamu marah karena saya enggak ngangkat telfon kamu?" tanya dia tanpa kesan marah walau juga tidak terlihat tenang. "Kamu langsung milih jadi pihak Sakura tanpa nunggu penjelasan apa-apa dari saya?"


"Ada harga buat kerugian." Rara mengantongi ponselnya. Kemudian lanjut berkata, "Kamu bikin saya rugi, apa pun alasan kamu jadi saya bales itu. Kamu juga bisa bales kalau kamu ngerasa rugi."


Rara harap dia tidak melihat Rara sebagai 'gadis manis polos' yang hanya bisa menunggu keajaiban datang.


*

__ADS_1


__ADS_2