
Zayn tergelak kecil mendengar perkataan gadis lemah di sana. Suaranya yang tenang dan parasnya yang bagai bidadari sangat tidak cocok dengan hawa keberadaan dia sekarang.
Sesuai harapan dari keturunan Mahesa Mahardika. Walau dia cuma keponakan.
"Cewek cacat belagu," cerca seseorang di sebelah Zayn. "Zayn, biar gue aja yang bunuh dia."
Zayn malah semakin tertawa. "Cacat cacat begitu, nyawa dia puluhan ribu." Pria itu berdiri di atas mobil. "Rin, kita mundur aja."
"Hah?! Bos bakal marah kalo kita malah kabur padahal keponakan Mahesa di depan mata! Jatuhin kita bom! Kenapa malah kabur?"
"Goblok. Lo kira jatuhin bom bikin itu cewek mati? Udah dibilang nyawa dia puluhan ribu."
Zayn memicing, memfokuskan matanya pada Abimanyu di sana.
Jadi begitukah? Seorang Rose mana mungkin jauh-jauh datang ke sini, apalagi mengumumkan keberadaannya cuma buat tidur. Sudah jelas orang itu yang membawa Rose demi melindungi keluarganya dan Rose menyetujui itu.
Berarti ....
"Nyuruh orang kayak dia nyelametin lo sama aja nukar nyawa ke iblis, tolol." Zayn yakin dia akan diperbudak seumur hidup oleh Rose.
Yang juga berarti Abimanyu akan selamanya bersama Rose sebagai budak.
Kalau selamanya Abimanyu bersama Rose berarti ... Zayn tidak perlu repot-repot lagi mencari kelemahan dia, kan? Kelemahan dia akan selalu sama.
Ibu tiri dan juga istrinya.
"Banyak waktu lain buat lemahin mereka." Zayn mengulurkan tangan pada Rin, menerima pengeras suara darinya juga. "Tes, tes."
Rose di sana memicing. Tampak tidak suka seseorang mau ikut bicara dengan suara sekeras dirinya.
"Rosella Margareth, Tuan Putri Cantik Dari Surga." Zayn tersenyum. "Saya mohon ampun. Kalau bisa tolong biarin saya mundur hidup-hidup."
Rose mendelik. "Bicara padaku sudah cukup membuatmu makin berdosa, Orang Rendahan."
"Saya cuma mau balikin sesuatu."
"Aku tidak ingat punya sesuatu yang dititipkan pada kalian."
"Bukan buat Tuan Putri." Zayn menyeringai. "Tapi buat istri penjaganya Tuan Putri."
Abimanyu mengerutkan kening.
"Ini titipan sekaligus wasiat dari Sakura buat madunya, Ranaya Syiham. Tuan Putri bilang Tuan Putri orang baik. Jadi seenggaknya wasiat orang mati harus disampaikan, iya kan?"
Zayn merogoh sesuatu dari sakunya dan seketika itu ratusan moncong senapan mengarah padanya, sebagai ancaman untuk tidak macam-macam.
Cuma orang gila dan orang yang memang mau mati berani macam-macam, makanya Zayn santai sebab ia tidak mau macam-macam.
Pria itu melempar sesuatu yang ia ambil dari sakunya, ditangkap persis oleh seseorang di sekitar Rose. Benda itu dipastikan tidak berbahaya dulu sebelum diberikan pada sang Tuan Putri.
__ADS_1
Rose hanya melihat sekilas sebelum gadis itu mengantonginya.
"Aku mengerti. Aku menghormati kematian, termasuk dari orang sialan seperti Sakura." Rose mengangkat dagunya. "Sekarang enyah dari sini."
Zayn mundur bersama semua bawahannya.
Bersamaan dengan itu Rose turun dari mobil, melangkah masuk ke kediaman Adji yang setengah hancur.
"Ayahnya Abimanyu," kata Rose saat melewati Adji. "Rumahmu mungkin akan hancur. Tulis saja tagihannya nanti."
Zayn memang mundur karena dia berasal dari organisasi yang tujuannya cuma untuk melenyapkan Rose. Tapi organisasi lain sebentar lagi akan datang jadi setidaknya Rose berjanji akan bertanggung jawab.
Sementara itu Abimanyu diam-diam curiga dengan benda di tangan Rose. Kenapa Rose mau menerimanya?
Walau tidak ada waktu unruk bertanya.
"Abirama, Olivia, masuk sama Rose."
"Enggak." Olivia langsung menjawab. "Abirama, kamu masuk sama Kak Rose. Buruan."
Olivia cukup kuat untuk tidak jadi beban Abimanyu di sini. Lagipula turun ke bawah pun tak bisa membuatnya tenang.
"Olivia." Namun Abimanyu tidak mau membiarkannya. "Turun sama mereka."
"Bi—"
"Ranaya bentar lagi pasti bakal naik." Abimanyu menghela napas. "Dia selalu nekat kayak gitu. Kalo dia ngerasa dia yang bikin semuanya kayak gini, Ranaya pasti bakal mikir harus tanggung jawab."
"Tolong ... jagain dia sebentar."
*
Lalu di sinilah mereka, dalam persembunyian bawah tanah kediaman Adji.
Entah sebuah keajaiban atau tidak, namun ketenangan aneh tercipta akibat Rose. Dia masuk begitu saja ke tempat persembunyian, duduk di sofa dan terus bernyanyi lembut.
Yang mengejutkan bahkan bagi Juwita, anak-anak kemudian mengelilingi Rose, mendengarkan dia bernyanyi sampai-sampai mereka abai pada tanah yang berguncang.
"Bu." Nayla mencengkram tangan Juwita karena tak lagi harus memeluk anak-anak.
"Mungkin ini yang namanya karisma kali yah?" Juwita meringis setengah tertawa. "Dia enggak pura-pura."
Anak-anak itu biasanya peka dan sensitif. Sejak tadi mereka berusaha ditenangkan, tapi mereka tidak tenang sebab Juwita, Nayla, Rara sama sekali tidak tenang. Berbeda dengan Rose yang benar-benar tenang tanpa kepalsuan apa pun.
Dia bernyanyi seolah-olah dia sedang duduk di padang rumput penuh bunga.
"Tapi kalau Rose di sini berarti Abi ...."
"Abimanyu di atas, Tante." Olivia melepaskan tangan Rara begitu masuk. Langsung mengunci pintu rapat-rapat.
__ADS_1
"Rara." Juwita langsung memeluk menantunya. "Kamu tuh. Enggak lucu kamu mau nekat begitu, Nak."
Rara menggigit bibirnya. Dia mau menangis kencang tapi keberadaan anak-anak membuatnya berusaha keras menahan. Jika mereka melihat Rara sebagai orang dewasa menangis, ketenangan mereka bisa saja teralihkan jadi panik lagi.
"Ada apa? Kamu kenapa?"
"Orang tuanya mati, jadi korban juga." Olivia menjawabnya tanpa perasaan. "Biarin aja, Tante. Sesekali dia perlu ngeliat risiko dari keputusan keras kepala."
"Olivia—"
"Tolong jangan minta aku buat belain dia terus kayak Tante. Emangnya Abimanyu tuh lahir buat bahagiain dia terus? Dia selalu ngerasa Abimanyu bikin dia menderita, tapi pernah enggak sih dia ngertiin perasaan Abimanyu? Pernah enggak sih dia mikir keegoisan dia juga bikin Abimanyu menderita?"
"...."
"Waktu itu, waktu kalian berantem, Ra, Abimanyu bilang kan? Ujung-ujungnya lo pasti bakal nyalahin dia. Gimana? Sekarang udah ngerasain? Semuanya salah Abimanyu makanya nyokap bokap lo jadi korban. Itu aja terus di hidup lo. Dasar mental korban."
"Olivia!"
"TERUS AKU HARUS GIMANA, TANTE?!"
Batas kesabaran Olivia nampaknya juga sudah habis.
"Aku tau berat buat dia ditinggalin! Aku juga tau! Tapi pernah enggak sih dia mikir berat buat Abimanyu kalo dia selalu minta Abimanyu pulang?! Dia kesepian suaminya enggak ada, FINE! EMANG! Tapi Abimanyu di sana happy-happy? ENGGAK! Buat bawa Rose ke sini, BUAT JAGAIN KALIAN, Abimanyu mesti ngorbanin sisa hidupnya jadi anjingnya Rose! Mau keluar dari organisasi pun mustahil! Enggak ada resign buat orang yang tau banyak rahasia negara! Pilihannya dia mati atau dia kerja! Tapi perempuan yang ngeeasa pantes sama Abimanyu ini cuma tau nuntut Abimanyu pulang padahal Abimanyu nahan kakinya buat pulang biar dia enggak kenapa-napa!"
Juwita menggigit bibirnya keras. Baru kali ini ia melihat Olivia sangat marah sampai-sampai dia membentak Juwita. Namun Juwita tidak bisa memarahinya balik atau berkata dia kurang ajar.
Olivia juga lelah.
"Harus selalu dia gitu yang dingertiin? Dia yang nangis makanya dia yang menderita?! Bullshit! Abimanyu sama sakitnya!"
Olivia bahkan sudah tidak peduli pada sekitaran. Menyambar kerah pakaian Rara hingga Rose yang bernyanyi pun berhenti di sana.
"JANGAN CUMA TAU MINTA ABIMANYU TANGGUNG JAWAB! SESEKALI TANGGUNG SENDIRI PENDERITAAN LO ITU! KALO BUKAN KARENA ABIMANYU YANG MINTA, GUE LEMPAR LO SEKARANG JUGA KELUAR BIAR SEENGGAKNYA LO ENGGAK IDUP LAGI, RARA!"
"Hentikan." Bukan Juwita yang turun tangan lagi melainkan Rose. Gadis itu cuma berucap satu kata kecil, tapi Olivia mundur dan melepaskan Rara.
"Dasar kekanakan." Rose mendengkus. "Apa hidup kalian hanya tentang meminta seseorang mengerti atau tidak? Kalau begitu mengerti juga dengan perasaanku. Akan kuberi semua kekayaan Paman kalau bisa."
Semua orang di sana hanya bisa diam dan Rose berdecak.
"Yang harus mengerti tentang dirimu itu hanya dirimu sendiri."
Rose menyerahkan benda titipan di tangannya pada Rara.
"Ambil ini dan berhenti menangis. Tangisan tidak mengakhiri perang."
*
pertanyaan sekali lagi nih : masih adakah yang pengen Olivia dan Rara bestian???
__ADS_1
author sih emang dari awal enggak punya rencana demikian 😋 Olivia dulu belain Rara karena Rara ada di posisi pantes buat dibelain (menurut standarnya Olivia). sekarang udah enggak.