
"Faksi Anti-Mahardika, kah?" Hara alias Zero alias atasan Abimanyu di Aliansi tampaknya tidak terkejut dengan laporan Abimanyu beberapa jam kemudian. "Kerja bagus. Walaupun cara lo agak kurang gue apresiasi tapi intinya sekarang udah ada petunjuk musuh kita siapa."
"Thank you, Bos." Abimanyu mengangguk.
"Istri lo enggak kenapa-napa?"
"Dia sehat."
"Ini kompensasi buat yang dia alamin karena masalah Aliansi." Hara mengulurkan selembar cek yang tampak sudah ditandatangani langsung oleh Hara.
Abimanyu menerimanya tanpa banyak protes karena memang Rara layak mendapat kompensasi.
Lepas melaporkan pada atasan, Abimanyu langsung pergi menuju kediamannya. Tempat di mana Rara sedang menunggunya bersama Olivia ... dan juga Caca.
"Bahkan kalau kejadian tadi bukan bagian rencana, kamu harusnya punya akal buat mikirin situasinya, kan?" Abimanyu menatap tajam istrinya. "Dan walaupun kamu mikirin, bisa-bisanya kamu pulang luka begini, LAGI?"
Rara menunjuk Caca. "Dia yang bikin."
Pandangan Abimanyu tak berpaling darinya. "Sengaja kamu bikin biar aku marah sama dia, kan?"
Rara malah mengangkat bahu dan tanpa dosa berkata, "Dia nyuri tas aku, marah tanpa alasan karena aku terkenal pake cara aku sendiri, terus sekarang dia bayar organisasi kriminal buat bales dendam dan dua kali main fisik. Masa harus dibiarin gitu aja?"
Tapi karena Rara tidak tahu cara membalas langsung jadi ia membalasnya lewat cara lain. Tidak ada bedanya kan Rara menjambak dia juga atau Rara membuat Abimanyu mau menjambak dia?
Intinya sama-sama dibalas biar dia tahu diri.
"Entah kenapa Tuhan ngasih kamu muka polos, Ranaya." Abimanyu menghela napas.
Namun hal selanjutnya yang dia lakukan adalah menarik Rara ke pelukannya, mendekap dia dengan segenap perasaan yang tersalurkan.
"Jangan kira aku enggak khawatir," bisik Abimanyu. "Kayaknya aku enggak bisa lagi ngandelin kamu. Kamu itu terlalu nekat."
"Eh?" Rara jelas tertegun. "Maksudnya kamu enggak mau ngelibatin aku lagi?"
Bukankah mereka menikah karena Abimanyu butuh bantuan Rara? Kalau mereka berhenti saling menolong lalu kegunaan Rara sebagai istrinya apa? Apalagi setelah kejadian tadi. Ini jelas sudah masuk ke perpecahan yang lebih besar dan Abimanyu malah berkata sudah?
"Bi, aku masih bisa bantuin kamu. Aku bisa lakuin apa aja buat bantuin kamu. Kalo cuma soal luka kecil begini aku enggak—"
"Jangan." Abimanyu memejamkan mata dan semakin memeluknya. "Jangan luka lagi."
Setelah kejadian ini Abimanyu menyadari bahwa ia tak bisa melihat Rara terluka. Sejak tadi Abimanyu bertingkah seolah ia percaya Rara baik-baik saja dan memang dia baik-baik saja. Tapi Abimanyu juga merasa takut.
Ia takut Rara sungguhan akan terluka lalu janji Abimanyu pada Juwita akan rusak lagi.
__ADS_1
"Ini udah masuk masalah negara. Mereka kelompok politik yang enggak seneng sama kebijakan Mahardika puluhan tahun terakhir. Kamu udah enggak perlu ikut campur."
Abimanyu melepas pelukannya, tersenyum pada wanita itu.
"Mending sekarang kamu fokus sama karier kamu. Besok-besok aku ajarin bisnis."
Rara mengangguk patuh. "Maaf."
"Aku yang harusnya minta maaf." Abimanyu mengusap puncak kepalanya lembut.
Tapi persis setelah berpaling pada Caca, ekspresi Abimanyu langsung berubah dingin.
"Sekarang gimana kalau kita diskusi ganti rugi kamu nyakitin istri saya?"
Caca bergetar panik. "K-kalo kamu berani nyakitin saya, orang tua saya enggak mungkin diem aja!" gertaknya.
"Hah!" Abimanyu menghela napas seketika. "Emang orang bodoh," gumamnya persis seperti Rara tadi.
Pria itu berpaling pada Olivia, menyerahkan sebuah flashdisk padanya.
"Laporin kasusnya ke polisi."
Olivia mengerutkan kening. "Keluarganya dia kan kebal hukum. Yah, duitnya banyak buat beli hukum sih, lebih tepatnya."
Wajah Caca pucat sedangkan Olivia langsung mengerti.
Kalau kasus ini membawa-bawa nama Pak Menteri, sepertinya keluarga Caca pun akan sulit untuk membeli 'hukum' itu sendiri.
*
"Kamu enggak ada luka lain, kan?" tanya Abimanyu setelah mereka naik ke kamar untuk beristirahat. Dia menyuruh Rara untuk melepas pakaiannya, untuk benar-benar memastikan tidak ada cidera sama sekali.
"Mahen nampar aku tadi, sekali." Rara memegang rahangnya yang sudah tidak sakit tapi masih ia ingat sensasi tamparan Mahen. "Dia juga kamu laporin ke polisi?"
"Nah, dia itu tero-ris. ******* itu urusan tentara bukan polisi." Abimanyu mengusap-usap lembut wajah Rara. "Aku janji bakal bales apa pun yang dia lakuin ke kamu jadi jangan takut."
Rara menggeleng. "Aku enggak takut."
Semua yang mereka lakukan ke Rara akan Rara kembalikan pada mereka lagi jadi ia tidak takut.
"Soal Kisa—"
Abimanyu menggeleng, menghentikan Rara bicara sebagai isyarat kalau ia sudah tahu apa yang mau Rara bicarakan. Juga Abimanyu tidak mau membicarakan itu sekarang.
__ADS_1
Ia tahu persoalan dengan Kisa akan memanjang. Perempuan itu sepertinya mengincar sesuatu dari mendekati Abimanyu. Tapi Abimanyu tidak akan membahasnya sebelum Kisa melakukan sesuatu.
Apalagi Rara secara mental juga pasti lelah dengan persoalan yang Abimanyu libatkan untuknya.
"Ranaya." Abimanyu menggenggam tangan wanita itu, menciumnya lembut. "Aku mau fokus kerja dulu sebulan. Ngurus semuanya dulu. Kamu nginep sama Juwita, yah?"
"Bukan sama Mama?"
"Sama Juwita, atau lebih tepatnya di bawah pengawasan Papa, Banyu sama Cetta lebih aman. Nanti aku minta Juwita izin ke Mama."
Rara tersenyum kecil. Mengusap-usap puncak kepala Abimanyu seperti yang selalu dia lakukan pada Rara.
"Hati-hati yah," bisiknya. "Aku doain semuanya baik-baik aja."
Abimanyu sekali lagi mencium tangannya. "Habis itu aku mau ngajak kamu ngomong sesuatu, soal kita."
Jantung Rara berdebar cepat mendengar kalimat Abimanyu. Dari suasana ini, entah kenapa ia bisa menebak apa namun Rara takut terlalu berharap.
"Sebulan kamu enggak bakal nelfon?"
"Ya. Sebulan kita putus kontak dulu." Abimanyu menyerahkan ponselnya. "Pegang aja. Kalo ada telfon urusan kerjaan, kamu bikin janji nanti buat bulan depan."
Rara jadi cemas. Sekarang ia tahu Abimanyu berurusan dengan sesuatu yang berbahaya seperti tero-ris, narkoba, dan hal-hal sejenis itu. Kalau sampai dia bahkan tidak mau memegang ponselnya sebulan berarti ... itu cukup serius kan?
"Enggak usah khawatir." Abimanyu mengetuk ujung hidungnya. "Aku bakal pulang minta jatah."
"Bi, aku tuh serius—"
"Ini lebih serius." Abimanyu beranjak, membuka pakaiannya. "Buruan. Buka kaki."
Rara batal khawatir. Merampas bantal untuk memukuli pria mesum yang cuma tahu minta jatah itu.
Abimanyu tergelak geli. Menahan pukulan Rara sekaligus mendorongnya berbaring.
"Aw!" Rara terkejut oleh rasa sakit di kepalanya.
"Kenapa?" Abimanyu meraba di sela-sela rambutnya dan menemukan benjolan yang membuat Rara kembali terpekik. "Sakit, yah? Atau kamu aja di atas?"
Rara menggeleng. Melingkarkan lengannya di leher Abimanyu untuk menarik dia ke dadanya.
"Lebih suka kamu di atas," gumamnya di puncak kepala pria itu.
Berusaha abai ketika Abimanyu terkekeh kecil.
__ADS_1
*