
Punya suami yang punya banyak adik kecil ternyata enak juga, terutama di situasi baru punya anak begini. Untuk anak Rara yang bisa dibilang baperan, cuma mau digendong Mama atau Papa-nya, keberadaan Abimanyu sangat amat menolong. Baru kali ini Rara merasakan tidur pulas karena semua hal diurus oleh Abimanyu. Dia tidak perlu diajari ganti popok, tidak perlu diajari menenangkan anak, juga sudah langsung mengambil susu tanpa membangunkan Rara.
Dia sudah sangat terbiasa melakukan segalanya.
"Kamu terlihat aneh dengan benda itu," komentar Rose saat Abimanyu pergi menjemur anaknya di dekat kolam renang pribadi Rose.
Tentu saja benda yang Rose maksudkan adalah Nabila.
"Kudengar dia sakit, lalu kenapa kamu menjemur dia tanpa baju di sini?"
"Demamnya udah turun."
"Bayi tidak jelas."
Abimanyu mendengkus. "Kamu enggak ada bedanya."
Apa yang mencegah Rose pantas disebut bayi? Sepertinya dia lupa sudah berapa ratus kali Abimanyu menggendong dia karena tidak sanggup jalan.
"Terserah omonganmu," balas Rose seraya berbalik. "Kalau sudah selesai cepat berganti baju dan kerjakan tugasmu. Aku tidak menyuruh keluargamu datang bertamasya."
Abimanyu terlalu sibuk menatap wajah anaknya buat membalas Rose. Pria itu mencium pipi Nabila, tertawa kecil saat tangan anak itu seperti mau memegang hidungnya.
__ADS_1
"Sehat-sehat yah, anak Papa."
Rara datang mendorong kereta bayi setelah dia tampak selesai mandi.
"Bi, udah lima belas menit. Pakein baju dulu."
Anak itu akhirnya dipindahkan ke pelukan Rara, setelah sekian lama.
"Uhmmm, bau Papa udah kamu. Padahal anak Mama juga." Rara tersenyum kecil merasakan gerakan tangan Nabila, tidak seperti kemarin dia lemas dan dipenuhi tangisan.
"Kita pake baju terus temenin Mama sarapan, yah? Papa sarapan juga enggak? Ajak Papa juga, Nak."
Makan siangnya Abimanyu tidak datang. Rara menunggu dia tapi sayangnya pelayan istana bilang Abimanyu masih di ruang rapat, menyertai pertemuan Rose dengan tamu dari luar.
Rara putuskan tidak menunggu lagi, karena nanti malam Abimanyu juga pasti datang. Sekitar jam setengah sepuluh malam, Nabila terbangun minum susu dan kembali tidur lagi. Rara merapikan lemari baju Abimanyu ketika pintu kamarnya dibuka tanpa diketuk, Abimanyu masuk sembari dia melepaskan jasnya.
"Bila udah tidur, Sayang?"
Rara bergegas datang, menerima jas itu sekaligus lanjut melucuti kancing kemejanya.
"Barusan bangun minum susu, habis itu tidur lagi."
__ADS_1
Abimanyu tersenyum kecil. "Kenapa enggak tidur?"
Senyum yang Rara balas penuh arti. "Emang mau aku tidur?"
Kayaknya semua pasutri baru punya anak bakal merasakan dampak keberadaan anak itu mengurangi aktivitas intim mereka berdua. Rara benar-benar merasakan. Biasanya Abimanyu pulang dan minta jatah, sekarang dia pulang buat melihat anaknya, lalu harus pergi lagi karena waktunya habis.
"Emang pengertian istriku ini." Abimanyu cengengesan macam anak kecil.
"Pengertian doang? Enggak cantik?"
"Cantiklah. Bukan istri Abimanyu kalo enggak cantik." Abimanyu mengusap-usap pinggang Rara. "Mau langsung gas tapi mandi dulu, yah?"
"Mau dimandiin?" Rara mengerling nakal sambil tangannya mulai aktif mengusap-usap dada Abimanyu.
"Boleh." Abimanyu menangkap tangan istrinya itu, menunduk ke telinganya. "Tapi siap-siap lemes yah, nanti keluar."
Tanpa menunggu jawaban Rara, Abimanyu menggendong wanita itu ke kamar mandi. Rara hampir saja menjerit, kalau tidak buru-buru sadar anaknya baru tidur, karena Abimanyu bukan menggendong penuh keromantisan. Pria itu meletakkan badan Rara di bahunya, diangkat seakan dia lagi mengangkat karung beras.
Waktu Rara protes, Abimanyu cuma tertawa usil.
*
__ADS_1