Abimanyu : Pelakor Sewaan

Abimanyu : Pelakor Sewaan
85. Andai Dulu Bercerai


__ADS_3

"London bridge is falling down, falling down, falling down. London bridge is falling down, my fair lady."


Suara merdu Rose memenuhi ruang bawah tanah tempat dia bersembunyi. Namun berbeda dari kemarin, hari ini Rose terpaksa harus membiarkan Abirama ikut duduk di karpetnya, bermain-main sambil mengoceh tidak jelas.


Karena itulah Rose bernyanyi, sebab Rose tidak suka suara anak kecil.


Mungkin juga untuk menghibur dirinya sendiri. Menyanyikan lagu tidur yang saat ia masih kecil sering dinyanyikan ibunya sewaktu mereka masih bisa bersama.


"Kak Roce cuaranya bagus," kata Abirama setelah sekian lama mendengar Rose bersenandung. "Kakak, nyanyi lagu Twinkle juga!"


Rose langsung berhenti bersenandung, menatap Abirama tidak senang. "Aku tidak tahu kamu bicara apa tapi jangan bicara padaku, Bocah Bodoh."


Karena Rose hanya bicara dengan bahasa Inggris formal, aksen British yang kental pula, Abirama mana paham. Anak itu memiringkan wajahnya bingung, sebelum tiba-tiba tangan Abimanyu mendarat di puncak kepalanya.


Pria itu mengusap-usap kepala Abirama.


"Twinkle Twinkle susah dinyanyiin, nanti Rose asma kalo nyanyi yang susah."


Tentu saja itu bohong. Abimanyu cuma mau menghibur anaknya karena percuma juga dia bicara pada manusia macam Rose.


Rose cuma memicing melihat Abimanyu bicara pada anaknya dengan bahasa yang dia tidak mengerti. Perempuan itu mendengkus, kembali bersenandung.


Tapi senandungnya sekali lagi dipangkas, kali ini oleh suara langkah kaki cepat.


"Abimanyu!" Olivia berlari tergesa-gesa, membawa sebuah map yang terlihat kusut.


"Kenapa?" Abimanyu langsung waspada. Jangan bilang tempat ini disergap juga?


"Gue enggak tau lo mau tau apa enggak, tapi gue bawain." Olivia menyerahkan map di tangannya.


Abimanyu langsung membuka map itu dan belum membacanya, baru sekilas ia melihat foto seseorang di sana, Abimanyu menahan napas.


"Dian ...."


"Hm." Olivia mengangguk. "Berita soal lo sama Dian udah enggak bareng pastinya sampe ke tangan Faksi Anti-Mahardika juga, tapi mereka tetep ke sana. Yah, mungkin bisa dibilang berita baik karena paling enggak dia cuma ditembak mati, enggak sampe dimutilasi."


Abimanyu mengetatkan rahangnya, mau tak mau berpaling pada Abirama. Anak itu, jika besar nanti dia mungkin akan menyalahkan Abimanyu atas kematian ibunya.


"Soal keluarga gue, enggak ada apa-apa kan?"


Abimanyu menempatkan orang sebisanya dan Banyu juga pasti berusaha menjaga mereka, tapi kalau-kalau terjadi sesuatu, Abimanyu tetap takut.


"Kelompok khusus digerakin ke rumah lo buat nyari Rara sama Juwita, tapi anak-anak sejauh ini masih berhasil jagain mereka."


"Tunjukan padaku." Rose tahu-tahu sudah berdiri di sebelah Abimanyu, merampas map itu untuk melihat isinya. "Demi Tuhan, kamu berlari ke sini cuma untuk membawa berita sampah begini?"


Abimanyu menoleh padanya. "Diliat dari pergerakan musuh, mereka tau pasti sekarang kita lagi lemah-lemahnya. Kalau dibiarin gini terus, enggak lama lagi satu dunia bakal nganggep organisasi kita udah hancur total."

__ADS_1


"Tidak berguna." Rose membuang map itu dan menatapnya penuh kebencian.


Tentu saja kebenciannya tidak ditujukan pada map berisi informasi kematian Dian, namun pada situasi yang Abimanyu bicarakan.


Gadis itu menarik napas. Wajahnya terlihat pucat lagi, membuat Abimanyu takut dia kembali sakit di situasi yang sudah terlalu kacau ini.


Akan tetapi ....


"Cih, apa boleh buat. Aku ini orang sakit tapi kalian yang sehat bugar tidak berguna." Rose berbalik. "Buka meja strategi. Bagaimanapun caranya keributan harus berhenti besok lusa."


Abimanyu dan Olivia terkejut. Mereka pikir Rose akan butuh waktu cukup lama pulih. Dia terpukul atas kematian paman kesayangannya dan ditambah dengan kematian kejam ibunya.


Tapi mungkin karena itulah dia dipilih sebagai pewaris Mahesa.


Kalau Rose benar-benar bisa menghentikan keributan ... Rara dan Juwita pasti akan baik-baik saja.


*


"KYAAA!"


Suara teriakan histeris di ruang persembunyian itu kembali terdengar setelah ledakan besar terjadi di permukaan. Juwita, Rara dan Nayla berusaha memeluk anak-anak yang sudah menangis ketakutan.


Bibir mereka tak berhenti menggumamkan doa berharap keributan cepat berhenti, namun malam terasa begitu panjang dan seolah tak memiliki akhir.


Rara tak tahu lagi bagaimana kondisi di luar sana, tapi kalau sampai terdengar ledakan sebesar ini, sampai-sampai tanah berguncang, berarti dunia sedang tidak baik-baik saja.


Tangisan di tempat itu makin keras. Rara menggigil semakin hebat, takut luar biasa jika orang-orang yang disebutkan Juwita tadi datang lalu menemukan mereka.


Tidak. Rara tidak mau sampai sesuatu terjadi pada keluarganya.


Ia tidak akan membiarkannya.


"Nayla, Lila, Nia." Rara menyerahkan Milo dan Boba yang dari tadi memeluknya kencang. "Kalian pegang adek-adek. Aku mau keluar sebentar."


"Apa?!"


"Rara!" Juwita sudah tidak bisa menangani kepanikannya. Terlihat jelas bahwa dia sebenarnya takut dan khawatir, pada apa yang Rara sedang pikirkan. "Jangan macem-macem! Ada Papa di atas!"


"Enggak bisa, Bu. Mereka begini karena aku kan? Karena aku istrinya Abi." Rara berlari ke pintu, berusaha keras menariknya agar terbuka. "Kalo aku ke sana, Ibu sama yang lain enggak bakal kenapa-napa."


"Rara!"


Juwita terlalu sibuk mendekap anak-anak hingga tak bisa menghentikan Rara. Walau hanya bermodal nekat dan ketakutan yang ditahan, Rara membawa kakinya pergi.


Sekarang ia mengerti kenapa Abimanyu terus berkata bahwa dia harus melindungi Rara. Jika sekarang Rara di sisi Abimanyu, mungkin sesuatu yang lebih buruk bisa terjadi.


Tapi ... tapi Rara juga tidak bisa membiarkan Juwita, apalagi adik-adiknya mengalami teror semacam ini. Kalau Rara pergi ke sana maka semua—

__ADS_1


"London bridge is falling down, falling down, falling down. London bridge is falling down. My fair lady."


Rara terhenti begitu saja. Telinganya menangkap suara langkah kaki tenang, lalu nyanyian lembut yang entah kenapa memberi sedikit ketenangan meskipun suara-suara menakutkan di atas masih terdengar.


Tap.


Tap.


Tap.


Langkah kaki itu terus terdengar sampai akhirnya sosok Rose muncul bersama Olivia dan Abirama.


"Kalian—"


"Build it up with iron bars, iron bars, iron bars. Build it up with iron bars, my fair lady."


Rose terus bersenandung bahkan sampai dia melewati Rara.


"Iron bars will bend and break, bend and break, bend and break. Iron bars will bend and break, my fair lady."


Olivia yang berhenti di depan Rara, menatapnya dengan ekspresi datar.


"Lo mau ke mana?"


".... Ke atas." Rara menjawab yakin walau sejujurnya ia tidak. "Gue enggak bisa cuma di sini nungguin mereka masuk—"


"Terus, kalo lo di atas, lo mau apa? Mau bilang 'gue istrinya Abimanyu, yang kalian cariin, kalo mau nyiksa mending gue aja'. Gitu? Lo kira idup bisa sesederhana itu?"


Rara tertegun.


"Rara, gue pernah suka sama lo tapi ... lo sama aja kayak Sakura yah. Sama-sama goblok."


Olivia menyambar lengan Rara, menyeretnya paksa untuk ikut masuk kembali.


"Sini, rasain baik-baik gimana risikonya lo maksa di hidup Abimanyu. Udah bagus dia mau ngelepasin lo. Udah bagus dia mau bebasin lo, tapi lo pake cinta buat bertahan. Sekarang sini, rasain, dengerin, liat semuanya."


"...."


"Dan mungkin ada baiknya lo sekarang mikir : andai dulu lo tanda tangan surat cerai."


Olivia sempat berhenti walau tanah berguncang hebat seolah-olah gempa bumi terjadi. Perempuan itu menoleh, kembali menatap Rara.


"Kalo lo belum nyesel, biar gue kasih tau sesuatu." Olivia mendekat untuk berbisik, "Bokap nyokap lo ... udah enggak ada."


Suara ledakan besar tiba-tiba terdengar, mengguncang hati siapa pun saat itu, namun Rose di sana terus bersenandung mengiringi kekacauan ini dan mengisi keheningan mendadak di kepala Rara.


*

__ADS_1


__ADS_2