
Hari ke tiga puluh satu.
Akhirnya Rara bisa berhenti menandai tanggal dan bisa pergi pada Papa Mertua-nya untuk bertanya mengenai Abimanyu.
"Gimana, Pa?" tanya Rara sedikit tak sabaran. "Abimanyu udah bisa pulang, kan? Suami aku enggak kenapa-napa, kan?"
Juwita juga berharap ada kabar baik. Wanita itu meremas bahu Rara di sisinya, menatap Adji penuh harapan.
Tatapan mereka membuat Adji merasa berat.
"Dari lima belas eksekutif Aliansi, tiga meninggal."
Juwita dan Rara menahan napas.
"Samuel, Salim, Rohan."
Ekspresi Rara dan Juwita sedikit lebih baik, walau tentu mereka bersedih.
"Ada banyak yang luka termasuk Abimanyu tapi secara keseluruhan Abimanyu baik-baik aja."
Rara akhirnya bisa mengembuskan napas lega. Syukurlah.
"Cuma ...."
Juwita langsung menyadari ada kabar yang kurang mengenakkan. Adji tidak mungkin ragu-ragu mengucapkan sesuatu yanh baik jadi jelas itu bukan hal baik.
"Mas?" Juwita melepaskan Rara, datang menyentuh dada Adji. Debaran jantung suaminya yang meningkat itu sudah menjelaskan. "Bocah kenapa, Mas?"
"Ada kecelakaan yang bikin sarafnya terganggu."
Rara menutup mulutnya dengan tangan.
"Dia," Adji menatap muram pada menantunya, "cuma inget sama Sakura."
Rara terhuyung mundur. Tubuhnya terlalu lemas sampai Rara tak bisa mengendalikan tubuhnya, jatuh terduduk di lantai.
"Rara!" Cetta langsung berlutut memegang kakak iparnya, sedangkan Banyu kini menatap Adji.
"Jadi Abang lupa ingatan?"
Adji menggeleng. "Itu perang singkat, cuma semalam tapi intens. Secara psikologis itu pasti nyiksa siapa pun, mati di depan mata. Ditambah suara-suara tembakan, bom, dan apa pun lagi di sana yang cuma Tuhan yang tau. Abimanyu bukan lupa ingatan tapi ingatannya lagi kacau balau. Olivia bilang dari konfirmasi Dokter, pelan-pelan ingatannya bakal pulih sendiri. Tapi ...."
"Tapi apa, Pa?"
"Waktu pastinya kita enggak tau."
__ADS_1
Juwita menoleh pada menantunya. "Rara—"
"Aku enggak pa-pa." Rara yang tadi jelas-jelas jatuh akibat terkejut kini berusaha bangun dibantu oleh Cetta. "Aku enggak pa-pa, Tante."
Tentu saja itu bohong. Tapi memang kalau Rara menangis, semua akan baik-baik saja? Apalagi Rara sudah diberitahu untuk apa Abimanyu pergi melakukan semuanya.
Dia bekerja sama dengan militer negara untuk menghapus organisasi berbahaya. Kalau dia tidak pergi ke sana, merelakan dirinya terluka, negara ini akan dipenuhi narkoba, anak-anak yang diperjual-belikan, tentu saja juga wanita, dan kerusakan yang mengerikan untuk dipikirkan.
"Abimanyu baik-baik aja." Rara tersenyum. "Itu sekarang yang penting, kan? Lagian aku tau dia enggak selemah itu."
Dia pasti akan cepat pulih.
"Ya." Juwita mengangguk. "Makin rumit hidup kita berarti makin kita berkualitas. Abimanyu enggak kenapa-napa."
"Terus sekarang Abang di mana?" Cetta bertanya pada Adji.
"Abimanyu di apartemen perempuan yang namanya Kisa."
Rara berusaha menelan semua rasa ngilunya dan mengangguk saja. "Aku udah boleh ke sana, Pa?"
"Buat sekarang masih bahaya, Rara."
"Biar aku temenin." Banyu tiba-tiba menyahut. "Kalo aku yang temenin at least bakal aman, kan?"
*
"Cuma mau ngeliat," jawab Banyu datar.
"Ngeliat?"
"Hidup orang yang menurut gue paling enak tapi enggak pernah tau diri." Banyu tidak lagi menyembunyikan kebenciannya. "Lo sayang sama dia, Juwita sayang sama dia, even Sakura rela gila buat dia. Gue penasaran ngeliat orang kayak gitu beneran pantes dapet kasih sayang?"
Rara hanya menatap ke depan setelah itu. Berkat jawaban barusan sekarang Rara mengerti kenapa Banyu masih tidak menikah padahal adiknya sudah bertunangan. Tapi sekarang itu bukan hal yang perlu ia pikirkan.
Mereka turun di parkiran bawah tanah, lalu naik menuju kamar tempat Abimanyu dan Kisa berada. Sejujurnya Rara sedang takut Abimanyu sekarang sedang asik bermesraan dengan Kisa.
Ragu-ragu tangan Rara memencet bel dan pintu pun terbuka.
Tatapan Rara langsung bersinggungan dengan tatapan tajam Abimanyu. Detik mereka bertatapan Rara sudah menyadari bahwa dia memang bukan suami yang ia kenali. Abimanyu yang ia tahu memiliki sorot mata lembut terutama pada Rara.
"Bang."
Tatapan Abimanyu berpaling pada Banyu. "Lo ngapain di sini?" tanya dia seolah malas. "Juwita nyuruh lo dateng marahin gue lagi? Kalo iya mending lo balik. Gue lagi capek."
Banyu yang mendengar itu pun mengerutkan kening. Terakhir kali ia datang memarahi Abimanyu demi Juwita itu sebelum Abimanyu menikah. Atau lebih tepatnya lagi sebelum Abimanyu mengakui perasaan kotornya pada Juwita. Saat di mana dia meniduri banyak gadis sebagai bentuk pelampiasan.
__ADS_1
"Enggak." Banyu menatap Rara tiba-tiba. "Juwita nyuruh gue bawain lo pembantu baru."
Rara tersentak. Tapi sesaat kemudian wanita itu paham alasan pembantu dari mama tiri yang dicintainya pasti tidak mungkin ditolak oleh Abimanyu.
"Pembantu? Juwita?" Abimanyu kembali menatap Rara.
Tanpa siapa pun sadari Abimanyu merasakan sesuatu yang tidak asing dari wanita ini. Rasanya seperti dia dan Abimanyu sudah saling mengenal dari dulu. Tapi Abimanyu tidak familier dengan wajahnya.
Atau dia salah satu gadis yang pernah Abimanyu tiduri?
Tidak. Dia tidak terlihat seperti itu.
"Nama?" tanya Abimanyu pelan. Sedikit lebih pelan dan halus dari yang Abimanyu hendaki.
"Ra—" Rara ingin menjawab Ranaya karena ia mau Abimanyu tetap memanggilnya demikian. Tapi muncul keegoisan dalam diri Raea.
Dia harus ingat sendiri.
"Rara." Wanita itu tersenyum. "Nama saya Rara, Pak."
Abimanyu tertegun mendapati cara wanita ini tersenyum. Debaran jantung yang cuma Abimanyu rasakan pada Juwita kenapa bisa ia rasakan dari senyum wanita ini?
"Rara," gumam Abimanyu bingung. Tapi sakit kepala membuatnya tak bisa banyak berpikir. Dia berpaling pada Banyu untuk berkata, "Anterin dia ke rumah gue."
Lalu pintu ditutup, meninggalkan Rara dan Banyu berdiri memandanginya.
Banyu lantas berpaling pada kakak iparnya. "Abimanyu waktu kayak gitu belom punya rumah."
Itu berarti dia memang tidak hilang ingatan namun terjadi kekacauan di kepalanya.
Rara meminta dirinya sendiri untuk bersyukur karena Abimanyu masih terlihat waras dan baik-baik saja. Paling tidak dia tidak trauma seperti takut bertemu seseorang atau berhalusinasi mendengar suara tembakan. Kondisi dia sekarang sudah paling terbaik.
"Kamu tau, Banyu?" Rara tersenyum menpuk punggung adik iparnya. "Ketemu sama abang kamu ngajarin aku kalau dalam hubungan kita harus seimbang."
"Hah?"
"Di zaman yang katanya tanpa perang ini, suami aku ternyata diem-diem masuk ke medan perang sempit yang kalo dia mati namanya juga enggak bakal dicatat di sejarah. Kalo dia mati, enggak ada yang bakal tau dia mati kenapa. Bahkan kalau dia menang, enggak ada juga yang bakal teriak bilang dia pahlawan. Tapi Abimanyu tetep pergi demi tugasnya."
Rara menyengir lebar. "Masa istrinya malah lembek cuma karena gini doang? Enggak seimbang dong."
Benar. Kalau Abimanyu berjuang, Rara juga harus berjuang.
Kalau tidak Rara berarti tidak bisa bersanding dengannya.
*
__ADS_1
yak, Rara ternyata tidak goyah, saudara-saudara. kira-kira sikap Abimanyu harus gimana ke Rara, yah? 🤔