Abimanyu : Pelakor Sewaan

Abimanyu : Pelakor Sewaan
8. Saya Minta Maaf


__ADS_3

Setelah dia bercerita begitu, sulit juga untuk berkata dia salah. Rara tidak menyangka kalau cerita di baliknya seperti itu. Pikir Rara, Abimanyu sudah bosan bersama Sakura hingga ingin berpisah.


Tapi kalau dipikir ulang, buat apa dia melakukan semua ini kalau cuma mau cerai? Dia bisa tinggal cerai saja karena Abimanyu bukanlah publik figur yang kehidupannya dikepoi banyak orang hingga perlu banyak alasan biar tidak dihujat dalam setiap tindakannya.


"Kalo gitu saya ngerti," gumam Rara. "Intinya saya cuma diem nungguin arus berubah, kan?"


"Ya. Kamu cukup jadi pelakor yang jadi tempat pelarian saya karena istri saya gila."


Masih terasa agak jahat tapi setelah mendengar cerita Abimanyu, Rara mau tak mau juga berpikir berbeda. Intinya berbuat ya bertanggung jawab, kan? Kalau Sakura menjahati orang, dia juga harus siap dijahati balik.


Walaupun ini juga dihitung jahatin orang, pikir Rara diam-diam.


"Kalo gitu saya tutup. Mama saya ngelarang saya berhubungan sama kamu sekarang."


"Itu enggak bisa."


Eh?


"Maksud kamu?" Rara yang tengah berbaring seketika duduk. "Orang tua saya khawatir. Mereka ngelarang saya keluar-keluar dulu. Bahkan kalau kamu bayar saya semiliar, saya tetep enggak mau kalo itu bikin orang tua saya panik."


"Kalo kamu ngumpet, terus gimana caranya kamu terkenal?"


"Go publik sekarang justru ngasih kesan saya pelakor enggak tau diri, kan?"


"Saya enggak bilang go publik," kata Abimanyu santai. "Saya bilang enggak bisa kalau kamu enggak berhubungan sama saya."


Rara mengerutkan kening. Pria bernama Abimanyu ini punya otak yang benar-benar sulit dipahami sejak awal mereka bertemu. Kadang-kadang dia punya rencana yang terkesan bertele-tele dan rumit, tapi Rara melihat dia selalu sampai pada tujuannya.


"Terus sekarang harus gimana? Saya juga enggak mau ngaku kalo saya beneran pelakor ke orang tua saya. Sekali lagi, mau bayarannya apa, ada sesuatu yang enggak bisa saya lakuin."


"No brainer. Sisanya urusan saya."


Rara menatap bingung ponselnya yang kini menampilkan wallpaper layar setelah panggilan mati.


Jika Abimanyu sudah bilang 'sisanya urusan saya', Rara jadi merasa sedikit cemas.


*


Dan kecemasan Rara menjadi kenyataan sewaktu Abimanyu tiba-tiba muncul di depan kediamannya. Wajah orang tua Rara seketika pucat melihat pria beristri yang katanya bersikeras mengejar-ngejar anaknya itu kini datang memarkirkan mobil mahalnya di depan rumah.


Rara sungguh takut dan cemas. Padahal ia sudah bilang tidak mau melibatkan orang tuanya tapi kenapa Abimanyu malah datang?

__ADS_1


"Saya mau minta maaf."


Rara tertegun. Dari semua kalimat, Abimanyu membukanya dengan permintaan maaf?


"Saya enggak seharusnya ngelibatin anak bapak-ibu di urusan rumah tangga saya. Sekali lagi saya minta maaf." Abimanyu menundukkan kepala pada mereka seolah-olah sedang menyesali perbuatannya. "Apa pun gosip di luar sana, saya harap bapak dan ibu mau dengerin penjelasan saya. Saya enggak mau sampe Rara disalahin karena gosip di luar sana."


Apa yang sebenarnya dia lakukan? Kenapa sekarang dia terkesan meminta restu sekaligus membuktikan bahwa dia bukan pria jahat yang selingkuh di belakang istrinya, melainkan seorang pria bertanggung jawab yang terlibat masalah hingga orang lain salah paham?


Dan tanpa sepengetahuan Rara, memang itu niat Abimanyu. Menarik orang tua Rara untuk 'merestui' hubungan mereka.


Ini juga penting bagi kelangsungan karier Rara yang akan menanjak naik nanti. Bukankah akan bermasalah kalau setelah kasus ini reda, Rara malah dihalangi? Makanya restu dibutuhkan di sini.


"Sebenarnya ada apa, Nak?" Setelah sempat terdiam, Mama pun melempar pertanyaan pada Abimanyu. "Apa benar Nak Abimanyu sama Rara punya hubungan?"


Abimanyu melirik Rara sejenak sebelum menjawab, "Enggak, Bu, kami cuma sekedar kenal. Tapi memang benar saya pernah mau deketin anak Ibu."


"Bukannya kamu punya istri?" Papa ikut menimpali.


"Istri saya punya gangguan mental."


Kedua orang tua Rara terkesiap.


"Nauzubillah." Mama sampai menutup mulut tak percaya. "Separah itu, Nak?"


"Ya, Bu, separah itu. Saya berusaha tahan sama pernikahan kami tapi entah datang dari mana gosip tiba-tiba naik dan Rara diseret. Ngeliat keadaan sekarang saya rasa pernikahan saya memang sudah enggak punya jalan keluar lain."


Rara menahan napas.


Tunggu, bukankah gosip yang entah datang dari mana itu sebenarnya datang dari dia?


Rara menatap nanar pria bernama Abimanyu itu. Pandai sekali berdusta. Dia bahkan jauh lebih pandai dari orang-orang yang mengaku pandai.


Ketika Rara melirik orang tuanya, tatapan mereka yang semula waspada pada Abimanyu telah berubah kasihan. Mereka memandang Abimanyu sebagai 'korban'.


"Nama anak ibu cuma kebetulan diseret-seret di sini. Saya rasa enggak lama lagi nama orang lain yang pernah ketemu saya juga akan diseret-seret. Tapi karena saya enggak mau sampai Rara justru disalahin karena kesalahan saya, saya datang buat minta maaf sekaligus menjelaskan. Sekali lagi mohon maaf."


*


"Kamu enggak tertarik jadi pemain sinetron?"


Abimanyu yang hendak membuka pintu mobilnya seketika berpaling atas ucapan Rara. "Maksud kamu?"

__ADS_1


"Saya kebetulan juga tukang bohong." Rara melipat tangan di bawah dadanya, mengerutkan bibir saat matanya fokus pada wajah 'penipu' itu. "Ngeliat kamu bohong di dalem sampe bikin orang tua saya percaya, saya mau enggak mau jadi takut sama kamu. Percaya sama tukang bohong itu sama kayak ngasih tas saya ke pencuri."


Abimanyu batal membuka pintu. Lebih pintar dari dugaannya ternyata, begitu pikir Abimanyu tentang Rara. Walau sejak awal ia cukup yakin dia pintar, tapi nampaknya Rara mulai membaca sedikit niat terselubung Abimanyu.


Dan mungkin dia curiga bahwa Sakura yang korban sesungguhnya.


"Saya enggak pernah bilang saya lebih baik dari Sakura atau lebih suci dari Sakura." Abimanyu akan memastikan kecurigaan itu hilang dulu. "Mungkin agak malu-maluin ngomong begini tapi kamu liat saya? Kekuasaan, uang, pengaruh ada sama saya."


Abimanyu memasukkan kedua tangannya ke saku celana, menatap Rara tanpa ekspresi. "Sebagai calon publik figur, saya ajarin kamu satu hal. Orang yang punya uang TERLALU banyak itu bukan orang jujur, orang yang punya kekuasaan itu orang licik, dan orang yang punya pengaruh itu manipulatif. Saya punya tiga-tiganya."


"...."


"Tapi bukan berarti saya orang gila yang nyiksa istri saya sendiri."


Setidaknya itu jujur.


"Walaupun saya juga ngakuin kalau saya punya dendam ke Sakura."


Abimanyu melangkah dua kali, membuatnya berhenti tepat di depan Rara. Dipandangi wajah 'selingkuhan'nya itu baik-baik sekaligus membiarkan dia melihat wajahnya baik-baik.


"Kamu terima jadi selingkuhan saya karena kamu sadar 'berusaha keras' itu bukan kunci dari sukses, kan? Kamu butuh sponsor. Kamu butuh bantuan orang yang main di belakang layar. Kamu enggak punya siapa pun selain saya, Rara, jadi bisa sekarang kita berenti ngomongin soal hati nurani? Mau siapa yang korban, siapa yang sakit hati, siapa yang hancur berantakan, fokus sama tujuan kamu."


Rara menunduk muram. Sulit untuk ia membantah karena nyatanya itu benar.


Ia butuh membesarkan namanya sendiri, mendapatkan uang untuk keluarganya dan menaikkan status sosial mereka.


"Lagian," gumam Abimanyu, "ada orang yang enggak boleh saya kecewain."


Rara tertegun. Karena jarak ini ia bisa melihat jelas Abimanyu yang menakutkan tiba-tiba terlihat rapuh.


"Saya hidup buat dia." Abimanyu memastikannya. "Kalau Sakura enggak punya kesalahan tapi saya malah nyakitin dia, menurut kamu orang yang sayang sama saya enggak bakal kecewa?"


Orang yang menyayangi dia? Siapa maksudnya?


Abimanyu benar-benar terlihat menyayangi orang itu juga sampai dia melemah.


"Seminggu lagi kamu bakal diundang Podcast buat klarifikasi. Pastiin buat dateng."


Setelah mengatakannya Abimanyu pergi, meninggalkan banyak pertanyaan di benak Rara.


*

__ADS_1


__ADS_2