Abimanyu : Pelakor Sewaan

Abimanyu : Pelakor Sewaan
47. Perasaan Abimanyu


__ADS_3

"Juwita," bisik Abimanyu saat memeluk ibu tirinya, "titip Ranaya."


Juwita tersenyum. Senyum yang tampak sangat manis dan terlihat haru. Kadang-kadang rasanya skeptis Juwita percaya Abimanyu akan berubah, namun dari suara dan detak jantungnya yang menyebut nama Rara, anak ini sudah menganggap istrinya sangat berharga.


Maka dari itu ketika Abimanyu pergi untuk melakukan tugas yang Juwita tahu membahayakan nyawanya, Juwita berbalik dan memeluk Rara.


"Tante?"


"Makasih, Sayang." Juwita mengusap-usap punggung Rara. "Makasih udah bawa pulang Bocah-nya Tante."


Rara sempat tertegun namun sejurus kemudian ia balas memeluk Juwita.


"Bocah-nya Tante bakal pulang lagi, kan?" bisik Rara parau. Ketika Abimanyu benar-benar pergi meninggalkan ponselnya bersama Rara, ketakutan itu akhirnya memuncak.


Ia takut Abimanyu tidak bisa pulang lagi karena apa pun yang dia lakukan di luar sana.


"Pasti pulang." Juwita tersenyum.


"Kok Tante yakin?"


"Hm? Soalnya dia nitipin kamu dengan niat mau ngambil lagi." Juwita mengusap-usap kepala Rara. "Artinya Abi mau pulang lagi buat nyari kamu."


Begitu, yah? Kalau Juwita sebagai senior dengan delapam anak berkata begitu, Rara tidak punya pilihan lain selain percaya.


"Sekarang ayo masuk, kita masak-masak bareng. Kamu suka puding?"


"Suka, Tante."


"Abimanyu itu paling suka puding roti," kata Juwita yang seketika membuat telinga Rara bergerak-gerak.


Benar juga yah. Selama sebulan ini Rara punya kesempatan mengetahui semua hal tentang Abimanyu, dari masa kecil, kebiasaan konyol, makanan favorit, pokoknya apa pun yang hanya diketahui oleh keluarganya!


"Tante, tolong ajarin aku masak semua makanan kesukaan Abimanyu. Soalnya dia enggak pernah mau ngomong."


"Hoho, akhirnya semangat juga." Juwita berkacak pinggang. "Emang harus begitu. Laki-laki perlu ditaklukin lewat tiga hal. Satu, matanya; dua, mulutnya; tiga, selangkangannya."

__ADS_1


Wajah Rara merah padam. Ia celingak-celinguk melihat kalau-kalau anaknya Juwita dengar tapi bersyukur mereka semua tampak sedang asik di depan televisi.


"Tante." Rara datang memeluk lengan Juwita, berbisik malu-malu padanya. "Aku mau nanya sesuatu tapi Tante jangan ketawa yah!"


Juwita malah langsung tertawa. "Apa? Soal ranjang?"


"Kok Tante tau?!" seru Rara syok.


"Ya ngapain kamu bisik-bisik kalo nanya soal makanan doang."


Wanita itu cengengesan.


"Kenapa? Abimanyu terlalu ganas sama kamu?"


"Kok Tante—"


Juwita menarik Rara untuk pergi ke dapur, biar mereka punya waktu berdua membicarakan hal yang tidak perlu didengar anak kecil. Wanita itu membuka kulkas, mengeluarkan dua kotak yoghurt sebagai camilan sebelum dia duduk di seberang Rara.


"Dari semua anak Tante yang cowok, yang Tante perhatiin paling tenang itu Cetta." Juwita menyendok yoghurt sambil mulai bercerita. "Dan yang paling enggak tenang itu Abimanyu."


Rara mendengarnya serius.


Rara menggigit sendok yoghurt di tangannya. "Menurut Tante, laki-laki kayak Abimanyu itu bisa berubah? Maksud aku kayak, dulu dia tukang selingkuh. Aku percaya sama suami aku, kok, tapi menurut Tante bisa enggak?"


"Bisalah, semua orang bisa berubah." Juwita tersenyum lembut. "Orientasi hidup setiap orang bisa berubah, Rara. Misal aja, waktu kamu masih gadis kamu cuma peduli sama diri kamu sendiri. Tapi begitu menikah kamu jadi pengen punya anak. Begitu punya anak kamu bahkan bisa nomor duain diri kamu sendiri dan yang nomor satu malah orang lain, sekalipun itu anak kamu."


Rara tertegun mendengar kata hamil dan anak. Secara spontan ia memegang perutnya, merasakan jantungnya berdebar tak beraturan tiba-tiba.


Anak, kah? Rasanya punya anak bagaimana, yah?


"Tante doain kamu udah siap punya anak, yah?" kata Juwita manis. "Begitu kamu punya anak, kamu bakal ngeliat sendiri seluar biasa apa hidup kamu berubah."


Rara mengerjap. "Kalo aku punya anak nanti Abimanyu enggak sayang sana aku lagi, gimana Tante?"


Juwita tersenyum geli. "Rara, Sayang, kita perempuan juga harus ngerti kebutuhan laki-laki. Punya anak enggak punya anak, itu enggak bikin laki-laki ninggalin kamu. Yang bikin mereka ninggalin kamu itu kalau kamu enggak bisa muasin kebutuhan mereka lagi. Misal, habis punya anak kamu kurang mau ngerawat diri, kurang mau ngeluangin waktu buat suami. Itu manusiawi kalau pelan-pelan mereka ninggalin kamu. Persis sama kayak perempuan kalau punya suami terus suaminya cuka punya gaji seratus dua ratus ribu sebulan. Bahkan kalau mau setia juga, kamu justru tersiksa kalau bertahan."

__ADS_1


"Pantes aja Tante masih cantik padahal anak Tante lima."


Juwita tertawa lepas. "Tenang aja. Tante bakal tetep cantik biarpun nanti anak Tante sepuluh."


*


"Hasil rapat Number hari ini," Hara menautkan tangan di bawah dagunya, "dipastiin kalau tujuan mereka itu Aliansi. Secara spesifik ngeruntuhin Aliansi."


"As expected." Samuel tersenyum kecil. "Jadi singkatnya kasus-kasus narkoba, orang-orang ilang dan sebagainya itu cuma kasus buat mancing kita, kan?"


"Bisa dibilang. Tapi ada satu kesimpulan lain." Hara menatap Abimanyu. "Kemungkinan di belakang organisasi kemarin, ada 'something' yang lebih besar."


Semua orang melirik Abimanyu. Tentu saja mereka paham bahwa orang yang kelemahannya paling diserang di antara mereka semua adalah Abimanyu.


"Sakura masuk bagian something itu, maksudnya?" timpal Abimanyu setelah sempat diam. "Dan sekarang enggak ada yang tau Sakura di mana."


Itu juga karena Abimanyu pikir urusannya dan Sakura sudah selesai tapi ternyata dia malah dipungut oleh orang lain yang berencana menyerang Abimanyu habis-habisan.


"Ini udah masuk ancaman negara. Pak Presiden udah ngeluarin perintah rahasia buat militer sama Aliansi buat kerja sama. Dan perintah Mahesa buat Aliansi," Hara menatap seluruh pria itu lurus-lurus, "kalo perlu kalian mati asal Aliansi tetep ada. Buat masa depan semua orang di negara kita."


Semua orang kompak berdiri, menerima perkataan itu tanpa suara.


Rapat kemudian berlangsung tegang, membicarakan strategi utama dari pergerakan mereka kedepan. Setelah semua percakapan itu rampung dan semua orang dibiarkan beristirahat sejenak, Abimanyu pergi menuju balkon markas utama, menyalakan rokoknya setelah sekian lama.


Abimanyu baru sadar ia bahkan sudah lupa merokok sejak bersama Rara. Padahal perempuan itu tidak pernah menyuruhnya berhenti merokok.


"Inget istri atau inget nyokap tiri lo?" tanya Rohan yang ternyata juga datang merokok. "You know what, bro? Gue ngerasa lo tuh rada beda sekarang."


"Hm." Abimanyu mengakuinya. "Gue nyaman sama bini gue sekarang."


"Nyaman secara emosional?"


"Hm." Abimanyu menunduk, mengembuskan asap rokoknya pelan-pelan. "Padahal dia ... enggak sespesial itu."


Maksud Abimanyu, dia itu tidak super baik juga, tidak sangat ramah juga, tidak memiliki keistimewaan aneh yang menghanyutkan tapi Abimanyu justru merasa dia berbeda.

__ADS_1


"Perasaan gue ke Juwita ... rasanya udah enggak sebesar dulu."


*


__ADS_2