Abimanyu : Pelakor Sewaan

Abimanyu : Pelakor Sewaan
29. Nafsu Suami


__ADS_3

"HP kamu kayaknya sibuk banget pagi-pagi." Abimanyu mau tak mau berkomentar sebab istrinya dari tadi cuma sibuk bermain ponsel. "Kenapa?"


Rara tersenyum gembira. "Ada tawaran ngonten. Dari temen-temen saya."


"Konten soal hadiah Juwita?"


Rara menoleh. "Kok tau? Jangan bilang kamu yang nyuruh mereka?"


Pria itu memperlihatkan ponselnya sendiri yang tengah menampakkan berita tentang ibu tiri dermawan yang membawa ratusan kotak hadiah ke pernikahan kedua anak tirinya.


"Tanpa saya suruh pun yang beginian viral sendiri."


Rara sejenak bermain bermain handphone. "Hadiahnya harus dipilih-pilih dulu berarti yah."


"Enggak usah. Tunjukin aja semuanya."


"Enggak! Terlalu pamer, gilak!"


"Makin kamu pamer makin orang ngeliat kamu." Abimanyu tersenyum culas. "Artis itu kerjaanya emang kayak gitu. Apalagi influencer yang target penontonnya rata-rata dewasa-muda. Semakin kamu nunjukin kehidupan yang bikin mereka mimpiin hidup kamu, semakin mereka suka dan nungguin kamu. Jelas, bakal banyak juga yang bakal hujat kamu. Tapi ujung-ujungnya itu risiko."


Rara juga tahu itu.


Setelah berdiskusi dengan Abimanyu, Rara pun menyetujui tawaran teman-temannya.


*


Tentu saja sebelum menbuat konten harus ada persiapan dulu. Hadiah-hadiah pernikahan mereka, terutama yang diberikan oleh Juwita langsung dipindahkan ke kediaman Abimanyu untuk diamankan. Sekalian juga hari ini Rara mendatangi kamar barunya sebagai istri Abimanyu.


"Jadi saya dapet kamarnya Sakura?" tanya Rara sembari mengikuti langkah Abimanyu.


"Kamu mau kamarnya Sakura?"


"Saya nanya, kenapa kamu malah balik nanya?"


"Tadi saya juga nanya kamu balik nanya lagi."

__ADS_1


Rara menggembungkan pipinya sebal dan Abimanyu malah tertawa. Pria itu terus melangkah menaiki tangga, melewati lantai yang Rara ingat tempat kamarnya Sakura. Ternyata mereka naik ke lantai paling atas.


Kaki Rara bahkan sampai pegal berjalan sebelum akhirnya Abimanyu berhenti, mendorong sebuah pintu kembar terbuka. Saat ruangan di dalamnya terlihat, Rara menahan napasnya sesaat.


Gadis itu melangkah masuk dan seketika aroma harum memenuhi penciumannya. Mata Rara mengitari kamar mewah yang tampak tampak seperti bagian dari istana kaca itu. Seluruhnya nyaris putih dan transparan, tapi sejumlah hiasan bunga kamelia merah diletakkan memberi pantulan warna kemerah-merahan di atas permukaan kramik putih.


"Ini buat saya?"


"Egois banget kamu mau tidur sendiri. Ini kamar saya juga."


Rara tercengang. "Maksudnya kita tidur berdua tiap malem?"


Abimanyu menutup pintu. "Saya juga suka tidur siang."


Oke, untuk kesekian kali Rara terlambat menyadari bahaya. Kakinya spontan mundur dan terus mundur ketika Abimanyu berjalan mendekat. Apalagi sambil berjalan, Abimanyu melepaskan satu per satu kancing kemeja hitamnya tanpa melepaskan tatapam dari Rara.


"M-masih pagi, Abimanyu." Rara berusaha mengelak. "Seenggaknya tunggu malem—"


"Ranaya." Abimanyu membuang jaketnya ke lantai begitu saja. "Kalau kamu mau jadi istri sempurna, kamu cukup inget satu hal."


"Istri sempurna itu," Abimanyu menyelip di antara kakinya, "enggak bakal nolak suaminya."


Untuk kedua kali bibir mereka bertemu. Rara mencengkram pundak Abimanyu sebagai bentuk pelampiasannya namun seperti kata dia, Rara tidak menolak.


Kamar yang tadi hening itu kini dipenuhi oleh suara tak senonoh. Rara berulang kali menutup mulutnya karena menyadari suaranya terpantul di kamar itu, seolah-olah memang sengaja didesain demikian.


"Kamu bukan anak kecil," bisik Abimanyu di telinganya. "Keluarin yang kamu mau."


Rupanya pria itu menyadari bahwa Rara malu untuk bertindak lebih. Malu dan canggung untuk terlihat ingin. Tapi bisikan Abimanyu berhasil membuatnya sedikit termotivasi.


Rara menarik wajah pria itu, menciumnya atas keinginan sendiri. Abimanyu membalas keinginan Rara, memberinya sebuah ciuman yang seolah tak memiliki ujungan sama sekali.


"Jangan takut." Abimanyu mengusap lembut perut ramping gadis itu saat dia terlihat agak ragu. "Sakit tapi enggak bakal terlalu lama."


Rara memejamkan matanya rapat, masih merasa takut jika rasa sakitnya ternyata sulit ditahan. Tapi sesaat setelah itu Rara membuka mata, merasakan jelas bibir Abimanyu di keningnya.

__ADS_1


Kelembutan yang pria itu berikan membuai Rara untuk tenang.


Abimanyu kemudian membungkuk, mengusap lembut air mata istrinya sebelum memberi ciuman manis di bibirnya.


"Kalau kamu nangis, kesannya jadi pemerkosaan."


Rara memukul pundak Abimanyu. "Ini sakit beneran."


Pria itu malah tertawa.


"Tangan." Rara mencari-cari kedua tangan Abimanyu lalu menggenggamnya. "Kamu ... boleh gerak."


Senyum kecil tersungging di bibir Abimanyu. Menuruti perkataan Rara sekaligus keinginan hatinya sendiri, Abimanyu mulai menggerakan tubuhnya.


*


Olivia memasuki kediaman Abimanyu sambil menenteng map di tangannya. Wanita cantik berkaki jenjang itu secara alami bersikap seperti ini rumahnya sendiri, karena memang Olivia bahkan menginap di sini berminggu-minggu jika sedang mau. Mau ada Abimanyu ataupun tidak ada Abimanyu, Olivia sudah dianggap wajar berada di sana.


"Abimanyu udah pulang?" tanyanya pada pelayan.


"Sudah, Mbak. Bapak lagi di atas sama istrinya."


Olivia mengerjap, sempat lupa kalau kemarin Abimanyu menikah. Memang dirinya tidak datang sebab pernikahan kemarin itu lebih seperti acara khusus keluarganya Rara saja. Abimanyu bahkan tidak memberi undangan untuk siapa pun selain orang tua dan adik-adiknya.


"Kasih tau kalo saya dateng." Olivia membawa informasi penting yang dia minta jadi mungkin dia mau mendengarnya segera.


Tapi pelayan malah membalas, "Kayaknya enggak bisa sekarang, Mbak. Soalnya tadi Bapak bilang jangan ganggu dulu."


Olivia terdiam. Bagi dirinya yang sudah terbiasa menemani Abimanyu bahkan sesaat setelah dia meniduri Sakura dulu, atau bahkan saat ada Sakura di rumah, itu asing baginya ditepikan.


Tapi yah Olivia tahu bahwa Sakura dan Rara itu berbeda.


"Yaudah." Olivia bukan orang berotak kosong. "Kalo udah bisa diganggu, kasih tau saya nungguin. Ini soal kerjaan."


*

__ADS_1


__ADS_2