
Seharian ini Rara merasa capek karena dramanya. Apalagi setelah lama ia pikirkan itu jadi sangat memalukan sebab ia pikir Abimanyu sungguhan setolol itu, padahal Rara sendiri tahu Abimanyu kan licik, punya banyak mata dan telinga di setiap sudut bahkan bisa mengendalikan opini di media dan sebagainya.
Mana mungkin orang macam dia bisa jatuh semudah itu pada trik sederhana seorang wanita. Yah, walau dia memang punya sejarah brengsek.
"Ranaya."
Kini kondisi sudah damai dan mereka memutuskan menginap di rumah orang tua Abimanyu. Pria itu baru datang, membawa sepiring potongan buah ke meja rias di mana Rara sedang sibuk menyisir rambutnya.
"Abisin, kata Juwita."
Rara tersenyum. "Makasih, Sayang."
Abimanyu juga tersenyum manis. "Lain kali kalo marah at least klarifikasi dulu, yah. Kalo langsung ngadu begini yang ada kamu jadi janda beneran dan aku mati muda."
Senyum Rara langsung berubah cemberut. "Siapa suruh enggak ngasih kode."
"Nah, enggak boleh kode-kodean." Abimanyu melipat tangan. Bersandar pada meja dan tanpa diminta menyuapkan buah di piring ke mulut Rara. "Sekarang Kisa percaya kalo kamu 'ngamuk' karena aku 'selingkuh'. Dia juga percaya kalau aku ini cowok 'brengsek' yang enggak punya akal sehat cuma karena disodorin muka yang mirip sama Juwita."
Rara sempat terdiam. Kenapa Abimanyu mengucapkannya begitu mudah seakan-akan dia mengakui perasaannya pada Juwita?
"Kamu tau soal perasaan aku ke Juwita, kan?" guman Abimanyu. "It's okay. Aku ngaku. Aku jatuh cinta sama Juwita dan pernah ada di posisi jadi orang ketiga. Sakura enggak sepenuhnya bohong."
Jadi benar. Tapi kalau begitu mereka berdua sekarang ... adalah orang jahat?
"Cuma aku bukan anak kecil lagi yang mandang sesuatu hanya dari segi ego." Abimanyu tersenyum kecil mengusap sudut bibir Rara. "Aku enjoy sama hubungan kita. Dan kamu beda dari Sakura yang ngeliat Juwita sebagai hama."
"...."
"Cuma inget satu hal, Ranaya. Bahkan kalau aku enggak punya perasaan aneh ke Juwita, she always comes before you. She's my first. Mama dan Juwita selalu jadi perempuan nomor satu. Kamu nomor dua. But jangan pernah ngerasa karena kamu nomor dua berarti kamu enggak penting. Kamu punya orang tua kamu jelas tau rasanya."
Rara mengangguk mengerti. Entah kenapa Rara tidak merasa cemas sekalipun Abimanyu berkata dia menyukai Juwita. Padahal Rara pikir itu perasaan menakutkan karena Sakura sampai menggila dan Abimanyu pernah menangisi itu.
Tapi entah kenapa sekarang itu terlihat ... biasa saja. Rara merasa bahwa ia sedikitpun tidak diabaikan sekalipun Abimanyu berkata ia nomor dua.
"Maaf, Bi." Rara menarik tangan Abimanyu dan menciumnya seperti Abimanyu kadang-kadang melakukan itu juga. "Maaf karena enggak percaya sama kamu lagi."
__ADS_1
Abimanyu membungkuk, mencium keningnya lembut. "Bahkan Papa sampe siap ngusir aku dari sini tadi padahal dia Papa aku. Kamu dan jelas juga aku sama-sama cuma manusia. Kita enggak bisa kayak Tuhan yang tau isi hati semua orang. Jadi aku enggak nyalahin kamu sama sekali."
"Cuma kalo lain kali, kalau semisal ada kejadian yang maksa kamu ngerasa aku bohong, at least tanya aku di tempat privat dulu sebelum ngambil asumsi."
Pria itu mengelus-elus kepala Rara sayang.
"Aku bakal transparan sama kamu soal apa pun. Kecuali kalau emang itu kamu enggak perlu tau dan justru bikin kamu susah kalau tau."
Rara tersenyum membiarkan kepalanya diusap-usap seperti kucing. Demi nama Tuhan, Rara masih sering terkejut melihat sisi-sisi lain dari Abimanyu yang dulu ia pikir hanya pria lurus, logis, licik, lempeng.
Namun selain mesum, sangat amat pandai bohong, dan kadang-kadang usil, ternyata dia juga dewasa bahkan bijaksana. Kenapa sebenarnya Sakura menyia-nyiakan pria semacam ini? Apa dia bodoh atau buta?
"Kalo kayak gini terus," gumam Rara, "aku bakal lupain tujuan mau fokus berkarier."
"Enggak ada masalah. Lupain aja."
"Kok jawabnya gitu sih?"
"Karena aku enggak ngedukung karier jadi influencer," jawab Abimanyu blak-blakan. "Kamu dulu ngeliat jadi influencer adalah cara termudah buat dapet uang demi orang tua kamu. Tapi di kacamata kamu sekarang, yakin influencer emang karier terbaik? Besides mungkin berbakat jadi pembohong tapi emang kamu mau ngabisin tahun-tahun kamu buat jadi publik pleaser?"
Abimanyu membelai wajah Rara.
Rara mengerjap. "Emangnya itu enggak beban? Kan sama aja aku nambahin kerjaan kamu sementara aku leha-leha."
"Kalian perempuan terlalu suka overthinking." Abimanyu menghela napas. "Laki-laki itu suka kerja, Ranaya. Even pusing, capek, mumet, nyebelin, jauh lebih pusing kalau enggal kerja. Kalian istri enggak perlu bantuin kerja. Bantuin ngecas aja. Contohnya kayak kamu bilang : Sayang, buka baju dong, aku mau digoyang, itu udah termasuk sangat amat membantu—"
"Heh!" Wajah Rara yang memerah padam rasanya mau ia tenggelamkan ke lumpur saking malunya. "Kamu tuh ngoceh panjang lebar ujungnya mau minta jatah?!"
Abimanyu sok-sokan tersenyum bingung. "Koneknya ke sana yah? Yah, kalau ditawarin sih enggak nolak."
Harusnya Rara tidak memuji dia! Dia ini cuma pria mesum yang otaknya berisi jatah!
*
"Kakak lagi di mana?" tanya suara manis dari seorang gadis di sana.
__ADS_1
"Masih di rumah orang tua aku, Sayang." Abimanyu menjawabnya halus. "Adek di mana?"
"Lagi di bandara, nungguin pesawat lepas landas. Ini baru mau pulang ke Bandung."
"Gitu, yah? Yaudah nanti kalo sampe Kakak samperin, yah? Adek hati-hati."
"Iya, Kak." Kisa menjawab malu-malu. "Kakak juga baik-baik yah di sana."
"Iya, Sayang."
Abimanyu mematikan panggilan dan tersenyum kecil melihat tatapan tajam Rara di pangkuannya. Sepertinya Abimanyu memang ditakdirkan jadi orang brengsek.
Oke, tidak. Itu barusan sudah didiskusikan dan Rara pun sudah mengerti. Bahkan jika harus membuat satu negara ini melihatnya berselingkuh lagi, Abimanyu harus melakukannya untuk menangkap 'seseorang' di belakang Kisa.
"Cemburu?" tanya Abimanyu pura-pura bodoh.
"Enggak level." Rara membuang muka.
"Mau juga dipanggil sayang?"
"Ceh." Rara mendengkus. "Semua cewek kamu panggil begitu. Apaan spesialnya."
Abimanyu tersenyum geli. Perempuan ngambekan itu kadang menyebalkan dan dulu Abimanyu pikir mereka sangat mengganggu, tapi ternyata jiwa kelakian Abimanyu malah melihatnya lucu.
"Ranaya." Abimanyu meletakkan telapak tangannya di pipi Rara, tersenyum lembut padanya. "Kamu cuma perlu jadi Ranaya. Itu udah spesial."
Rara mengerutkan bibirnya. "Lidah buaya."
"Mau nyobain lidah buaya?"
Abimanyu terkekeh geli melihat Rara berusaha keras tidak senyum. Tapi sayangnya Abimanyu tidak bisa melanjutkan itu lebih lama karena ia harus pergi ke markas.
"Kemungkinan besar makelar narkoba bakal hubungin kamu hari ini atau maksimal besok." Abimanyu mengangkat Rara dari pangkuannya untuk sama-sama berdiri. "Bikin kesan kamu mulai depresi sama pernikahan kita karena aku selingkuh sama Juwita Kedua. Kalau perlu kamu telfon Kisa dan ngamuk ke dia kayak Sakura dulu."
Rara mengangguk. Terlepas dari apa pun, Rara sudah sangat mengerti beratnya misi ini.
__ADS_1
*
yang bilang abimanyu enggak mirip adji mana nih? cuma dulu abi kan masih bocah alias masih bego. sekarang udah dewasa dia—walaupun masih proses mendekati bijaknya bapak adji.