
Abimanyu masih ingat ketika pertama kali ia bertemu Juwita. Wanita yang tiba-tiba datang menjadi istri Papa-nya itu memukul bola voli sampai tangan Abimanyu memerah saking keras pukulannya. Lalu setelah itu mereka sering saling mengejek, dan entah sejak kapan Abimanyu mulai mencintainya lebih dari yang seharusnya.
Ketika itu, jauh di hati Abimanyu, ia sudah memiliki pemikiran ini.
Bahwa dirinya adalah benda yang jelek.
Benda tidak berguna, tidak layak dipandang, hanya mengotori tempat ia berada hingga sepantasnya dibuang.
Abimanyu selalu meyakininya bahkan sampai detik ia bersama Rara. Tapi entah karena keangkuhan, ataukah karena keegoisan semata, Abimanyu yang sadar betapa jelek, sampah dan tidak layak dirinya ini justru tetap di sana, berpura-pura yakin bahwa ia pantas.
Tapi kini tidak lagi. Kini Abimanyu bisa melihatnya sekali lagi. Bahwa benda yang mengganggu ini, dirinya yang tidak layak ini, harusnya dibuang sejak lama oleh Juwita.
Agar dirinya yang jelek dan tidak pantas ini tidak sampai harus dipungut oleh Rara, yang terlalu buta melihat betapa buruk rupanya Abimanyu.
"Sakura bunuh diri." Abimanyu kini hanya bisa menahan ketakutan itu dan berbisik pada Olivia. "Dia udah enggak ada dari lama."
Olivia tersekat. "Apa?"
"Dia bunuh diri karena gue, Liv." Abimanyu menggigil. "Dia bunuh diri karena gue."
"Abimanyu—"
"Gue bilang gue enggak peduli! Gue bilang gue enggak mau peduli sama Sakura! Gue enggak peduli dia ngapain! Bukan urusan gue dia ngapain!"
Tangan Abimanyu yang dingin mencengkram pakaian Olivia.
"Tapi," bisiknya setelah itu, "berarti sekarang gue enggak pantes lagi buat Ranaya."
"...."
"Gimana orang kayak gue ngasih dia kebahagiaan, Olivia? Gimana orang kayak gue ngasih dia masa depan kalo yang gue lakuin, semuanya, itu ternyata cuma ngerusakin hidup orang-orang?!"
"...."
"Juwita harusnya udah buang gue dari lama. Harusnya dari dulu dia buang sampah kayak gue. Kenapa enggak dari dulu?!"
Olivia hanya bisa luruh, jatuh terduduk, mendengarkan tangisan Abimanyu yang tengah ketakutan.
Dia takut pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Dia takut pada segala kerusakan yang bisa diperbuat oleh tangannya sendiri.
*
Pagi harinya setelah beristirahat beberapa jam, Abimanyu dan Olivia pergi ke markas pusat Aliansi untuk rapat eksekutif. Kronologis kejadian yang perlu diceritakan Abimanyu berikan, lalu tak butuh waktu untuk perwakilan Mahesa dari Number lain muncul untuk mengambil alih situasi.
"Ini udah kerusakan skala besar buat Aliansi dan terutama negara. Pemimpin Aliansi sampe diambil paksa dan kita ditipu habis-habisan. Akuin kalau sekarang emang kita semua yang bego."
Abimanyu hanya tertunduk. Walau sesaat kemudian pria itu bangkit.
"Gue ngundurin diri dari posisi Eksekutif."
Denis di sampingnya langsung tercengang. "Woi, Bi, Aliansi lagi kacau begini terus lo kabur?"
"Orang yang bawa Bos ke mereka notabenenya gue, Den." Abimanyu menoleh. "Orang yang berulang kali diserang buat ngelemahin Aliansi juga gue. Gue enggak lari. Sama sekali. Tapi kalo gue tetep di sini, sama aja nyuruh mereka terus-menerus nembakin gue sambil ngetawain kalian."
"Enggak salah." Nine, pengganti Zero menimpali. "Terus, selain ngundurin diri, apa kompensasi lo buat kesalahan yang lo sebutin?"
"Olivia."
Walau sempat menghela napas, Olivia maju, menyerahkan map di tangannya pada Nine.
Dengan kata lain kedepannya secara pribadi Abimanyu akan disebut miskin. Rumah yang Abimanyu tempati sekarang itu, kemarin telah ia minta untuk dipindahnamakan menjadi hak Rara.
"Bro, come on." Denis beranjak. "Gue ngerti maksud lo tapi Sam udah enggak ada, Rohan udah enggak ada, Salim juga enggak ada. Kalo lo pergi juga, Aliansi butuh waktu buat pulih total. Apalagi Bos juga enggak ada."
"Eksekutif Aliansi itu ibarat mukanya Aliansi selain bos." Abimanyu tersenyum mengejek dirinya sendiri. "Muka yang dilemparin batu berkali-kali masih sudi lo pajang sebagai muka?"
"Abimanyu—"
"Enggak, dia bener." Nine memotong. "Abimanyu resmi dipecat."
Abimanyu mengangguk. Itu memang lebih baik. Itu sedikitpun tidak buruk karena sekalipun ia keluar dari Aliansi, Abimanyu masih akan bekerja di bawah Mahesa dan masuk ke organisasi lain yang nanti akan diputuskan untuknya.
Tapi sekarang mengundurkan diri dari Aliansi memang keputusan yang menurut Abimanyu harus diambil.
Setelah selesai mengurus urusannya di markas pusat, Abimanyu langsung bertolak pulang ke kediamannya. Atau mungkin harus disebut kediaman Rara sekarang.
Begitu melihat Abimanyu pulang, Juwita langsung tersenyum.
__ADS_1
"Kamu pulang, Cahku."
Tapi Abimanyu tidak bisa membalas senyumnya. Pria itu hanya mengambil Abirama di pelukan Juwita, kemudian berlalu naik.
Juwita yang ditinggalkan begitu saja sedikitpun tidak marah. Wanita itu paham alasan Abimanyu tiba-tiba kehilangan ekspresinya pastilah kabar kematian Sakura.
Dia mungkin tidak bersedih. Jelas tidak bersedih setelah semua yang Sakura lakukan. Tapi menjadi penyebab, menjadi alasan utama seseorang berhenti mengembuskan napas di dunia ini ... itu pasti sangat menakutkan.
*
"Abimanyu!" Dian langsung meloncat dari kursi begitu Abimanyu memasuki kamarnya yang dijaga ketat oleh orang suruhannya.
Tapi Abimanyu tak ingin banyak berbasa-basi. Pria itu menepis tangan Dian darinya, sekaligus menjauhkan dia dari Abirama.
"Lo bilang mau jadi istri gue, kan?" kata Abimanyu tanpa pembukaan apa pun lagi. "Sekarang lo pilih. Lo jadi istri gue tapi miskin," pria itu menyodorkan map yang tadi berada di tangan Olivia, "atau lo jauh-jauh dari gue sama duit yang gue kasih?"
Dian menatap semua itu tak mengerti. "Maksud kamu miskin?"
"Ya miskin, enggak punya banyak duit, enggak punya kerjaan." Olivia yang menjelaskan. "Abimanyu sekarang lagi kere. Rumahnya ini udah diambil sama Rara, sisanya buat Tante Juwita, terus sisanya yang lain disita sama Aliansi. Jadi kalo lo jadi bininya Abimanyu yah siap-siap makan indomie pagi siang malem."
"Enggak mungkin!" Dian terbelalak sangat tak percaya. "Kamu kira aku bodoh, yah?! Enggak mungkin kamu—"
"Dian." Abimanyu tidak mau mendengar omong kosong lebih jauh. Ia mengangkat surat perjanjian resmi itu di depan mata Dian agar dia menatapnya baik-baik.
"Lo pergi, bawa duit 2 miliar, atau jadi istri gue yang enggak punya apa-apa. Lo liat baik-baik surat perjanjiannya. Gue tulis jelas kalo lo jadi istri gue, duit mingguan lo cuma seratus ribu."
"Kalo kamu semiskin itu kenapa kamu malah mau ngambil Abirama?!"
"Gue yang bakal nafkahin anak lo." Olivia menjawab congkak. "Mau gimana lagi kan, Abimanyu kere. Gue bukan elo, ngelintah ke cowok yang berduit karena enggak punya duit sendiri. Tenang aja, di lembar kedua perjanjian udah ditulis gue harus, wajib, nafkahin anak lo sampe dia kuliah."
Dian mengepal tangannya kuat-kuat. Omong kosong! Omong kosong! Ia tak percaya Abimanyu benar-benar jatuh miskin! Itu pasti omong kosong.
Tapi meski begitu, meski Dian berpikir begitu, ketakutannya akan hidup miskin membuat Dian tidak bisa yakin memilih Abimanyu.
"Nasib anak lo tuh jelas. Kalau Abimanyu enggak sanggup nafkahin pun, gue juga enggak sanggup mafkahin, Tante Juwita bakal buka tangan nerima satu anak kurang mampu."
Olivia tersenyum remeh.
"Nasib lo yang enggak jelas di sini, Dian."
__ADS_1
*