Abimanyu : Pelakor Sewaan

Abimanyu : Pelakor Sewaan
31. Minta Maaf Dulu


__ADS_3

waduh, ternyata pada kesel sama abi, yah? jujur kenapa sih? 🤔 apakah cuma author yang biasa aja sama tingkah dia? 😋


***


Rara berencana menuruti Abimanyu untuk pulang sendiri saja, tapi setelah berpikir lagi, Rara putuskan untuk memajukan waktu membuat konten dan tetap di rumah itu. Harusnya siang ini dibuat pun tidak masalah, kan? Toh kalau Abimanyu tidak pulang nanti malam juga Rara tidak mungkin diusir dari rumah ini.


Satu jam setelah dihubungi teman-temannya berkumpul.


"Enggak berubah yah terakhir dateng ke sini," celetuk Hana.


"Iya loh, gue kira berubah." Livia ikut menimpali. "Ini kan seleranya Sakura semua. Gue kira lo ganti, Ra."


Rara tahu di balik ucapan itu ada tawa menghina. Mereka sedang berkata 'semua yang Rara miliki ini dulunya milik Sakura alias bekasnya Sakura jadi jangan sombong'.


Pura-pura saja Rara tidak tahu, tetap tersenyum pada mereka. Toh yang Rara butuhkan cuma nama mereka. Begitu video unboxing kado pernikahan ini disebar maka orang yang melihat Rara di Youtube mereka-mereka ini juga akan mengikuti Rara.


"Kamar lo mana, Ra? Kita unboxing di kamar lo sekalian review kamar pengantin gitu."


"Kamar gue di atas."


"Bekas kamarnya Sakura?" tanya Caca dengan wajah tanpa dosa.


Rara pun tersenyum tanpa dosa. "Kamar paling atas, dibikin spesial sama suami gue."


Ketika Rara berjalan di depan, Caca memutar matanya malas. Memang tidak ada hal yang lebih menyebalkan daripada melihat orang yang kalian rendahkan justru naik ke puncak lebih tinggi.


*


Abimanyu memperkirakan kalau dirinya akan sangat sibuk menghadiri rapat eksekutif, karena informasi dari Olivia tadi memang cukup penting. Tapi diluar dugaan, semua berakhir lebih cepat hingga Abimanyu bisa kembali sebelum pukul empat sore.


"Mampir ke toko kue dulu." Abimanyu memberi perintah singkat pada Rendi yang hari ini mendampinginya.


Mungkin mood Rara agak buruk karena Abimanyu langsung pergi tanpa ada candaan kecil. Sebagai seorang veteran Abimanyu jelas tahu wanita itu suka mempermasalahkan hal-hal kecil yang sepele—besar bagi mereka sendiri. Menghadiahinya kue pasti akan membuat dia merasa lebih baik.


Abimanyu tiba di kediamannya pukul empat lewat. Pria itu turun, melihat mobil-mobil berjejeran di lahan parkirnya yang biasanya sepi.


"Siapa?" tanya Abimanyu pada Rendi. Tangan kanannya setelah Tomoya itu pun bertanya pada pengawas rumah dan memastikan itu teman-teman influencer-nya Rara.

__ADS_1


"Oh." Abimanyu merespons singkat.


Diberikan kantong kuenya ke pelayan di depan pintu dan mereka sudah tahu harus menyimpannya untuk diberikan nanti saja. Pria itu melangkah naik ke tangga tanpa suara. Mendekati kamar yang berisik akan suara-suara wanita lalu mendorongnya terbuka tanpa izin.


"Ranaya." Abimanyu secara alami memamerkan hubungan mereka.


Rara di sana langsung mengerti harus apa. "Udah pulang? Tadi kata kamu bakal pulang malem," ucapnya akrab sebagimana seorang istri.


"Perkiraannya bakal lama ternyata enggak." Abimanyu mengisyaratkan dia datang dan tak sungkan mendekap pinggangnya. Pria itu menunduk untuk berbisik, "Saya beliin kamu kue. Jadi buruan selesaiin baru kita makan berdua."


Rara tertegun. Wanita itu sepanjang hari berpikir bahwa Abimanyu tidak mementingkan sesuatu semacam itu tapi ... barusan apa secara halus dia minta maaf?


Bibir Rara yang sejak tadi tersenyum palsu kini mengulas senyum yang sungguhan tulus. "Oke," katanya singkat.


Abimanyu ikut tersenyum. Melepaskan pinggang Rara dan berlalu pergi begitu saja.


Begitu Rara masuk kembali ke kamar, teman-temannya jelas heboh.


"Laki lo ganteng banget kalo senyum, sumpah. Beruntung banget lo dapet begituan, Ra."


"Udah pada liat belom sodaranya Abimanyu?" Foto Banyu tiba-tiba dimunculkan. "Sebelas dua belas gantengnya! Katanya sih mereka cuma beda tiga taun gitu."


Rara tidak banyak menanggapi karena entah kenapa ia sekarang berharap mereka semua pulang saja. Konten sudah dibuat dari tadi dan mereka sudah berkeliling sepuas hati mereka, jadi bukankah sopan kalau segera pulang?


Pulanglah. Ayo cepat pulang.


Rara sudah muak melihat mereka.


*


Rara membenci dirinya sendiri yang munafik. Begitu semua teman-temannya pulang—dua jam kemudian—Rara justru langsung lari ke kamar mandi untuk bersih-bersih, memastikan tubuhnya wangi padahal bagian tubuhnya di bawah masih perih.


Rara merasa itu benar-benar sangat munafik sebab di sisi lain ia menikahi Abimanyu bukan untuk hal semacam ini. Padahal harusnya tadi Rara fokus dengan pembuatan konten jadi kenapa Rara malah fokus memikirkan kue yang dibeli Abimanyu?


Lalu yang lebih munafik, setelah berdandan, Rara sengaja melama-lamakan diri di kamar mandi agar tidak disangka buru-buru dandan. Rara sok-sokan datang dengan wajah lesu ke tempat Abimanyu menunggu, padahal dari tadi gatal ingin berlari.


"Maaf," ucapnya pelan. "Omongan mereka ngelantur ke mana-mana. Saya kurang bisa ngusir orang."

__ADS_1


Abimanyu tampak sibuk bermain catur. Dia malah tidak melirik Rara padahal seharusnya mencium aroma manis dari parfum mahal istrinya.


Batin Rara mendadak gelisah. Apa jangan-jangan Abimanyu marah karena dia menunggu dua jam lamanya? Atau dia merasa Rara kurang menarik untuk dilihat? Kalau dipikir-pikir tadi dia keluar dengan Olivia, jadi mungkinkan di sela-sela pekerjaan mereka saling memuaskan hingga sekarang Abimanyu tidak butuh?


Tidak, tunggu! Kenapa Rara malah memikirkan soal kepuasan?! Ini SEHARUSNYA pernikahan bisnis!


"Ehem." Rara melirik kue di atas meja. "Saya mau ngomongin soal bisnis. Kayaknya sekarang saya cuma pengen jadi investor. Saya pengen minta saran kamu."


"...."


"Kamu enggak denger, Abimanyu?"


"...."


"Kamu kenapa malah nyuekin saya?"


Rara mengerutkan wajahnya kesal. Wanita itu langsung berdiri, berputar mendekati Abimanyu untuk menepuk bahunya. Tapi baru saja Rara mengulurkan tangan untuk menegur dia, Abimanyu tiba-tiba menangkap tangannya, menarik Rara hingga terjatuh di atas pangkuan pria itu.


Jelas tindakannya membuat Rara terkejut. Namun Rara hanya bisa menahan napas saat melihat tatapan dingin Abimanyu.


"Kamu enggak izin sebelum manggil mereka ke sini," bisik pria itu. "Saya masih maklumin karena saya tau kamu juga bisa mikir sendiri tapi bisa-bisanya saya mesti nungguin kalian selesai berjam-jam?"


Jadi dia sungguhan marah? Tapi itu kan tidak adil! Memangnya Rara yang menahan mereka lama-lama? Mereka sendiri yang tidak sadar diri harus pulang padalah kemunculan Abimanyu tadi seharusnya sudah kode, sebagai oengangin baru.


"Sekarang dateng-dateng kamu cuma bilang 'maaf' terus minta diajarin bisnis? Kamu mau saya ajarin? Pertama inget ini dulu : kalo minta diajarin, bikin orangnya mau ngajarin."


"Tapi kamu kan udah janji—"


"Kamu juga udah janji." Kaki kanan Abimanyu mendorong meja pelan-pelan untuk mundur hingga sebuah ruang terciota di depan kakinya.


Rara terkejut luar biasa saat tubuhnya didorong berlutut persis di depan kaki Abimanyu yang terbuka.


"Kamu—"


"Minta maaf dulu." Abimanyu tersenyum penuh arti. "Baru saya mau ngajarin kamu sesuatu."


Dasar pria sialan!

__ADS_1


*


__ADS_2