
"Mas Abi, Mbak Rara kenapa enggak turun?"
Abimanyu menoleh pada adik sepupu Rara dan menjawab, "Dia keram perut. Mungkin nanti siang kalo udah baikan."
"Yah, enggak ikut dong, Mas, ke pantai? Padahal Mbak Rara kan suka pantai."
"Nanti Mas nyusul sama Rara." Abimanyu mengusap sekilas kepala mereka sebelum pergi membawa salad buah dan sebotol air kelapa segar untuk Rara di kamar.
Di atas tempat tidur, wanita itu tampak lemas menunggu Abimanyu datang.
"Minum dulu." Abimanyu menyerahkan air kelapa padanya. Duduk memandangi wajah Rara yang pucat tanpa make up sama sekali. "Udah baikan?"
Rara memijat kepalanya seraya meringis. "Aku bingung kenapa orang-orang pada ngobat. Rasanya enggak enak sama sekali."
Kenapa mereka meminum sesuatu yang membuat mereka pusing sampai rasanya mual?
"Itu sama aja kayak alkohol." Abimanyu menyendok salad buah ke mulut istrinya. "Bikin kamu muntah-muntah habis minum tapi ujung-ujungnya kamu minum juga berkali-kali."
Rara mengerutkan keningnya tanpa henti. Masih merasa pusing dan aneh walau tidak seperti semalam. Kemarin bahkan Rara tak peduli ia berguling-guling di lantai.
"Kamu enggak boleh makan apa-apa hari ini."
Rara terbelalak. "Eh?"
Tapi Abimanyu menatapnya dengan alis menukik tajam. "Hari ini minum air kelapa dua liter, jangan makan nasi atau apa pun selain yang aku kasih."
".... Kamu marah?"
"Bisa-bisanya kamu beneran minum obat yang dikasih ke kamu. Otak kamu kebetulan enggak kamu bawa kemarin atau karena tengah malem jadi otak kamu istirahat? Gimana kalau mereka masukim obat yang lebih gila dan aku di tempat lain percaya kamu bisa jagain diri kamu sendiri?"
Rara menunduk. "Aku cuma mikir mereka enggak bakal percaya kalau aku enggak minum depan mereka," gumamnya takut-takut. "Terus aku pikir sekali aja jadi ...."
"Jadi apa?" balas Abimanyu ketus.
"La-lagian mereka kan bawa aku pulang ke kamar. Mereka enggak mungkin sengaja bahayain orang yang bakal jadi langganan mereka jadi aku ... maksud aku ... aku ...."
Abimanyu mimicing. "Mereka ngomong sesuatu yang bikin kamu marah?"
Entah kenapa Rara menahan napas saat itu juga. Kepalanya terasa sakit saat ia mengingat omongan aneh dari wanita entah siapa itu. Tapi ketika Rara melihat Abimanyu, Rara tahu ia tak boleh jujur.
Juwita adalah ranjau. Jangan pernah menyentuhnya sembarangan di depan Abimanyu.
__ADS_1
"Cuma soal Sakura." Rara membuka mulut, minta disuapi lagi sekaligus mengalihkan perhatian. "Namanya juga pelakor. Ya jelas enggak bebas dari sindiran orang."
Untungnya Abimanyu percaya.
*
"Aku laper." Rara mengeluh setelah cukup lama dirinya duduk di bawah kursi santai, memandangi bentangan pantai dan sepupu-sepupunya yang asik bermain. "Bi, cemilan aja dikit enggak boleh?"
Abimanyu justru mengambil botol minuman dua liter berisi air kelapa. "Nih."
"Bukan minum, Bi, makan."
"Gak." Abimanyu menyodorkan sedotan dari botol, memaksa Rara untuk minum. "Minum, Ranaya."
Rara meminumnya malas-malasan. "Kamu tau enggak sih kesiksanya orang haid bolak-balik pipis?"
"Gak."
"Nyebelin!"
"Ini buat detoks." Abimanyu meletakkan kembali botol itu ke atas meja. "Ngurangin makan mempercepat proses detoksifikasi badan kamu."
Rara cemberut. Perutnya lapar dan walaupun Rara tahu ia juga tidak akan mati kalau tidak makan sehari, manusia kan paling tidak bisa kalau disuruh berhenti makan. Tapi cemberut di wajah Rara langsung berubah saat Abimanyu menyodorkan potongan jeruk ke mulutnya.
"...." Rara membuka mulutnya ragu-ragu, menerima suapan itu. "Kamu jenis cowok romantis, emangnya?"
"Hah?"
Rara menatap tangan Abimanyu yang kini sibuk menghilangkan serabut putih dari jeruk di tangannya. "Sakura dulu selalu bikin konten soal kamu romantisin dia. Suka ngasih bunga, suka ngasih kejutan, itu emang kamu? Maksud aku, itu real kamu terlepas dari Sakura pura-pura?"
".... Bukan." Abimanyu kembali menyuapkan potongan jeruk ke mulut Rara. "Ngasih bunga, ngasih surprise atau yang Sakura tunjukin itu skill buaya."
"Harus banget kamu bilang skill buaya?" Rara mendengkus.
"Skill cowok brengsek, kalo gitu." Abimanyu tersenyum miring. "Laki-laki itu beradaptasi. Brengsek enggak brengsek itu pilihan. Waktu masih kuliah cara biar cewek yang bisa dibrengsekin banyak ya harus nurutin kemauan cewek. Yang kalian bilang 'romantis'."
Rara mencubit lengannya. "Brengsek!"
Tapi Abimanyu cuma tertawa, menyuapkan potongan jeruk lagi padanya. "Romantis yang mungkin udah jadi karakter saya itu kayak gini."
"Ini bukan skill cowok brengsek juga?"
__ADS_1
"Enggak, ini habit." Abimanyu mengambilkan air kelapa lagi dan membantu Rara minum seolah sudah sangat terbiasa. "Udah kebiasaan dari Juwita."
Rara seketika menegang.
"Waktu pertama kali ngelahirin, Juwita pendarahan parah. Dia ngerasain sakit dua kali lipat setelah ngelahirin Lila dan itu sempet bikin dia trauma. Aku sama Banyu jadi terbiasa nemenin Juwita, bikinin makanan, nyuapin, nyisir rambutnya, hal-hal yang keterusan sampe adek-adek aku yang lain lahir."
"Kamu kayaknya emang sedeket itu sama Tante Juwita."
Rara merasa tegang sendiri dengan kalimatnya. Ia berusaha untuk pura-pura lupa terhadap perkataan wanita asing di klub kemarin, namun sekarang itu malah memenuhi pikirannya.
Dia bilang Abimanyu mende-sahkan nama Juwita. Dia bilang tuduhan perselingkuhan itu bukan tuduhan. Rara tak mau mempercayainya tapi manusia itu semakin menolak sesuatu justru semakin terikat padanya.
Semakin Rara menolak percaya, semakin ia merasakan curiga.
"Kamu enggak berterima kasih?"
"Eh?"
Abimanyu tersenyum. "Kalau aku enggak punya kebiasaan dari Juwita kamu kira gampang perlakuin kamu kayak princess? Laki-laki kalau enggak diajari romantis sampe matahari terbit di Selatan juga enggak akan bisa."
Prua itu mendekat, mengecup bibir Rara mesra. "Berterima kasih sama Ibu saya."
Rara tertawa kecil. Tidak boleh. Kebahagiaan yang sudah ia pegang ini, ketenangan yang sudah ia genggam ini, jangan sampai rusak sebagaimana Sakura merusaknya.
Abimanyu bilang itu bohong jadi itu pasti bohong.
*
"Video-nya udah diupload, Mbak."
Anita mengangguk berterima kasih pada timnya. Baru saja mereka mengupload video unboxing kado Rara yang sempat tertunda karena perkara Caca, juga karena Rara meminta tanggal upload videonya disamakan dengan tanggal bulan madunya.
Tapi setelah menerima kabar itu Anita justru terdiam kosong.
Rara yang sekarang telah jauh berbeda dari Rara dulu. Dia sekarang berani bertindak, bahkan sudah menjatuhkan dua orang sekaligus untuk dia menduduki posisinya sekarang.
Sejujurnya Anita tidak peduli itu tindakan benar atau salah. Anita tidak mau mengurus dosa dari Rara atau pantaskah Sakura dan Caca menerima karma. Namun Rara ... sepertinya tidak menyadari masalah apa yang dia ciptakan.
"Mbak, ada sesuatu yang kayaknya mau dilakuin sama Caca," kata Hana kemarin saat mereka semua bertemu. "Dia sekarang dendam banget sama Rara, Mbak, sampe-sampe dia nyoba hubungin Sakura."
"Berhasil?" tanya Anita mau tak mau.
__ADS_1
"Aku sih enggak ikut campur banyak, Mbak, tapi Caca keliatannya udah yakin banget. Udah pasti sih ini bakal ada drama besar buat Rara."
*