
Rara sempat bertanya-tanya di mana Olivia ketika dia selalu ada di sisi Abimanyu, tapi melihat hari ini Olivia muncul dengan tampilan berantakan, Rara langsung tahu dia bekerja keras menggantikan Abimanyu.
"Abimanyu mana?" tanya perempuan itu langsung.
"Lagi istirahat." Rara bergeser memberinya jalan. "Masuk aja."
Untuk sekarang Rara belum berada di posisi bisa cemburu pada Olivia. Dia terlalu berjasa dalam hidup Abimanyu.
Tapi sebagai istri Abimanyu, Rara ikut masuk mengikutinya karena tak mungkin juga ia membiarkan suaminya berduaan dengan mantan selingkuhan dia.
"Olivia?" Abimanyu mengerutkan kening. "Lo abis ngapain?"
"Ngeberesin sisa-sisa urusan lo sama Tomoya, jelas. Lo kira buat apa lagi gue idup di dunia kalo enggak ngurusin lo?" sarkas perempuan itu.
Tapi tangannya terulur, menyentuh kening Abimanyu. "Lo gimana? Inget sampe mana?"
Abimanyu menepis tangan itu risi. Dia mendelik jengkel karena cara Olivia memberi kesan Abimanyu itu anak kecil. "Lo mau laporan soal apa?" tanyanya on point.
Untuk sesaat ekspresi Olivia terlihat muram. Tapi perempuan itu menghela napas, menoleh pada Rara. "Lo bisa keluar sebentar, Ra? Ini urusan penting soalnya."
Rara berencana keluar kalau memang dia merasa harus begitu, namun Abimanyu ternyata berkata, "Biarin. Rara orang gue juga."
".... Gitu." Olivia melirik Rara dan tak bisa menyembunyikan kesan dia terluka.
Rara merasa tidak enak padanya walaupun ia tidak bisa membantu dengan apa pun. Pada akhirnya itu hak Abimanyu membalas rasa Olivia atau tidak.
"Abimanyu." Olivia akhirnya fokus pada Abimanyu. "Lo pernah hamilin cewek?"
"Hah?" Abimanyu cengo, begitu pula Rara. "Lo ngomong apa—"
"Hari ini ada perempuan datengin bokap lo."
Abimanyu pelan-pelan tertegun saat otaknya bekerja mencerna cerita Olivia.
"Dia bawa bayi tiga bulan dan ngaku kalo itu anak lo. Lo enggak mau tanggung jawab jadi lo ninggalin dia."
Abimanyu bahkan tak sadar tangannya yang sakit menyambar lengan Olivia.
"Lo kira gue gila?!" bentaknya tanpa kendali. "Lo percaya cerita begituan, hah?! Harusnya lo yang paling tau dari dulu gue enggak pernah sampe hamilin anak orang!"
"Gue juga ngerti, brengsek!" Olivia membalas frustrasi. "Lo kira gue percaya gitu aja?! Kalo gitu sekalian semua cewek yang hamil ngaku dihamili sama lo!"
"Terus kenapa lo—"
"Masalahnya!" Olivia menarik napas setelah itu, berusaha mengucapkannya dengan lebih tenang. "Masalahnya, Bi ... itu anak emang mirip lo."
__ADS_1
"Bullshiit." Abimanyu terhuyung. Jatuh terduduk di ranjangnya, meremas kuat-kuat kepala yang seharusnya masih terluka itu. "Bullshiit."
Dia lantas menutup wajahnya.
"Fu-ck, fu-ck, fu-ck, fu-ck!"
Rara seperti mendengar suara petir di siang bolong. Lututnya mendadak terasa lemas.
Wajah orang dewasa bisa diubah lewat operasi. Seperti Kisa yang wajahnya begitu mirip dengan Juwita. Tapi wajah anak kecil itu ... tidak mungkin, kan? Terlebih dia masih bayi sekian bulan. Dia bahkan belum minum air bening, mustahil wajahnya dioperasi agar mirip dengan Abimanyu.
Kalau begitu besar kemungkinan itu ... anaknya Abimanyu.
"Lo gimana?" Olivia tiba-tiba berbalik padanya. "Menurut lo gimana?"
Abimanyu tersentak. "Olivia!" serunya panik seolah-olah takut mendengar jawaban Rara.
Padahal baru kemarin Abimanyu merasa sangat dekat. Padahal baru kemarin mereka mengungkapkan isi hati masing-masing. Abimanyu takut jawaban Rara berubah.
Tapi Olivia menolak mendengar Abimanyu.
"Abimanyu kayak gini. Dia selalu kayak gini." Olivia menekankannya. "Menurut lo gimana?"
Maukah dia menerima Abimanyu sekalipun dia begitu kotor? Rara jelas menyadari itu makna pertanyaan Olivia.
"Rara." Abimanyu mendadak terlihat putus asa.
Mereka berdua kontan saja tertegun. Normal seharusnya jika Rara marah. Namun apa katanya?
"Emangnya kalo gue ngomentarin sesuatu, status anaknya berubah? Atau kalau gue marah, anak yang ada mendadak enggak ada?"
Olivia terbungkam.
Rara mendekati Abimanyu, mengulurkan tangan pada wajahnya dan tersenyum lagi. "Enggak pa-pa. Masa lalu ya masa lalu, tapi kalo misalkan bekasnya ada atau dampaknya dateng, bukan berarti kita lepas tangan."
"...."
"Kamu mesti tanggung jawab kalau emang itu anak kamu."
Tapi waktu kedatangan anak itu terlalu kebetulan. Terlalu pas sampai rasanya direncanakan.
Sakura. Begitu dia berhenti jadi bodoh, perempuan itu menyerang dengan cara yang tidak kira-kira.
*
Abimanyu melepaskan perban di kepalanya sendiri. Dibuang benda itu ke tempat sampah, menatap wajahnya yang menurut Abimanyu dipenuhi lumuran dosa.
__ADS_1
Satu per satu hal mulai berdatangan di hidupnya sekarang. Abimanyu bukan merasa takut. Bukan ia merasa tak mampu. Tapi Abimanyu tidak ingin melukai orang yang ia cintai lagi.
"Lo tuh anak setan, Bang." Itu yang Banyu pernah katakan padanya saat mereka bertengkar dulu. Dan Abimanyu mungkin diam-diam setuju padanya.
"Ada sesuatu yang aku lupa soal kamu, Rara." Abimanyu mengepal tangannya dan terpejam. "Ada sesuatu soal kita yang aku enggak inget. Aku mau inget."
Tapi ... sekarang Abimanyu merasa sebaliknya.
Mungkinkah seharusnya ia tak perlu ingat? Mungkin kalau ia ingat maka perempuan itu, perempuan yang sekarang sangat ia sayangi itu, justru akan terluka?
Juwita begitu sering menangis karena Abimanyu. Dia begitu sering terisak-isak karena kelakuan Abimanyu. Apa Rara juga akan mengalami hal sama jika dia terus terlibat dengan Abimanyu?
Bagaimana jika ini diteruskan, dosa demi dosa yang meminta penebusan itu berdatangan, Rara di sampingnya bukan bahagia tapi malah ikut menanggung dosanya?
"Ranaya."
Nama asing itu entah kenapa terasa sangat nyaman diucapkan olehnya. Dan kini nama itu justru mengingatkan Abimanyu pada Rara.
Wanita setelah Juwita yang membuat Abimanyu ingin meruntuhkan dunia ini untuknya.
"Aku cuma potongan puzzle yang enggak cocok di semua tempat," bisik Abimanyu saat mengingat percakapan mereka sebelumnya. "Mungkin sama kayak Juwita yang lebih cocok sama Papa, kamu mungkin lebih cocok sama orang lain."
Jujur saja Abimanyu tidak berencana menyakiti Rara sama sekali. Bahkan ia tak mau membuatnya menangis.
Tapi Abimanyu tidak percaya diri memberinya kebahagiaan. Abimanyu tidak percaya pada dirinya sendiri bahwa ia mampu membuat wanita itu nyaman dan bahagia bersamanya.
"Olivia." Begitu keluar dari kamar mandi, Abimanyu langsung memanggil sahabatnya itu. "Cewek yang ngaku sama anak gue sekarang di mana?"
"Sama bokap lo."
"Juwita udah tau?"
"Kemungkinan belum. Bokap lo nungguin kepastian lo dulu."
"Panggil dia ke markas." Abimanyu berjalan turun setelah beberapa hari hanya beristirahat. "Bilang sama bokap gue Juwita enggak perlu tau. Ini masalah gue pribadi."
"Oke."
Ketika Abimanyu sampai di lantai bawah, Rara menyadarinya dari dapur. Wanita itu berlari mendekat, bersama botol termos di tangannya.
"Aku bikin jamu buat kamu. Minum sebelum jam enam, yah."
Abimanyu menatap itu sekilas sebelum ia berlalu tanpa suara.
Demi kebaikan Rara sendiri, sampah tidak berguna sepertinya harus tahu diri dan menjauh. Tidak perlu bagi Rara bertahan di sampingnya kalau yang ada di sekitar Abimanyu hanyalah duri menyakitkan.
__ADS_1
*