
Dan memang benar, Abimanyu tidak datang karena gadis ini butuh bantuannya. Abimanyu datang karena memperlihatkan pada Sakura ia lebih peduli pada Rara, bukankah itu menyakitkan?
Mobil terus bergerak menuju klinik kecantikan untuk memastikan luka Rara tidak membekas lama. Begitu sampai Abimanyu menyuruhnya turun duluan, agar ia bisa membuat kesepakatan dengan supir taksi.
"Bapak enggak liat apa-apa," ucapnya sebagai isyarat lalu mengulurkan lembaran uang lebih untuk tutup mulut.
Di luar, Rara cukup tahu perbuatan Abimanyu.
"Kalo ada yang ngeliat kamu sama saya terus ngambil foto, kentara banget kita selingkuh. Mending kamu pulang."
Abimanyu tahu dan ia memutuskan buat tetap melakukannya. Kenapa?
Karena Abimanyu tidak percaya pada Rara. Abimanyu tidak mengandalkan Rara seratus persen. Abimanyu ingin 'menggunakannya'. Memanipulasinya. Akan jauh lebih baik kalau dia jatuh cinta pada Abimanyu, sungguhan menjadi selingkuhannya.
Dengan begitu Abimanyu bisa lebih banyak memanfaatkan kegunaannya. Untuk itulah Abimanyu akan bersikap manis, menjadi pria idaman yang mustahil bisa ditolak oleh instingnya sebagai wanita.
"Masuk," kata Abimanyu singkat, tak membalas soal kekhawatiran Rara.
Merasa percuma berdebat, Rara pun berjalan masuk. Duduk di ruang tunggu tertutup dan diperlakukan sangat baik seolah mereka tamu kehormatan.
Rara tahu itu karena Abimanyu. Tapi kalau dipikir ulang, sebenarnya dia ini siapa?
"Luka kamu mana?"
Rara spontan menyentuh wajahnya. "Emang kenapa?"
"Tunjukin."
"Kamu bukan dokter, ngapain kamu yang liat," tolaknya terang-terangan.
Abimanyu tak menjawab tapi mengulurkan tangan, menarik tangan Rara agar berhenti menutup luka itu. Rara menahan napasnya ketika suami Sakura itu mendekat, menatap lekat pada luka di wajahnya.
Aroma tubuh Abimanyu mau tak mau memenuhi penciuman Rara. Matanya gelisah melihat ke arah lain, sebab kalau ia fokus ke depan, Rara akan langsung menemukan wajah tampan pria Jawa berkulit kuning langsat ini.
Jantung Rara berdebar berbahaya. Ia jarang berdekatan dengan pria. Orang tuanya sangat ketat melarang soal pacar-pacaran hingga Rara pun berusaha keras menghindari. Tapi sebagai perempuan normal, Rara tidak bisa membohongi dirinya.
Abimanyu memang tampan mau dia suami orang sekalipun.
"Udah." Merasa sudah sangat bahaya, Rara buru-buru mendorong Abimanyu. "Enggak perlu kamu liat segitunya."
Abimanyu cuma diam.
"Kenapa sih kamu nikah sama Sakura?" Untuk meredam perasaan gelisahnya, Rara putuskan mengajukan pertanyaan saja. "Kalo emang dari awal kamu punya masalah sama dia, kenapa kamu nikah sama dia? Atau kalian dijodohin?"
__ADS_1
"Saya yang mau," jawab Abimanyu jujur.
"Kalo gitu kenapa kamu mendadak enggak mau?"
"Emang kalo kamu punya suami yang enggak tau hormat sama orang tua kamu, perasaan kamu ke dia masih sama?"
"Kalo gitu kenapa enggak dari dulu aja cerai? Dari awal masalah. Kenapa harus nunggu lima tahun?"
"Mama tiri saya emang nikah demi uang."
Rara terkejut mendengarnya. Bukankah kalau begitu mama tirinya juga buruk?
"Dia butuh uang buat orang tuanya dan Papa saya yang bantuin dia. Tapi dia juga tulus ngurusin anak-anak tirinya. Orang jarang peduli soal itu. Yang dia liat cuma perempuan muda nikah sama duda demi uang biar dia hidup enak. Makanya hubungan mama saya sama keluarga jadi buruk."
"Kalau saya baru nikah terus cerai waktu itu, menurut kamu siapa yang paling disalahin? Pasti mama tiri saya. Dia terlalu muda untuk ngurusin anak tiri yang udah besar. Hidup saya yang rusak, yang saya rusakin, itu bakal jadi tanggung jawab dia di mata orang."
Abimanyu menoleh. "Makanya butuh lima tahun buat saya buktiin ke semua orang saya sekarang ya saya. Enggak perlu kenal saya anak siapa, karena semua yang saya lakuin enggak ada hubungannya sama orang tua saya."
"Makanya kamu butuh selingkuhan?" tanya Rara setelah menangkap ceritanya. "Kamu enggak masalah citra kamu yang jelek?"
"Saya enggak punya waktu ngurusin omongan orang. Mau mereka bilang saya badjingan sialan juga urusannya sama saya enggak ada."
Asal mama tirinya tidak disalahkan, dia tidak masalah mengkambing hitamkan dirinya sendiri.
Sekarang Rara mengerti kenapa Abimanyu tidak peduli pada nasib Sakura.
"Begitu kamu cerai peran saya juga bakal selesai, kan?"
"Belum."
Eh? Bukankah seharusnya sudah?
"Jauh lebih bagus kalau hubungan saya sama kamu berlanjut sampai satu tahun."
"Kenapa jadi—"
"Karena saya minta kamu jadi selingkuhan bukan karena saya mau jatuhin kariernya Sakura di sosial media." Abimanyu berpaling. "Saya minta kamu jadi selingkuhan buat Sakura secara pribadi. Terus terang kalau kasus ini enggak viral pun saya enggak peduli. Asal Sakura tau. Tapi saya bikin viral karena kamu butuh itu."
Rara putuskan buat diam, berhenti bicara di sana. Ia tak tahu lagi harus bicara apa dan merasa akan semakin berbahaya jika ia teruskan di sini.
Rara bersyukur ketika akhirnya dokter bisa menemuinya, memeriksa luka bekas cakaran Sakura. Untung saja lukanya tidak terlalu parah, dokter cuma memberi salep luka sekaligus penangan untuj bekasnya nanti.
Mereka keluar dengan cepat dari klinik, tapi ketika akan masuk ke mobil, ponsel Abimanyu bergetar. Pria itu tidak bicara dan mendengar keperluan dari seberang sana, baru menutupnya.
__ADS_1
"Anak buah saya bakal nganter kamu pulang." Abimanyu menarik pintu untuk Rara tanpa menjelaskan apa-apa.
Entah kenapa Rara merasa dari ekspresinya, Abimanyu terlihat muram.
*
"Asmanya kambuh," kata Banyu, adik Abimanyu yang ia temui di rumah sakit.
Ya, telfon yang tadi Abimanyu terima adalah kabar bahwa Juwita, mama tirinya masuk rumah sakit setelah bertengkar dengan orang tuanya Sakura.
"Bang, lo gila apa?" Banyu berucap lagi. "Peduli setan lo selingkuh sama siapa tapi lo tau Juwita enggak mau sampe orang-orang denger soal lo suka sama dia. Ini lo malah nyebarin ke semua orang sekarang?"
"Enggak ada yang nyebarin gue suka sama Juwita. Itu berita soal Sakura nuduh gue selingkuh sama Juwita," sangkal Abimanyu walau sebenarnya sama saja.
"Lo tau buat Juwita itu fakta, bangsat!" Banyu menyambar kerah pakaian Abimanyu penuh emosi. "Mau bikin apa lagi lo, Bang? Lo bilang mau ngurusin sendiri tapi ujung-ujungnya Juwita juga yang kena lagi!"
Abimanyu menepis tangan Banyu. Kakinya melangkah pergi ke ruangan Juwita dirawat, diam-diam mengintip dari kaca bagaimana wanita itu sedang berbaring di tempat tidur rumah sakit, diberi alat bantu pernapasan dan dikelilingi oleh anak-anak perempuannya.
Syukurlah, paling tidak dia tidak terluka secara fisik. Nampaknya hanya asma Juwita yang kambuh.
"Kamu tau Juwita enggak suka diekspose di berita," ucap suara tenang yang akrab. Suara Adji, papanya Abimanyu. "Papa udah bilang sama kamu dari kemarin."
Abimanyu menoleh tanpa ekspresi. "Maaf soal ini, tapi soal berita itu emang sengaja."
"Dendam sama sesuatu sampe berlarut-larut itu kerjaan perempuan, Abimanyu. Kamu bukan perempuan."
Abimanyu tak membalas tapi memutuskan pergi. Setidaknya ia sudah memastikan bahwa Juwita baik-baik saja. Daripada itu Abimanyu bergegas menemui anak buahnya yang bertanggung jawab dalam hal pengawasan.
"Gue nyuruh kalian pastiin enggak ada yang deketin Juwita, kan?" Suara dingin Abimanyu membelai telinga mereka. "Gue tanya kenapa Juwita sampe bisa masuk rumah sakit?"
"Sori, Bos," sahut mereka pelan. "Kita enggak tau kalo mertua lo juga termasuk."
Jadi mereka membiarkannya lewat karena itu mertua Abimanyu?
"Tanya gue kalo enggak tau. Pernah gue enggak jawab pertanyaan kalian?"
Abimanyu mengepal tangannya diam-diam untuk menahan kesal. Ia merasa sangat marah tapi ia juga tak bisa seenaknya melampiaskan amarah pada mereka.
"Mulai sekarang enggak ada yang boleh masuk ke perumahan Juwita mau itu keluarga. Langsung telfon gue buat izin dulu."
"Siap, Bos."
"Tingkatin keamanan dua kali lipat. Bilang sama pihak rumah sakit semua kunjungan buat Juwita, atas nama siapa pun, ditolak."
__ADS_1
*