Abimanyu : Pelakor Sewaan

Abimanyu : Pelakor Sewaan
64. Aku Sayang Kamu, Rara


__ADS_3

"As expected lo balik." Olivia berkomentar demikian ketika Abimanyu muncul. Tentu saja mudah menebak demikian karena Olivia juga sudah melihat berita. "Rara gimana?"


"Gue serahin ke dia," kata Abimanyu. "Terserah dia mau jelasin sejauh apa ke orang tuanya."


"Kalo lo disuruh cerai?"


Abimanyu terdiam sebelum menjawab, "Kalo orang tuanya Rara tetep nyuruh cerai gue bakal cerai."


Karena alasan mereka meminta putri mereka bercerai adalah untuk kebaikan Rara sendiri. Di mata mereka pasti jelas. Daripada menyuruh Rara bertahan di sisi pria rusak dan berantakan seperti Abimanyu, masa depan Rara akan lebih cerah bersama orang lain atau mungkin sendirian saja.


Tidak ada orang tua di dunia ini yang cukup waras untuk membiarkan anak mereka jadi istri badjingan.


"Gue sayang banget sama dia." Abimanyu tersenyum. "Makanya jangan sampe dia durhaka gara-gara gue."


Olivia mengamati Abimanyu sebelum berkata, "Lo udah berubah total."


"Berubah?"


"Lo enggak inget? Dulu lo cuma ngelakuin semuanya buat ngelampiasin perasaan lo. Lo sayang sama nyokap lo tapi dia nyokap lo makanya lo grasak-grusuk kesana-kemari ngerusakin hidup orang."


Abimanyu tertegun.


"Yah, mungkin bisa dibilang lo sekarang udah dewasa beneran? Enggak cuma mentingin perasaan lo sendiri."


Abimanyu mengatup mulutnya. Ingatan demi ingatan yang tak beraturan kini berputar di kepalanya. Abimanyu dapat melihat dirinya di masa lalu.


Kacau. Sakit jiwa. Tidak layak. Sinting. Tolol.


Entah sejak kapan semua itu tidak lagi sama.


"Liv—"


"Enggak usah." Olivia tiba-tiba menghentikannya bahkan sebelum ada sesuatu yang keluar dari mulut Abimanyu. "Enggak perlu."


Seolah dia tahu Abimanyu mau minta maaf atas semua yang terjadi di antara mereka.


"Yang mutusin tetep di sini itu gue. Gue enggak ngelakuin semuanya buat lo doang. Gue juga ngambil untung. Kalo lo enggak tau gue pake duit lo buat beli BMW enggak bilang-bilang."


Abimanyu menghela napas. Keuangannya memang dipegang oleh Olivia nyaris keseluruhan. Tapi memang Abimanyu juga yang berkata pada Olivia untuk mengambil kapan saja dia mau.


"Hasil tes DNA Abirama udah keluar?"


Karena tes dilakukan di laboratorium pribadi Mahesa Mahardija, seharusnya hasil itu keluar cepat. Dan sesuai dugaan, Olivia mengulurkannya.


Abimanyu tidak perlu banyak ekspresi saat melihat hasil tes itu memastikan hubungan darahnya dengan Abirama.


"Terus Rama di mana?"


"Sama nyokap lo."


Abimanyu terkejut. Bagaimana bisa Olivia tidak langsung memberitahunya kalau Juwita—

__ADS_1


"Oh, Papa udah pulang." Suara Juwita tambah mengejutkan Abimanyu. Pria itu berbalik, melihat ibu tirinya sedang menggendong Abirama yang tengah menyusu lewat dot. "Halo, Papa."


"Juwita." Abimanyu hanya bisa terpaku.


"Halo, Cahku." Juwita tersenyum. "Kamu dipanggil apa sama anakmu? Papa? Ayah? Papi?"


"Dia maunya dipanggil Baginda Raja, Tante." Olivia malah menyahut santai.


Juwira terkekeh. "Jangan papa deh, yah. Daddy gimana, Liv? Cocok enggak?"


"Uwwek, enggak cocok banget, Tante. Daddy Abimanyu. Geli!" Olivia pergi menusuk-nusuk pipi gembul Abirama. "Ato gini aja, Rama, kamu manggilnya Orangutan aja."


Abimanyu butuh waktu mengendalikan diri. "Juwita." Pria itu mendekat, menatap wajah ibu tirinya lekat.


Perasaan berdebar dan rasa cinta menggebu-gebu dulu sudah hilang tanpa bekas dari Abimanyu. Wanita yang ia lihat di depan matanya tak lagi membuat Abimanyu ingin gila, namun justru merasa bersalah.


"Lo enggak marah sama gue?" tanya Abimanyu pelan. Karena seharusnya Juwita marah atau bahkan juga sangat kecewa. Pada akhirnya Abimanyu membuat masalah lagi dan menyusahkan dia lagi.


Juwita malah tersenyum. "Kamu tau kamu salah, kan?"


".... Iya."


"Kamu udah nyesel?"


".... Iya."


"Janji enggak bakal kamu ulangin lagi, kan? Kamu udah mau berubah buat kebaikan diri kamu sendiri kan?"


".... Iya."


"...." Abimanyu pelan-pelan ikut tersenyum. Senyum kecil yang samar namun memperlihatkan bahwa hatinya sekarang lebih tenang.


"Aku udah ketemu sama Kisa." Juwita pun membuka topik lain, alasan lain pula ia datang ke sini. "Banyu bilang kalau kemungkinan Kisa dateng ke sini, terus Dian muncul bawa anak kamu, itu emang cuma buat jatuhin kamu dari Aliansi."


"Sakura pasti pulang."


Abimanyu menatap anaknya yang sudah berhenti menyedot isi dot, tampak pelan-pelan mau tidur di lengan ayahnya.


"Udah jelas dia nyiapin banyak amunisi sebelum muncul."


Olivia langsung menghela napas. "Gue cuma takut Sakura ngejual informasi negara ke negara lain cuma buat ngebales lo. Itu keterlaluan sih, buat semua orang."


"Ngeliat sejauh ini udah jelas kan dia dibacking negara lain." Juwita menimpali. "Banyu bilang kalau berita soal Abimanyu tadi itu dikirim anonim ke akun gosip. Orang yang punya akses informasi Abimanyu kan cuma kita, sedikit orang dari Aliansi ... sama Sakura yang nyembunyiin Dian kemarin-kemarin."


"Kalo dibiarin lama malah ngasih keuntungan ke Faksi Anti-Mahardika," balas Olivia sebelum menghela napas. "Menurut lo gimana, Bi?"


Abimanyu terdiam. Mengamati wajah anaknya sambil memikirkan jawaban untuk pertanyaan Olivia.


"Perang," jawavnta setelah itu.


"Aliansi baru perang kemarin."

__ADS_1


"Bukan Aliansi." Abimanyu mengamati Juwita. "Gue. Sendiri."


Itu sama saja bunuh diri. Tidak, itu bukan cuma bunuh diri tapi bahkan seperti meminta dibunuh dengan cara paling keji.


"Yang ngelepasin Sakura dengan pikiran dia enggak bakal ngapa-ngapain itu gue. Diliat dari situasi juga Aliansi pasti udah kesel sama masalah pribadi gue yang terus-terusan diangkat ke publik. Kalo mau tanggung jawab gue perlu nyari Sakura sendiri dan bawa dia ke sini—atau gue mati di sana."


"...."


"Gue boleh pamit, Juwita?"


Juwita tersenyum meski tak bisa menyembunyikan takut dan sedih di matanya. "Mau laki-laki mau perempuan kalo buat nyelesaiin masalah yang dibuat sendiri, emang harus berani nanggung risiko."


"...."


"Pergi aja. Anak kamu aman sama aku."


*


Rara hanya mengurung diri di kamar setelah semuanya. Sesekali ia membuka ponselnya, melihat banyak tawa mengejek datang ke akun instagramnya karena berita ia ditikung oleh pelakor.


Tidak ada respons apa pun dari Abimanyu. Tidak ada bantahan atau apa pun seakan-akan dia tak peduli pada banyaknya orang mengecap dia brengsek di dunia ini.


Rara juga tidak peduli lagi. Jauh di hatinya ia merasa bahwa ini adalah karma. Tapi karma ataupun yang lain Rara tidak mau tahu.


Yang ia harapkan hanya Abimanyu baik-baik saja dan cepat datang menjemputnya.


Baru saja Rara berpikir begitu, telepon masuk dari nomor baru mengusiknya.


"Halo?"


"Ranaya."


Abimanyu? Rara langsung terduduk. Ponsel Abimanyu ada di tangan Rara dan belum ia berikan jadi itu ia tak mengenali nomor ini.


"Bi? Kamu di mana? Kamu enggak pa-pa, kan?" tanya Rara beruntun. "Aku udah jelasin ke Mama sama Papa, Bi. Aku juga enggak bentak-bentak mereka. Aku udah minta maaf jadi—


"Aku enggak pa-pa." Abimanyu menjawab singkat. "Ranaya, dengerin aku."


Rara merasa jantungnya diremas tanpa alasan. Kenapa suara Abimanyu yang lemah malah terdengar menakutkan?


"Dua minggu," ucap pria itu. "Kalau aku enggak jemput kamu dua minggu dari sekarang, berarti aku ... udah pergi."


"Jangan!" teriak Rara seketika. "Enggak boleh! Bilang kamu pasti pulang dulu baru pergi!"


"Maaf." Abimanyu di sana malah tersenyum. "Aku masih enggak inget mau bilang apa tapi seenggaknya aku mau bilang ini ...."


"AKU ENGGAK RELA KAMU PERGI! KAMU DENGER?! AKU ENGGAK TERIMA!"


"Aku sayang kamu, Ranaya."


Panggilan dimatikan dan meski Rara berusaha menghubungi lagi, nomor itu sudah tidak aktif lagi.

__ADS_1


*


hari ini sebenernya enggak up lagi, soalnya lagi di rumah sakit dampingin nenek operasi (mohon doanya🙏) tapi yaudah, gantinya mungkin besok berhalangan up. mohon maap yah 🙏🙏


__ADS_2