
Mungkin seumur hidup Banyu, ini adalah salah satu momen di mana ia terlalu terkejut untuk bisa merespons apa-apa. Anak itu hanya termagu, kosong menatap ibu tirinya yang baru saja melontarkan pertanyaan sangat ... sangat berbahaya.
"Abangmu enggak bakal pulang lagi," kata Juwita muram. "Aku tau. Enggak perlu dia ngomong, aku tau. Ini beda dari waktu dia pergi sama Sakura."
Keputusan Abimanyu kali ini mungkin adalah sesuatu yang tidak akan pernah dia batalkan, bahkan meski Juwita dan Rara bersujud di kakinya.
Anak itu sudah menggenggam kuat keputusannya sendiri dan tidak akan berbalik lagi.
"Rara mungkin mau nunggu dia. Itu anak juga keras kepala." Juwita menjatuhkan dirinya di samping Banyu. Sekilas ia melirik kamera anak tirinya, di mana wajah Rose tampak sangat cantik. "Kalau aja Rara ketemu Abi sebelum dia jagain Rose, mungkin masih bisa. Tapi sekarang udah beda. Abangmu mesti jagain perempuan, mungkin satu-satunya perempuan, yang nyawanya sekecil semut tapi satu dunia bakal gerak nyariin dia, cuma buat mastiin dia mati sama Mahardika. Dengan kata lain Abangmu emang harus jauh-jauh dari keluarganya, dari kita semua."
Banyu mengeraskan rahangnya.
"Ngebatalin keputusan Abimanyu sekarang juga percuma. Makanya ... lebih baik mereka pisah."
"Juwita, Rara mau anak dari Bang Abi bukan gue. Lagian lo kira Rara mau nikah sama gue? Gue enggak mau, sama sekali sama istri abang gue, tapi kalo lo minta bakal gue nikahin."
Namun Rara jelas tidak mau, kan? Mungkin untuk alasan apa pun, dia tidak akan mau.
"Aku ... selalu ngeliat firasat buruk jadi kenyataan." Juwita memijat pelipisnya lelah. "Mungkin karena terus kepikiran yah?"
"Juwita—"
"Banyu." Wanita itu menoleh, menatap lurus mata anak tirinya. "Rasanya sama kayak hari kita nganterin Abi nikah sama Sakura. Aku enggak tenang, Nak."
"...."
Banyu hanya bisa diam. Mungkin setengah dari dirinya takut kejadian di masa lalu terulang. Banyu terlalu ikut campur urusan hidup Abimanyu, meski alasannya adalah peduli pada keluarga, lalu akhirnya justru ia (secara tidak sengaja) menjebak seorang wanita dalam pernikahan neraka sampai wanita itu bunuh diri.
Sakura.
"At least gue bakal jagain Rara. Buat itu aja, percaya sama gue, Juwita."
*
"Loh? Abang kok di rumah?" Begitu respons Lila saat melihat Abimanyu turun dari lantai atas di jam makan siang. "Abang kapan pulang?"
"Abang, Rama ikut enggak?" timpal Nia semangat.
"Enggak." Abimanyu tersenyum, menepuk puncak kepala adik-adiknya. "Rama di luar pulau sama Olivia."
"Heeeeeh, kok enggak diajak sih? Kita kan kangen!"
"Nanti kapan-kapan yah."
Rara cuma tersenyum melihat interaksi mereka. Walau dari dulu memang sudah melihat itu, entah kenapa rasanya Abimanyu jadi kebih dewasa. Cara bicaranya juga lebih lembut dan lebih gampang tersenyum.
"Bi." Rara menarik kursi untuknya, mengisyaratkan Abimanyu duduk di kursi seberang kursi Adji. "Duduk aja, biar aku yang ambilin makanan."
Abimanyu menurut.
__ADS_1
Tentu saja Abimanyu sadar bahwa Rara berusaha keras agar mereka terus berinteraksi. Dia mungkin tidak sadar atau sadar namun memilih tidak peduli, tapi sedikitpun tatapannya tidak beralih dari Abimanyu.
Dari sisi lain, Juwita memberi isyarat pada anak-anak agar tidak banyak mengajak Abimanyu bicara walau mereka juga merindukannya. Orang yang paling merindukan Abimanyu nanti adalah Rara, jadi entah berapa hari Abimanyu akan menetap, biarkan dia yang mengambil semuanya.
"Bi, kamu mau puding?"
Abimanyu menggeleng. "Kamu aja."
Rara tetap datang bersama dua porsi puding, meletakkannya di atas meja yang lebih dekat dengan Abimanyu.
Demi menghiburnya, Abimanyu mencicipinya sekalipun sedang tak ingin.
"Bukan pudingnya Juwita," kata Abimanyu seketika. "Bukan puding kamu juga, kayaknya."
Rara menyengir. "Iya. Nayla yang bikin."
"Pait."
"Pake seleranya Cetta. Tapi enak kok. Gulanya aja yang dikurangin terus cocoanya dibanyakin."
"Hmmm." Abimanyu tersenyum. "Enakan punya kamu sih."
Rara balas tersenyum senang.
*
Abimanyu memandangi senyum di bibir Rara bahkan ketika dia lagi-lagi tidur di pelukannya. Udara dingin bertiup lembut membelai kulit mereka, tapi Abimanyu buru-buru menarik selimut tipis dari sofa untuk melindungi Rara agar tidak terusik dari tidurnya.
"Manja banget," bisik Abimanyu, mencubit ujung hidungnya.
"Ketiduran?" tanya sebuah suara di belakang sofa.
Abimanyu berpaling, menemukan Adji berdiri di dekat pintu geser kaca, tengah menggendong Lia, anak bungsunya (untuk sekarang). Kayaknya kebiasaan anak-anak Juwita yang perempuan memang tidur digendong papa atau abangnya. Meskipun Abimanyu sudah tidak termasuk karena ia tidak terlalu akrab lagi dengan anak-anak Juwita setelah Yunia.
"Dia puas-puasin ngoceh, kayaknya." Abimanyu mengelus-elus kepala istrinya. "Dari pagi manja banget."
"Seenggaknya turutin."
Yah, makanya Abimanyu tidak mengeluh sama sekali. Sampai batas waktunya, ia tidak akan marah dengan apa pun yang Rara mau lakukan.
"Ngomong-ngomong, Pa ...."
"Hm?"
"Rumah yang aku kasih ke Rara kayaknya enggak dia pake sama sekali."
"Terus?"
Abimanyu menunjuk tanah kosong di bagian Timur kediaman ini. Tentu saja, tanah itu bagian dari halaman rumah. "Kalo enggak keberatan, aku mau bangun rumah buat Ranaya di sana."
__ADS_1
Rumah Adji sekarang ibarat sebuah istana. Bahkan meski diisi banyak anak dan selusin pembantu, masih sangat banyak ruang kosong yang mungkin sia-sia. Tapi Abimanyu memilih untuk memisahkan tempat Rara.
"Kalau Rara mau, Papa enggak keberatan."
"Nanti. Kalo aku udah pergi, baru Papa tanya. Enggak usah sekarang."
*
"Nak." Juwita menarik napas panjang, menatap dalam pada Rara yang terburu-buru membuat kopi, jelas untuk Abimanyu pagi ini. "Ibu mau ngomong zarma kamu sebentar."
Rara mengerjap. Jarang-jarang Juwita serius begitu. "Iya, Bu?"
Dari meja makan, Nayla berhenti menata piring dan berpaling, merasa bahwa ia akan mendengar sesuatu yang menegangkan. Apalagi ketika Juwita melangkah lebih dekat, berhenti persis di depan Rara dan mengambil cangkir kopi di tangannya.
Dengan lembut Juwita meletakkan cangkir itu ke meja, lalu meletakkan tangannya di kedua bahu Rara.
"Kayaknya emang enggak bisa," gumam Juwita, tak lagi bisa menahan ringisannya. "Ibu enggak kuat liat kamu begini."
Rara tertegun. "Bu, maksudnya apa—"
"Ibu enggak mau ikut campur. Jangan sampe kamu tersinggung sama Ibu terus milih pergi dari sini karena ngerasa enggak didukung lagi." Juwita meremas bahu wanita itu. "Tapi ngebiarin kamu begini juga enggak bisa."
"...."
"Cerai sama Abimanyu. Pisah baik-baik. Keputusan kamu sekarang salah, Rara."
Rara tampak kosong hingga Juwita dan Nayla sama tegangnya. Mereka selama ini terus diam atas keputusan Rara bukan karena mendukungnya, tapi karena mereka takut jika Rara merasa dipojokkan lalu akhirnya perempuan itu memilih anglat kaki dari kehidupan mereka.
Namun ....
"Aku tau, Bu." Rara tersenyum. "Aku udah tau."
"Kalo gitu tanda tangan surat cerai. Enggak usah berjuang lagi buat Abi. Enggak ada yang perlu dipertahanin dari kalian, Nak. Abi udah punya keputusan sendiri dan mau kamu nunggu seribu tahun, kalau dia enggak mau dia enggak akan pulang. Ibu enggak bilang begini biar kamu sedih. Bukan. Ibu cuma—"
"Aku enggak ngelakuin ini buat Abi lagi, Bu." Rara menepuk punggung tangan Juwita yang meremas bahunya. "Aku cuma mau ngambil sesuatu yang jauh-jauh lebih penting daripada uang yang dia titipin ke Papa. Begitu selesai aku enggak nunggu dia lagi. Urusan aku sama dia juga bakal selesai."
"Tapi, Kak," Nayla tak tahan tidak menimpali, "kalo gitu habis Kakak punya anak, Kakak bakal tanda tangan?"
"Enggak. Aku enggak mau cerai."
"Rara—"
Rara tersenyum. "Aku tau biarpun nanti aku cerai, Ibu sama Papa enggak bakal mulangin aku ke rumah Mama sama Papa, atau nganggep aku orang asing lagi. Tapi anggep aja aku mau egois. Status menantu kalian, aku enggak mau lepasin."
"Kalo gitu sama—"
"Enggak!" Rara tak sadar meninggikan suaranya saat ia tahu apa yang mau Juwita ucapkan. "Aku sama Banyu itu kakak adek. Enggak bakal pernah berubah."
Rara menarik Juwita ke pelukannya, hanya agar dia mendengar detak jantung Rara.
__ADS_1
Jika dia mendengar irama yang baik-baik saja dia, dia tidak akan berpikir Rara bohong kan?
Tekad Abimanyu sudah bulat dan Rara melakukan hal sama. Ia memutuskan akan baik-baik saja jika Abimanyu pergi dari hidupnya.