
Abimanyu tidak berusaha menghindari Rara karena kejadian waktu itu, tapi memang selalu setelah rapat, pekerjaan Abimanyu akan menumpuk. Jangankan mengurus soal Rara, Abimanyu bahkan tidak punya waktu mengurus Sakura yang katanya membuat keributan di rumah.
Masih dengan kebodohan sama, dia menolak bercerai. Karena Abimanyu tidak sebodoh dia, ia mengabaikan segala masalah selain pekerjaan dan fokus mengurus bagiannya.
"Rendi," panggilnya pada pengganti Tomoya karena dia pun sibuk di tempat lain. "Investigasi soal kasus jual-beli organ ini bukannya udah gue minta dari bulan lalu? Kenapa belum masuk laporan ke gue lagi?"
"Udah, Bos, tapi langsung diminta sama Zero. Kayaknya Number langsung yang mau turun tangan ngurusin itu." Rendi justru mengambilkan berkas lain pada Abimanyu. "Gantinya Zero nyuruh lo ngurusin ini."
Abimanyu membuka map itu, menemukan serentetan kasus narkoba pada wanita-wanita di ibu kota hingga kasus jual-beli wanita secara sukarela. Pikiran Abimanyu seketika tertuju pada Sakura. Abimanyu memang tahu Sakura memakai narkoba diam-diam untuk melampiaskan stresnya, tapi sejauh ini Abimanyu tidak pernah peduli lebih lanjut.
Narkoba di lingkungan sosial ibu kota itu seperti wine yang melengkapi pesta. Bukan sesuatu yang luar biasa untuk dipikirkan. Tapi kalau ini jadi kasus dan masuk ke tangan Abimanyu, berarti memang perlu ditangani.
"Bikin daftar korban, pemakai, pengedar, siapa pun yang punya hubungan termasuk sama pemasoknya. Bikin investigasi khusus buat artis-artis. Masukin Sakura daftar pemakai."
"Istri lo, Bos?" Rendi mau tak mau bertanya ragu karena Abimanyu langsung menyebutkan istrinya sebagai salah satu tersangka.
"Minimal dia pake ekstasi." Abimanyu menarik berkas lain. "Kalo lo ada waktu, cari juga bukti-bukti di tempat mana mereka sering pake."
Abimanyu tidak peduli Sakura memakai narkoba atau berpesta. Kalau dia berbuat dia bertanggung jawab. Dan tidak buruk menutup kasus perselingkuhan ini dengan bukti Sakura positif jadi pemakai.
Dengan begitu keributan yang telah dia buat akan sia-sia.
*
Rara cemas dengan Abimanyu yang tak kunjung memberinya kabar. Bukan ia mau tahu pria itu sedang apa, tapi masalahnya perjodohan Rara ternyata omongan yang sangat amat serius bagi Mama dan Papa.
Tepatnya pagi ini ketika Rara ingin keluar, hadir di pertemuan teman-teman sosialnya, mendadak Mama melarang. Lalu katanya, "Kamu di rumah aja, yah. Mama mau kenalin kamu sama anaknya Tante Tia."
Anak dari ipar sepupunya Papa? Itu bukan keluarga dekat tapi bukan juga jauh. Rara lupa siapa itu tapi kalau tidak salah dia bekerja di perusahaan gaming.
"Ma," Rara mau tak mau merasa gelisah, "kok cepet banget? Kalo orang ngomongin aku ngebet nikah karena apa-apa gimana?"
__ADS_1
"Ya enggak dong, Rara. Ini tuh jalan keluar dari Allah. Mama enggak gimana-gimana ngomongnya sama tante kamu. Malah Mama cuma bilang 'Rara kayaknya mau kucariin jodoh' eh tau-tau Tante Tia bilang kebetulan anaknya juga lagi nyari pasangan."
Rara tidak bisa bersyukur atas keadaan ini. "Kok dia mau dijodohin? Emangnya dia enggak punya pacar? Gimana kalau ada masalah, Ma, sama dia makanya enggak punya pacar?"
"Duh, Rara, enggak boleh gitu. Anaknya Tante Tia baik, Mama kenal banget dari kecil."
Rara menghela napas lesu. Gadis itu naik ke kamar untuk mengembalikan tasnya sekaligus berusaha menghubungi Abimanyu.
Dia sudah sepakat untuk saling membantu jadi dia harus membantu Rara keluar dari situasi ini. Rara belum ingin menikah dan secara mental ia merasa belum ingin mencintai siapa-siapa. Kasihan juga pria itu jika dia sendiri berniat serius namun Rara justru hanya main-main dengannya.
Panggilan Rara masih tidak dijawab hingga ia beralih mengirim pesan.
Rara : Kamu sesibuk apa sampe enggak bisa ngangkat telfon saya? Atau kamu udah enggak butuh karena masalah Sakura udah hampir selesai?
"Rara! Tante Tia udah mau dateng! Buruan sini turun!"
Pria sialan ini sebenarnya ada di mana?
*
"Kenapa jadi emosi?" Abimanyu membaca pesan itu dan dapat merasakan kemarahan dari Rara.
Atau rencana Abimanyu membuat dia menaruh hati padanya sudah berhasil? Cepat juga padahal baru beberapa waktu. Apalagi dia malah melihat sisi menyedihkan Abimanyu jadi seharusnya dia agak ilfil.
Yah, apa pun itu mari urus nanti.
Pekerjaan Abimanyu juga bukan sesuatu yang remeh sampai harus ditinggalkan demi selingkuhan.
Abimanyu beralih menelepon Olivia.
"Gimana?" tanyanya on point.
__ADS_1
"Di circle gue belum keliatan ada sih. Tapi gue curiga kayaknya mereka tau gue sama lo temenan so mereka berusaha enggak ngeliatin itu ke gue."
Olivia tidak masuk jajaran publik figur tapi dia adalah wanita yang dikenal di setiap sudut kota. Abimanyu memintanya untuk memberikan informasi tentang peredaran narkoba di klub-klub malam terkenal dan seperti katanya barusan, masih jalan buntu.
"Cari terus."
"Oke." Olivia sempat diam. "Lo masih di markas?"
"Gue enggak bisa kerja di rumah."
Yang ada di rumah mungkin cuma teriakan histeris Sakura jadi Abimanyu tidak bisa pulang.
*
Pada akhirnya Rara harus menghadapi ini sendiri. Entah di mana Abimanyu brengsek itu tapi yang jelas Rara akan memberi perhitungan atas tindakannya ini. Gara-gara dia, Rara kesulitan mengelak dari perjodohan.
"Nah, Rara, ini anaknya Tante Tia, Mahen. Mahen, ini anak kesayangan Tante, Ranaya. Panggilannya Rara."
Mama bukannya menjodohkan Rara tanpa pandang bulu. Pria bernama Mahen itu punya wajah tampan yang manis. Walau tidak sangat tampan, tapi dia punya wajah yang membuat seseorang memilih tidak menolak jika disodorkan.
"Jadi karena berita-berita kemarin yang kurang enak didengar telinga, Rara jadi ikut-ikutan kena masalah." Mama berucap sedih. "Pihak suaminya Sakura pun sudah minta maaf ke kita. Tapi namanya orang tua. Hampir-hampir anak aku dikatain pelakor sama orang-orang. Aku jadi susah tidur mikirin."
"Iya, Mbak, kita paham kok." Tante Tia mengangguk prihatin. "Aku sekeluarga juga udah kenal Rara dari lama. Mana mungkin anak manis begini godain suami orang. Malah kudenger-denger yah, Mbak, katanya si Sakura itu nikah muda sama suaminya. Dari sebelum lulus kuliah. Mungkin mereka bosan satu sama lain makanya bikin ulah begitu."
"Nah itu dia." Mama mengulurkan tangan, mengusap wajah Rara seolah kasihan anaknya mendapat masalah seberat ini. "Kita enggak boleh larut ke masalah orang lain."
Rara hanya tersenyum singkat. Apa wajahnya memang sering terlihat menyedihkan sampai-sampai semua orang terus mengira ia tak mampu berbuat apa-apa?
"Kamu ngobrol-ngobrol dulu sama Mahen, Sayang." Mama pun menepuknya agar segera berdiri. "Kenalan dulu berdua. Takutnya malah canggung kalo di sini."
*
__ADS_1