
Abimanyu melangkahkan kakinya ke dalam ruang VIP klub tempat Olivia berada. Di dalam sana juga sudah ada Samuel yang tampak menikmati tarian erotis dari pool dancer. Bali adalah wilayah kekuasaan Samuel, karena itulah untuk segala aktivitas Abimanyu di sini, Samuel berhak mengawasinya sekaligus ikut campur.
"Wassup, bro?" sapa pria itu saat Abimanyu duduk. "Gue enggak ngirimin kado buat nikahan lo, soalnya lo enggak ngundang gue juga sih. Sori, yah."
Abimanyu mendengkus. Tak menjawab juga karena tidak perlu. Pria itu justru mengisyaratkan wanita seksi yang hendak menuang minuman untuk tidak melakukannya.
"Tumben enggak minum," celetuk Olivia yang menyodorkan gelasnya sebagai ganti. "Ah, takut khilaf sama cewek di sini?"
"Khilaf?" Samuel tertawa mendengar kalimat Olivia. "Nikmatin cewek kok dibilang khilaf. Surga kali, man. Cemen bener."
"Celetukan anak bujang ya begini," cerca Olivia membenturkan gelasnya pada gelas Samuel. "Ngomong-ngomong lo enggak ada niatan nyusul sih, Sam? Cewek Bali kan OP semua. Masa enggak ada cewek layak jadi istri?"
"Kalo bisa seratus cewek ngapain repot-repot satu?" Samuel menyungar rambutnya sombong. "Mubazir kegantengan gue entar."
Abimanyu mengibaskan tangannya untuk mengusir gadis-gadis perayu di ruangan ini. Mereka semua tampak sangat cantik, seksi dan menggiurkan jadi Abimanyu perlu berjaga-jaga. Ia harus ingat kalau istrinya akan memborbardir Abimanyu dengan misil kalau sampai selingkuh.
"Serius lo pesiun main cewek?" Samuel membakar rokoknya sambil bertanya dengan nada tak percaya. "Ato jangan-jangan lo takut digebukin bini lo kalo selingkuh, Bi? Haduh, biji lo meledak apa gimana sih?"
"Khawatir banget lo sama biji gue." Abimanyu membalas tak peduli. "Gue enggak ke sini ngomongin biji. Olivia, undangan Rara dateng jam berapa?"
Olivia melirik jam tangannya. "Sekitar jam setengah satu sih. Toh pestanya mulai jam satu pagi."
"Tapi ngomongin soal pesta," Samuel mengangkat alis, "lo enggak takut lepasin bini lo yang 'tampangnya-kayak-anak-baek-baek' itu ke pesta drugs? Entar salah-salah malah dia yang nge-fly."
Abimanyu lagi-lagi mendengkus. Diraih sebatang rokok milik Samuel di meja dan menyalakannya juga.
"Lo serius ngira gue nikah sama 'cewek baek-baek'?"
Rara memang anak baik-baik tapi dia punya sisi menakutkan yang Abimanyu akui sulit dilawan. Wanita itu pasti akan menjalankan tugasnya dengan baik.
Abimanyu tidak terlalu mudah percaya pada seseorang tapi Rara membuat Abimanyu mudah percaya padanya. Terutama pada hasil dari perbuatannya.
*
Rara sudah mempersiapkan diri baik-baik untuk misinya kali ini. Maka dari itu Rara merasa sangat percaya diri ketika bel kamarnya berbunyi tengah malam dan ia berpura-pura terbangun dengan wajah terganggu.
__ADS_1
"Undangan malam untuk Nyonya Karuna," kata wanita bertopeng kelinci itu. "Dari Klub Gempita."
Klub Gempita. Namanya sangat manis kan? Di siang hari itu dikenal sebagai tempat kumpul-kumpul ibu sosialita bahkan tempat nongkrong para pejabat, tapi tidak ada influencer besar yang tidak tahu itu adalah tempat pesta paling elit di Bali. Rara mengetahuinya secara tidak sengaja dan tentu saja ia belum pernah datang ke sana.
"Terima kasih." Rara menerima undangan itu dan langsung mengganti pakaiannya dengan setelan yang sesuai.
Bak seorang istri frustrasi yang ditinggal suaminya karena sang suami sibuk berselingkuh, Rara pun datang ke klub memakai topeng kupu-kupu. Pakaian hitam seksi yang menonjolkan tubuhnya memberi kesan Rara bukanlah wanita soleha yang peduli tentang Tuhan apalagi hubungan sakral pernikahan.
Rara membaur di pesta itu, duduk di kursi VIP yang biasanya cuma diduduki oleh artis-artis besar. Dan ketika minuman mulai dituangkan, seorang pria datang mendekati Rara.
"Aku enggak berekspektasi penerus Sakura ternyata mau terima undanganku malam ini." Pria itu tersenyum penuh arti. "Apa kabar suami kamu, Rara?"
Rara menyunggingkan senyum sinis. "Sibuk ngedogy sahabatnya, maybe?"
Itu cuma akting tapi entah kenapa Rara jadi kesal sungguhan. Awas saja kalau benar.
"Boys always be boys, Babe. Mereka enggak mungkin puas sama satu perempuan."
Rara mendengkus dingin. "Kamu ngundang saya ke sini karena sesuatu kan? Buruan kasih keluar. Saya enggak mau basa-basi."
"Enggak perlu buru-buru." Pria itu merangkul bahu Rara dan menunjuk ke sebuah arah. "Ada orang yang nungguin kamu dari tadi."
"Waktu saya mahal," ucap Rara sombong. "Kalo urusannya enggak penting, bilang kalo saya enggak ada waktu."
"Kalau begitu lima menit di sini."
Pria itu lantas beranjak, pergi ke arah wanita cantik di sana. Ketika wanita itu berjalan mendekat, Rara bisa melihat perbedaan usia mereka cukup jauh. Wajah wanita itu cantik dan sepertinya punya darah Chinese karena sangat putih, tapi walau awet muda, Rara tetap bisa melihat guratan usianya yang berada di angka sekitaran tiga lima.
Mungkin hampir empat puluh.
Yang membuat Rara ragu adalah wanita itu bukan dari kalangan artis. Dia sepertinya istri pengusaha atau seorang wanita karier.
Siapa wanita ini?
*
__ADS_1
Telinga Rara berdenging. Kepalanya pening dan dunia terasa berputar-putar.
"Isu Abimanyu selingkuh sama mama tirinya itu fakta."
Suara-suara asing memenuhi pendengaran Rara tapi sebenarnya itu cuma berasal dari ingatannya yang kacau.
"Abimanyu punya perasaan lebih ke Juwita, mama tirinya. Karena itu dia nikahin Sakura, bikin kasus perceraiannya jadi besar buat putar-balik fakta."
Rara mengerang kencang.
"Sekarang semua orang percaya kalau Sakura itu cuma penipu gila, perempuan yang terlalu depresi sampai-sampai nuduh suaminya sendiri. Dengan kata lain fakta kalau tuduhannya asli itu enggak bisa lagi dipercaya sama siapa-siapa."
Kepala Rara sangat sakit seiring dari suara itu terus memenuhinya.
"Kamu mungkin cuma korban kedua, Bocah."
Rara ingin muntah.
"Saya tau karena Abimanyu selalu nyebut nama Juwita setiap kali dia naik ke ranjang saya."
Rara berjuang keras mengusir semua itu. Samar-samar matanya yang nyaris memutih kini melihat Abimanyu datang, berlutut di sisinya.
"Ranaya."
Susah payah Rara meraih pakaian Abimanyu. Ada sesuatu yang perlu ia laporkan. Hasil dari usahanya dalam misi tadi.
"Mereka setuju ngirimin barang mereka," ucap Rara susah payah. "Tapi mereka belum mau ngasih tau siapa bos mereka."
Rara masih terus berusaha mengutarakan apa yang ia dapatkan. Informasi penting yang Abimanyu butuhkan.
"Mereka janji bakal jadiin aku tamu VVIP beberapa bulan lagi."
Masih ada hal yang harus Rara sampaikan dan sejujurnya ia mau mengatakan tentang seorang wanita asing memperingatinya untuk tidak terjebak dengan Abimanyu. Tapi belum sempat Rara bicara, Abimanyu lebih dulu berbisik, "Aku enggak nyuruh kamu ngobat."
Rara sangat-sangat pusing. Rasanya seperti dunia berguncang dan debaran jantungnya meningkat pesat.
__ADS_1
Di antara rasa tak nyaman itu, Rara merasa lebih baik ketika lengan hangat Abimanyu membungkus tubuhnya erat-erat.
*