Abimanyu : Pelakor Sewaan

Abimanyu : Pelakor Sewaan
88. Setelah Semuanya Berakhir


__ADS_3

Rara tidak lagi mendengar apa-apa dari atas sana. Entah sudah berapa lama waktu berlalu, namun semua orang sekarang sudah tidur. Rara terbangun dari tidurnya setelah itu, menengok ke semua orang untuk melihat apakah ada yang terbangun sepertinya.


Ternyata tidak. Juwita tidur dikelilingi anak-anaknya yang kecil, sedangkan Nayla dipeluk oleh Lila dan Nia. Di sudut ruangan, Olivia tidur dalam posisi duduk memangku Abirama. Semua orang tampak lelap kecuali ... Rose.


"Hah, hah, hah."


Rara mendekati gadis itu, langsung mengambil kompres di keningnya untuk dicelupkan ke air lagi agar kembali dingin.


"Ugh."


Sepertinya dia sangat menderita. Tampak jelas dari air wajahnya dan keringat dingin di pelipisnya. Baru kali ini Rara bertemu seseorang yang selemah ini.


"Abimanyu." Rose meracau. "Lakukan sesuatu. Aku sakit."


Rara jelas panik. "Kamu butuh apa?"


"Abimanyu."


"Rose, Abimanyu belum turun. Kamu butuh apa? Biar aku yang—"


"Abimanyu."


Sebuah tangan tiba-tiba terulur, meraih tangan Rose bersamaan dengan seseorang duduk di samping Rara.


"Saya di sini," kata Abimanyu.


Rara tertegun. Bukan hanya karena Abimanyu menggenggam tangan Rose, tapi juga karena penampilan Abimanyu. Dia terlihat sangat kacau. Bau terbakar dari tubuhnya pekat tercium, bercampur dengan bau tanah dan besi. Ada luka gores dalam di pipinya yang sama sekali tidak diobati tapi sudah mengering.


"Bi."


"Beban badannya terlalu banyak." Abimanyu bergumam pelan. "Maklumin sebentar kalo dia nangis-nangis dulu."


Rara diam, tapi kemudian mengangguk dan menyaksikan saja.


Seperti kata Abimanyu, tak lama kemudian Rose menangis sambil meringis. Dia terus meracau mengatakan tubuhnya seperti terbakar, sangat sakit sampai-sampai dia merasa ingin mati.


Rara pikir gadis ini punya hati dingin dan mental baja, tapi sepertinya dia juga sama. Pura-pura kuat agar tidak terlihat lemah.


"Maaf." Abimanyu mendadak berucap. "Aku telat mindahin Mama sama Papa kamu."


Bibir Rara langsung bergetar. Kedua matanya terpejam dan rasa sakit tak terbayangkan olehnya sebelum ini serasa menusuk sampai ke ubun-ubun. Tapi Rara teringat ucapan Olivia.


Malam ini ... bukan hanya dirinya yang menderita.


"Ranaya." Abimanyu menoleh padanya. "Aku harusnya enggak masukin kamu ke dunia yang kayak gini."


Rara semakin menggigit bibirnya.


"Kalau kamu benci sama aku sekarang, itu sepenuhnya hak kamu. Kalau kamu minta aku tanggung jawab, aku juga enggak bakal nyalahin kamu. Semuanya salah aku."


"...."


"Dari awal harusnya aku—"


"Udah." Rara tidak sanggup mendengar kelanjutannya lagi. "Udah selesai. Enggak usah kamu terusin."

__ADS_1


"...."


"Yang keras kepala sama kamu itu aku. Enggak semuanya tanggung jawab kamu. Aku juga salah."


Rara merogoh sakunya untuk mengeluarkan benda pemberian Rose tadi. Nama Sakura yang tertera di atas benda itu sudah cukup menjelaskan isinya.


"Mungkin ... ini karma kita, Bi." Rara tersenyum kecut. "Terlepas dari situasi kalian, aku masuk jadi pelakor di hidup kamu sama Sakura. Aku bukan orang suci. Aku jelas punya kesalahan sampe di sini."


"...."


"Kamu udah mau ngelepasin aku tapi yang keras kepala enggak mau lepasin kamu itu aku."


"...."


"Maafin aku."


Abimanyu tidak menyangka Rara akan mengatakan hal semacam itu ketika dia seharusnya menyalahkan segalanya pada Abimanyu. Tapi ketika melihat bagaimana dia berusaha keras menahan air matanya, Abimanyu mau tidak mau tertawa.


"Konyol." Abimanyu tertawa dia menutup matanya dengan satu tangan, agar air matanya tidak terlihat. "Kita ... harusnya milih pilihan lain dulu."


Namun karena itulah perasaan yang mereka rasakan sekarang disebut penyesalan.


Sebuah kesadaran yang baru akan datang setelah tumpukan kesalahan itu berbalik menghantam mereka.


"Kamu mau aku jujur?" Abimanyu berhasil menghentikan air matanya hingga kembali ia menatap Rara. "Jauh di hati aku, ngeliat kamu sabar nungguin ... itu bikin aku seneng."


"...."


"Makasih, Sayang."


Tangisan Rara justru menbuat Rose jadi berhenti menangis dan mulai membuka matanya. Gadis itu menatap Rara dengan sorot mata kesal lalu berdecak. "Aku tidak akan mengembalikan Abimanyu sekalipun kamu menangis jadi diamlah."


Rara tetap menangis dan Abimanyu hanya meminjamkan bahunya untuk itu.


"Badan kamu udah baikan?" tanya Abimanyu padanya.


"Menurutmu aku baik sekarang?" balas Rose sarkas.


"Kayaknya baik."


Di sisi lain, Juwita terbangun mendengar keributan itu.


"Abimanyu?"


Setelah itu Abimanyu mulai menjelaskan bahwa tiga hari telah berlalu dan keributan telah redam meski korban jiwa berjumlah ribuan orang.


*


Dunia digemparkan oleh kekacauan yang terjadi selama tiga hari tersebut. Kematian satu orang yang selama puluhan tahun mengatur segalanya ternyata bisa berdampak separah ini, hingga ribuan nyawa ikut menyertai kematiannya.


Rara ingin naik ke permukaan hari ketika kemacauan berakhir, namun mereka diminta tetap di bawah tanah hingga seminggu setelahnya, memastikan keadaan sudah benar-benar aman.


Saat Rara naik ke atas, ia disambut oleh banyak pekerja kasar tengah membangun pondasi baru disebelah reruntuhan rumah mereka yang hancur sampai tak tersisa pilar. Sampai detik ini Rara masih bertanya-tanya kenapa, namun bahkan jika ia tak mengerti, kenyataannya adalah semua ini terlalu berbahaya untuk bisa ia hadapi.


"Hari yang cerah." Rose mendongak ke langit dan tersenyum santai. "Waktu sempurna untuk memulai."

__ADS_1


Bagaimana bisa dia baik-baik saja setelah semua yang terjadi? Rara bahkan masih menggigil ketakutan saat mendengar kabar bahwa ibunya Rose, lalu bibinya, neneknya dan sepupu-sepupunya semua dibunuh secara brutal.


Rara terpejam. Kembali mengingat video yang beberapa hari lalu ia lihat, isi dari titipan Sakura.


"Hai, *****." Di video itu, Sakura tersenyum sangat lebar seolah-olah dia bisa melihat bagaimana Rara hancur berantakan. "Gue minta Zayn ngasih rekaman ini ke elo suatu saat. Gue enggak tau kapan, tapi Zayn janji bakal ngasih ke lo di hari lo ngeliat neraka beneran."


Sakura tertawa segar.


"Hah, Rara. Gue sakit hati sama lo, tapi setelah gue pikir-pikir, gue jadi pengen berterima kasih. Makasih yah, *****, karena udah repot-repot gantiin gue ngeliat neraka. Gimana rasanya jadi istri Abimanyu? Enak? Pasti enak banget. Gue dukung kalian kok. Semoga langgeng dunia akhirat yah."


Dan di akhir video singkat namun tampak sangat memuaskan itu, Sakura memberinya senyum sangat lebar.


"Itupun ... kalo langgeng sih."


Sakura melambaikan tangannya. "Bye! Jangan cepet-cepet nyusul gue yah. Yang betah sama Abi."


Kedua mata Rara terbuka bersamaan dengan bayangan itu hilang. Jika di neraka seseorang bisa melihat dunia sekarang, mungkin Sakura memang merasa puas atas apa yang terjadi.


Tapi ... larut dalam hal ini pun tidak ada gunanya.


"Princess Tercantik Sedunia Sayangnya Aku!" Suara Banyu mau tak mau mengalihkan perhatian Rara.


Tentu saja dia memanggil Rose dengan sebutan norak itu. "Princess, aku denger kamu sakit. Kamu udah sehat, kan? Perlu kita ke dokter? Atau kamu mau digendong aja? Sini aku gendong. Kasian kamu kalo sakit. Ngomong-ngomong aku baru tau nama kamu Rosella Margareth. Cantik banget nama kamu, Princess, apalagi kalo pake gelar Istrinya Banyu. Udah paling cantik sedunia!"


"Semakin kulihat semakin bodoh kamu, Adiknya Abimanyu," balas Rose malas.


"Hehe, Princess bisa aja. Aku udah nyiapin meja buat kamu di sana tapi aku ada urusan dulu jadi tunggu yah."


Banyu meninggalkan Rose tergesa-gesa dengan harapan dia bisa cepat kembali. Saat melihat Rara menatalnya penuh rasa kasihan, Banyu mengangkat alis.


"Kenapa?"


"Cepet sembuh yah, Dek," kata Rara tulus. "Aku kasian liat kamu."


"Sembarangan! Enggak ada sakit kalo bucinnya sama cewek cakep!" Banyu bangga berujar. Walau sesaat kemudian dia meringis, memegangi rahangnya.


"Kamu kenapa?"


"Luka dikit." Banyu membuka mulutnya, memperlihatkan isi mulutnya hingga Rara tercengang.


Gigi geraham Banyu di sisi kanan seluruhnya tanggal.


"Banyu—"


"Semua orang enggak baik-baik aja, Ra, so bukan gue doang. Yang paling penting buat kita semua, lo, Juwita sama adek-adek yang lain masih di sini." Banyu tersenyum.


Lalu mengedik sebagai sebuah isyarat.


"Ikut gue. Kita ke kuburan bokap sama nyokap lo."


*


hari ini update satu doang yah. cuapek juga author kan, tolong maklumin. ngomong-ngomong setelah ini siap-siap sama cerita anaknya abimanyu yah. anyway ada yang kepo sama cerita Mahesa-Rashi. author sih enggak keberatan buat update, tapi emangnya siap sama kebodohan, ketololan, kemunafikan Rashi? siap sama kebrengsekan Mahesa Mahardika yang sampe mati enggak bakal berubah?


pikir-pikir dulu deh.

__ADS_1


__ADS_2